Catcalling, Budaya Pelecehan yang Mesti Segera Punah

Sabtu, 03 Agustus 2019 - 09:00 WIB
Catcalling, Budaya Pelecehan...
Catcalling adalah pelecehan verbal yang terlalu dianggap biasa, akhirnya menjadi lumrah. Padahal yang namanya pelecehan, tetaplah pelecehan. Foto/yourtango.com
A A A
Istilah catcalling mungkin masih terdengar asing di telinga. Tapi kalau kamu lihat praktiknya, hal tersebut malah sudah dianggap lumrah di Indonesia. Bahkan pelakunya merasa tidak berdosa!

Anindya Restuviani, co-director Hollaback! Jakarta, gerakan yang berfokus mengakhiri pelecehan di ruang publik, mengatakan bahwa catcalling adalah sebuah kekerasan yang dilakukan secara verbal.

“Enggak harus kekerasan seksual. Biasanya bentuknya berupa shouting, bersiul atau pun manggil-manggil di jalan, itu yang disebut catcalling,” jelas Anindya, akrab disapa Vivi.

Karena menggoda di pinggir jalan sudah jadi kebiasaan, sudah jadi budaya, maka akhirnya sering didiamkan. Padahal, jelas-jelas catcalling merupakan sebuah pelecehan.

Vivi menganalogikan catcalling seperti ‘memanggil kucing di jalan’.

“Sebetulnya tidak ada bentuk atau istilah secara eksplisit apa perkataan mereka (pelaku), tapi saat mereka melakukan itu di ruang publik kepada orang asing, maka itu juga disebut catcalling,” tambahnya.

Catcalling, Budaya Pelecehan yang Mesti Segera Punah

Foto:nyunews.com

Dia berpendapat bahwa istilah catcalling tidak memiliki batasan yang pasti. Fenomenanya di Indonesia memang sudah lama terjadi, tapi Vivi berpikir bahwa terminologi itu baru muncul belakangan ini lantaran tidak adanya terjemahan ke dalam bahasa Indonesia secara literal.

Catcalling juga kerap kali dianggap sebagai candaan belaka.

“Saat kita ngomongin kekerasan seksual, maka kunci utamanya adalah korban itu tidak menginginkan. Jadi, kalau si korban merasa itu hanya bercanda dan ia baik-baik saja, memang bisa dibilang itu bukanlah kekerasan, tapi tetap saja dinamakan catcalling,” tandas Vivi.

“Karena catcalling bentuk kekerasan verbal yang dibiasakan, walaupun korban yang di-catcalling ini cuek, tapi tetap yang perlu dilihat lagi adalah dia sadar enggak kalau itu kekerasan verbal?” imbuhnya.

Vivi berspekulasi, bahwa para pelaku pun ada yang tidak paham alasan mereka melakukannya. “Pasti jawabannya, ‘Ya, karena yang lain juga seperti itu’. Jadi, catcalling sudah menjadi budaya. Karena didiamkan dan akhirnya menjadi sebuah budaya,” jelasnya.

Catcalling, Budaya Pelecehan yang Mesti Segera Punah

Foto:youngisthan.in

Pelaku Anggap Biasa

Dugaan Vivi ada benarnya. Seorang pelaku berinisial MFN yang diwawancarai Gen Sindo menganggap bahwa catcalling yang dilakukannya adalah candaan semata. Ia mengatakan bahwa catcalling merupakan hal biasa di lingkungannya.

“Jujur, saya baru tahu istilah catcalling. Saya enggak menganggap itu sebuah pelecehan, kalau saya lihat dari sudut pandang lingkungan saya. Karena catcalling itu bukan hanya sebatas merayu atau menggoda seseorang, tapi punya arti luas. Ini harus diberi tahu secara meluas,” kata MFN.

MFN juga mengakui kalau ia sering ‘bercanda’ semacam itu kepada teman ataupun adik kelasnya.

“Saya cuma memanggil namanya terus senyum, atau memanggil sambil bilang “Sstt… sstt..’ dan lain-lain. Respons mereka enggak ada yang ilfeel atau marah, karena memang saya hanya bercanda, bahkan kadang direspons senyum,” jelasnya lagi.

Catcalling, Budaya Pelecehan yang Mesti Segera Punah

Foto:galoremag.com

Sementara perempuan berinisial MA yang kerap jadi korban catcalling sering merasa kesal dan sedih saat hal itu terjadi.

“Biasanya kejadian di jalan, di pasar, dan di kereta. Meski cuma perkataan, tapi yang namanya pelecehan tetaplah pelecehan!” katanya sambil mengatakan bahwa para pelaku yang melecehkannya biasanya berusia sekitar 20 tahun ke atas.

Saat ditanyai apakah ia pernah melawan balik pelaku, MA menjawab biasanya tidak secara langsung.

“Saya hanya menatap tajam, lalu berlari ke tempat keramaian atau berjalan dengan cepat. Beda lagi kalau kondisinya dia berani menyentuh, saya bakalan melawan!”

Catcalling, Budaya Pelecehan yang Mesti Segera Punah

Foto:chatelaine.com

Semua Bisa Jadi Korban dan Pelaku

Menurut Vivi, tidak ada ciri atau profiling yang jelas untuk para pelaku. Siapa pun bisa menjadi pelaku dan siapa pun juga bisa menjadi korban.

“Kenapa kesannya catcalling ini (identik) dilakukan oleh mas-mas tukang ojek? Ya, karena mereka yang ada di jalan. Padahal, kekerasan seksual yang terjadi, seperti di tempat kerja, itu kebanyakan adalah mereka yang berpendidikan tinggi," ujarnya.

"Jadi, kembali lagi, tidak ada profiling yang pasti dalam pelaku kekerasan seksual,” kata Vivi menegaskan.

Finka Fahryah
Gen Sindo
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(her)
Berita Terkait
Dewi Perssik Kuliah...
Dewi Perssik Kuliah Jurusan Psikologi Pakai Cadar, Identitasnya Terbongkar dari Suara
Dewi Perssik Kuliah...
Dewi Perssik Kuliah Psikologi demi Anak dan Sembuhkan Luka Masa Lalu
Bareskrim Tetapkan Ustad...
Bareskrim Tetapkan Ustad SAM Jadi Tersangka Dugaan Pelecehan
Viral Kasus Pelecehan...
Viral Kasus Pelecehan Seksual di KRL, KAI Sudah Serahkan Pelaku ke Polisi
Diduga Dilecehkan di...
Diduga Dilecehkan di KRL, Korban Berani Rekam dan Teriak Minta Tolong
Mohan Hazian Akui Tuduhan...
Mohan Hazian Akui Tuduhan Pelecehan Seksual dan Mundur dari Thanksinsomnia
Berita Terkini
Kim Ji Yeon dan Park...
Kim Ji Yeon dan Park Seo Ham Adu Akting dalam Drama Fantasi Romantis Baru: Dive Into You
6 jam yang lalu
ADOR Turunkan Gugatan...
ADOR Turunkan Gugatan terhadap Danielle dan Min Hee-jin dari Rp510 Miliar Jadi Rp390 Miliar
2 hari yang lalu
Gold Medalist Berterima...
Gold Medalist Berterima Kasih kepada Penggemar yang Tetap Mendukung Kim Soo-hyun
2 hari yang lalu
Usai Tinggalkan NCT,...
Usai Tinggalkan NCT, Mark Resmi Dirikan Perusahaan Kreatif Upper Room
3 hari yang lalu
Usai Kim Se-ui Ditangkap,...
Usai Kim Se-ui Ditangkap, Kim Soo-hyun Tuntut Garo Sero Institute Ditutup Permanen
4 hari yang lalu
Rekomendasi 6 Drama...
Rekomendasi 6 Drama Korea yang Paling Seru Ditonton Ulang, Bikin Susah Move On
4 hari yang lalu
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved