Sering Lembur Tingkatkan Risiko Terkena Penyakit Jantung

Senin, 24 Juli 2017 - 05:30 WIB
Sering Lembur Tingkatkan...
Sering Lembur Tingkatkan Risiko Terkena Penyakit Jantung
A A A
JAKARTA - Peneliti kembali menemukan fakta bahaya bekerja lembur. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, bahwa pekerja yang sering lembur atau bekerja lebih dari 55 jam seminggu berisiko mengalami atrial fibrillation, detak jantung tidak teratur yang berkaitan dengan stroke dan masalah jantung lainnya, dibandingkan pekerja yang hanya bekerja 40 jam atau kurang dalam seminggu.

Dilansir dari Time, penelitian ini menggabungkan data dari delapan penelitian sebelumnya yang melibatkan lebih dari 85 ribu responden pria dan wanita dari Inggris, Denmark, Swedia dan Finlandia. Saat penelitian berlangsung tidak ada responden yang mengalami fibrillation.

Namun hanya dalam jangka 10 tahun kemudian, sebanyak 1.061 responden mengalami fibrillation. Angka tersebut sama seperti 12,4 kasus fibrillation per 1.000 orang dalam penelitian. Namun, responden yang bekerja 55 jam dalam seminggu atau lebih, mengalami peningkatan hingga 17,6 per 1000 kasus.

Artinya, responden yang bekerja lembur memiliki risiko fibrillation sebesar 40% dibandingkan mereka yang hanya bekerja 35—40 jam seminggu. Setelah disesuaikan dengan faktor usia, jenis kelamin, obesitas, status sosial ekonomi, status merokok, konsumsi alkohol dan aktivitas fisik di waktu senggang pun ditemukan hasil yang sama.

Fakta lainnya adalah 90% kondisi ini dialami oleh mereka yang belum pernah mengalami gangguan kardiovaskular. Dengan demikian, waktu bekerja yang berlebihan bisa menyebakan fibrillation. Para peneiti pun menyimpulkan bahwa risiko fibrillation pada mereka yang lembur, relatif ringan. Namun, mereka yang sudah memiliki faktor risiko seperti usia tua, pria, diabetes dan merokok, risiko tambahan bisa menjadi penting.

Kendati demikian peneliti tidak bisa memastikan berapa lama waktu kerja yang bisa memicu penyakit ini. Peneliti menduga jika stres dan kelelahan menjadi salah satu faktor terbesar, sehingga membuat kardiovaskular dan sistem saraf otonomik lebih rentan mengalami abnormalitas.
(alv)
Berita Terkait
Solusi Deteksi Dini...
Solusi Deteksi Dini Penyakit Stroke dengan Aplikasi Jagatara
Antusias Warga Sambut...
Antusias Warga Sambut Deteksi Dini Kesehatan Jantung Gratis
Alat Pacu Jantung Terkecil...
Alat Pacu Jantung Terkecil di Dunia Seukuran Sebutir Beras Diperkenalkan
Resmi Dibuka, Heartology...
Resmi Dibuka, Heartology Hadirkan Terobosan untuk Penanganan Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Institut Jantung Negara,...
Institut Jantung Negara, Harapan Tanpa Batas untuk Pasien Jantung Indonesia
Meningkatkan Kerja Jantung...
Meningkatkan Kerja Jantung Pada Level Gagal Jantung
Berita Terkini
Sinopsis The Fallen...
Sinopsis The Fallen Fighter Returns, Kisah Petinju yang Bangkit Setelah Dikhianati
24 menit yang lalu
Rupiah Tembus Rp18.000...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar, Baskara Putra Mengeluh Harga Alat Musik Naik
1 jam yang lalu
Sarwendah Hapus Sejumlah...
Sarwendah Hapus Sejumlah Brand dari Bio Instagram, Ada Apa?
2 jam yang lalu
Nina Zatulini dan Natasha...
Nina Zatulini dan Natasha Rizky Belajar Bahasa Inggris di Usia 30-an, Netizen Salut
4 jam yang lalu
Cinta Laura Dukung Kegiatan...
Cinta Laura Dukung Kegiatan CFD Jadi Ajang Gen Z dan Gen Alpha Bersosialisasi
5 jam yang lalu
Stop Pakai Sarung Tangan...
Stop Pakai Sarung Tangan Plastik Saat Makan, Ini Bahayanya bagi Kesehatan!
6 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved