Makan Cepat Bisa Menyebabkan Tubuh Jadi Tambah Gemuk

Rabu, 24 Januari 2018 - 18:54 WIB
Makan Cepat Bisa Menyebabkan...
Makan Cepat Bisa Menyebabkan Tubuh Jadi Tambah Gemuk
A A A
JAKARTA -
Makan secara perlahan bisa membuat seorang tidak gemuk atau mengalami sindrom metabolik. Hal tersebut seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ahli.

Sebaliknya, makan dengan cepat bisa menyebabkan fluktuasi gula darah yang dapat menyebabkan resistensi insulin. Sindrom metabolik adalah kombinasi dari kelainan yang melipatgandakan risiko seseorang terkena penyakit jantung, diabetes dan stroke.

Diberitakan Independent, dalam sebuah presentasi pada American Scientific Sessions, makan lebih lambat bisa menjadi kunci untuk menjaga kesehatan dan tubuh Anda tetap terkendali.

Sebuah tim dari Universitas Hiroshima di Jepang mengevaluasi terhadap 642 laki-laki dan 441 perempuan dengan usia rata-rata 51,2 tahun, yang tidak memiliki sindrom metabolik. Uji coba tersebut dilakukan pada 2008 silam.

Para peserta dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan bagaimana mereka menggambarkan kecepatan makan mereka yang biasa. Ketiga kategori itu adalah lambat, normal atau cepat. Lima tahun kemudian, para peneliti menilai ulang partisipan.

Mereka menemukan bahwa pemakan cepat lebih mungkin (11,6%) telah mengembangkan sindrom metabolik daripada pemakan normal (6,5%) dan pemakan lambat (2,3%).

Makan cepat juga dikaitkan dengan penambahan berat badan lebih banyak, lingkar pinggang lebih besar dan glukosa darah yang lebih tinggi.

Meluangkan waktu untuk secara sadar mengunyah makanan dan makan dengan pelan memungkinkan otak Anda menerima sinyal kepenuhan, jadi Anda cenderung berhenti makan lebih awal.

"Makan lebih lambat mungkin merupakan perubahan gaya hidup yang penting untuk membantu mencegah sindrom metabolik," kata Takayuki Yamaji, salah satu ahli jantung di Universitas Hiroshima Jepang.

"Saat orang makan cepat mereka cenderung tidak merasa kenyang dan lebih cenderung makan berlebihan. Makan cepat menyebabkan fluktuasi glukosa yang lebih besar, yang dapat menyebabkan resistensi insulin. Kami juga percaya penelitian kami akan berlaku untuk populasi AS," lanjut dia.
(alv)
Berita Terkait
Meningkatkan Akses Layanan...
Meningkatkan Akses Layanan Konseling Keluarga Jakarta melalui Mobil SAPA
Langgar Protokol Kesehatan,...
Langgar Protokol Kesehatan, Angkutan Umum Akan Ditindak Tegas
Transportasi Umum Harus...
Transportasi Umum Harus Higienis dan Terapkan Protokol Kesehatan
Kuliah Umum UMJ Bahas...
Kuliah Umum UMJ Bahas Pentingnya Transformasi Sistem Kesehatan Nasional
Libur Panjang, DKI Perketat...
Libur Panjang, DKI Perketat Pengawasan Prokotol Kesehatan di Tempat Umum
Unpad Jadi Kampus Terbaik...
Unpad Jadi Kampus Terbaik Hasilkan Artikel Ilmiah Umum dan Kesehatan
Berita Terkini
Ruben Onsu Gugat Hak...
Ruben Onsu Gugat Hak Asuh Anak, Pertemuan dengan Sarwendah Dipastikan Batal
29 menit yang lalu
Ruben Onsu Gugat Hak...
Ruben Onsu Gugat Hak Asuh Tiga Anak, Nama Betrand Peto Ikut Dicantumkan
1 jam yang lalu
Lisa Mariana Diduga...
Lisa Mariana Diduga Tipu Klien Endorsement, Korban Mengaku Rugi Ratusan Juta
1 jam yang lalu
Ruben Onsu Bikin Pangling...
Ruben Onsu Bikin Pangling dengan Tampil Brewok Sepulang Umrah
2 jam yang lalu
The Journey Of Pursuing...
The Journey Of Pursuing Love, Drama Pendek China V+Short Tentang Balas Dendam
2 jam yang lalu
Sarah Gibson Resmi Berpisah...
Sarah Gibson Resmi Berpisah dari Diska Resha, Tetap Sepakat Co-Parenting
6 jam yang lalu
Infografis
Makan Daging Kambing...
Makan Daging Kambing Menyebabkan Darah Tinggi, Mitos Atau Fakta?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved