Laki-Laki Juga Bisa Jadi Korban Catcalling
Sabtu, 03 Agustus 2019 - 09:15 WIB
Catcalling juga bisa menimpa laki-laki, efeknya pun sama dengan yang dialami perempuan, yaitu menimbulkan rasa risih, marah, atau takut. Foto/lovepanky.com
A
A
A
Untuk kamu para laki-laki, pernahkah secara tiba-tiba dipuji atau disapa orang tak dikenal dengan nada berbau seksual di tempat umum? Apakah perlakuan tersebut membuatmu merasa tidak nyaman?
Jika iya, bisa jadi pada saat itu kamu sedang mengalami catcalling.
Kasus catcalling yang sering terjadi mungkin selalu menempatkan perempuan sebagai objek atau korban, dan laki-laki sebagai subjek atau pelaku.
Stereotip gender pada isu ini tak lepas dari kenyataan bahwa catcalling pada laki-laki seolah tertutup oleh isu catcalling pada perempuan yang memang jauh lebih marak terjadi dibanding korban laki-laki.
Meski sampai saat ini budaya patriarki masih kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, tapi bukan berarti ketidakadilan sosial tidak bisa dialami kaum laki-laki.
![Laki-Laki Juga Bisa Jadi Korban Catcalling]()
Foto:kiddnation.com
Berdasarkan Survei Nasional Pelecehan di Ruang Publik yang dilakukan secara kolektif oleh lembaga dan komunitas sosial seperti Lentera Indonesia, Hollaback Jakarta, Change.org Indonesia, _perEMPUan_, dan Jakarta Feminist, menunjukkan bahwa 2.625, atau sekitar 11% dari 23.403 responden laki-laki pernah mengalami pelecehan seksual di ruang publik.
Secara spesifik dijelaskan, dari 2.625 korban pelecehan seksual tersebut, 13% pernah dikomentari bagian atas tubuh, 15% pernah mendapat komentar rasis yang mengarah pada pelecehan seksual, dan 7% pernah mendapat komentar seksual secara terang-terangan. Hal-hal tersebut merupakan bagian dari catcalling.
Andre (nama samaran) termasuk yang pernah mengalaminya. Mahasiswa asal Jakarta ini bahkan mengaku mengalaminya beberapa kali di ruang publik.
Dari semua catcalling yang pernah dia terima, ada satu kejadian yang paling membuatnya risih. Yaitu saat dia sedang lari pagi di sekitar Gelanggang Olahraga Velodrome, Jakarta Timur.
Secara tiba-tiba, Andre disapa oleh sekelompok perempuan yang tidak ia kenal dengan nada genit dan menggoda.
![Laki-Laki Juga Bisa Jadi Korban Catcalling]()
Foto:salon.com
Pada saat itu, Andre merasa sangat risih dan tidak nyaman dengan adanya sapaan-sapaan genit tersebut, tapi dia berusaha cuek aja.
Selain Andre, ada juga seorang mahasiswa lain bernama Aldi (nama samaran) yang pernah mengalami catcalling oleh waria.
“Tiba-tiba dia memuji dengan genit, ‘Masnya ganteng banget, sih!’,” cerita Aldi.
Saat itu, Aldi merasa risih sekaligus takut. Meski begitu, Aldi tak berani melawan. Dia hanya berusaha berjalan lebih cepat demi menghindari pelaku.
Enggak peduli korbannya perempuan atau laki-laki, tetap saja mereka merasa risih, dan kadang juga takut jika terkena catcalling. Jadi, masih yakin kalau catcalling itu hal yang sepele?
Peter Leonaldy
Gen Sindo
Universitas Indonesia
Jika iya, bisa jadi pada saat itu kamu sedang mengalami catcalling.
Kasus catcalling yang sering terjadi mungkin selalu menempatkan perempuan sebagai objek atau korban, dan laki-laki sebagai subjek atau pelaku.
Stereotip gender pada isu ini tak lepas dari kenyataan bahwa catcalling pada laki-laki seolah tertutup oleh isu catcalling pada perempuan yang memang jauh lebih marak terjadi dibanding korban laki-laki.
Meski sampai saat ini budaya patriarki masih kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, tapi bukan berarti ketidakadilan sosial tidak bisa dialami kaum laki-laki.

Foto:kiddnation.com
Berdasarkan Survei Nasional Pelecehan di Ruang Publik yang dilakukan secara kolektif oleh lembaga dan komunitas sosial seperti Lentera Indonesia, Hollaback Jakarta, Change.org Indonesia, _perEMPUan_, dan Jakarta Feminist, menunjukkan bahwa 2.625, atau sekitar 11% dari 23.403 responden laki-laki pernah mengalami pelecehan seksual di ruang publik.
Secara spesifik dijelaskan, dari 2.625 korban pelecehan seksual tersebut, 13% pernah dikomentari bagian atas tubuh, 15% pernah mendapat komentar rasis yang mengarah pada pelecehan seksual, dan 7% pernah mendapat komentar seksual secara terang-terangan. Hal-hal tersebut merupakan bagian dari catcalling.
Andre (nama samaran) termasuk yang pernah mengalaminya. Mahasiswa asal Jakarta ini bahkan mengaku mengalaminya beberapa kali di ruang publik.
Dari semua catcalling yang pernah dia terima, ada satu kejadian yang paling membuatnya risih. Yaitu saat dia sedang lari pagi di sekitar Gelanggang Olahraga Velodrome, Jakarta Timur.
Secara tiba-tiba, Andre disapa oleh sekelompok perempuan yang tidak ia kenal dengan nada genit dan menggoda.

Foto:salon.com
Pada saat itu, Andre merasa sangat risih dan tidak nyaman dengan adanya sapaan-sapaan genit tersebut, tapi dia berusaha cuek aja.
Selain Andre, ada juga seorang mahasiswa lain bernama Aldi (nama samaran) yang pernah mengalami catcalling oleh waria.
“Tiba-tiba dia memuji dengan genit, ‘Masnya ganteng banget, sih!’,” cerita Aldi.
Saat itu, Aldi merasa risih sekaligus takut. Meski begitu, Aldi tak berani melawan. Dia hanya berusaha berjalan lebih cepat demi menghindari pelaku.
Enggak peduli korbannya perempuan atau laki-laki, tetap saja mereka merasa risih, dan kadang juga takut jika terkena catcalling. Jadi, masih yakin kalau catcalling itu hal yang sepele?
Peter Leonaldy
Gen Sindo
Universitas Indonesia
(her)