Keluhan yang Dialami Lansia

Kamis, 19 April 2018 - 12:05 WIB
Keluhan yang Dialami...
Keluhan yang Dialami Lansia
A A A
JAKARTA - Usia harapan hidup di Tanah Air meningkat. Masalahnya, segenap penyakit turut mendampingi para lansia pada pengujung hidupnya.

Belum lagi, sindrom geriatri semakin menurunkan kualitas hidup. Merujuk pada data BPS RI 2015, ada sekitar 21 juta (8,2% jumlah penduduk) lansia di Indonesia. Diperkirakan pada 2030 jumlah ini meningkat menjadi 38 juta (13,2% jumlah penduduk).

Usia lanjut adalah mereka yang berumur di atas 60 tahun dengan ciri gangguan nutrisi, gangguan status fungsional (fisik maupun mental), multipatologi (penyakit majemuk), tampilan klinis tidak khas, fungsi organ menurun, dan polifarmasi (pengobatan yang berlebihan dibanding yang diindikasikan secara medis).

“Yang dimaksud status fungsional adalah kemampuan seseorang melakukan aktivitas kehidupan dasar sehari-hari yang seharusnya bisa dilakukan secara mandiri. Ini mewakili gambaran kondisi kesehatan secara umum,” ungkap dr Asril Bahar SpPD KP KGer dari Rumah Sakit Tebet.

Beberapa penyakit yang mengiringi lansia di antaranya arthritis (radang sendi) yang sekaligus menjadi keluhan tertinggi, menyusul hipertensi dan gangguan kardiovaskular, bronkitis, diabetes. Adapun stroke berada di peringkat keenam, disusul TBC, patah tulang, dan kanker.

Dr Asril mengatakan, lansia umumnya mengalami sindrom geriatri atau dikenal dengan 14 I, yaitu imobilisasi yang diakibatkan ulkus dekubitus (kerusakan kulit yang terjadi akibat kekurangan aliran darah dan iritasi pada kulit yang menutupi tulang yang menonjol, di mana kulit tersebut mendapatkan tekanan dari tempat tidur, kursi roda, gips, atau benda keras lainnya dalam jangka lama).

Sindrom geriatri lainnya adalah pneumonia, inkontinensia urine (mengompol), impaction (sembelit), instability ( jatuhpatah tulang), intelektual impairment (gangguan intelektual/demensia), insomnia (gangguan tidur), impairment (penurunan fungsi penglihatan, pendengaran, penciuman), imunedeficiency (penurunan daya tahan tubuh), dan infeksi.

Para lansia juga sering mengalami iisolation (terisolasi dari lingkungan), inanition (malnutrisi), impotence, iatrogenic (penyakit akibat kesalahan diagnosis), dan impecunity (kemiskinan).

Sementara, kognitif geriatri yang sering terganggu meliputi memori segera dan jangka pendek, persepsi, proses pikir, dan fungsi eksekutif. Gangguan kognitif ini bisa berupa ringan dan berat. Jika berat, pasien mengalami demensia dengan derajat mulai ringan hingga berat.

Pengobatan Harus Menyeluruh
“Diperlukan pengkajian paripurna pasien geriatri. Artinya, pengobatan bersifat holistik, pendekatan interdisiplin, bio-psikososial, kuratif, rehabilitatif, promotif, preventif dan lainnya. Pendekatannya harus secara interdisiplin dengan tim terpadu,” urai dr Asril.

Tim terpadu ini meliputi internis geriatri, rehabilitasi medik geriatri, psikogeriatri, perawat geriatri, ahli gizi, konsultan terkait seperti neurologi, ortopedi, mata, THT, urologi, kulit, gigi dan lainnya. Sedangkan untuk fasilitas geriatri meliputi poliklinik geriatri, ruang rawat akut geriatri, ruang rehabilitasi, day hospital, nursing home, dan fasilitas home care .

Menyinggung soal keluhan beser pada lansia, dr Asril mengatakan, bagi mereka yang sudah mengalami masalah beser , jangan pernah menahan keinginan buang air kecil. Bahkan, pada kondisi tertentu, jika sudah merasa ingin berkemih segera lakukan.

“Yang juga harus diperhatikan adalah jumlah asupan air putih per harinya. Untuk mereka yang berusia 60 tahun ke atas, jumlah konsumsi air per harinya hanya 1,5 liter. Itu sudah sangat cukup, mengingat kantung kemihnya sudah kecil,” bebernya. Pada kesempatan lain, Prof Dr dr Siti Setiati SpPDKGer Mepid mengatakan, tetap sehat dan produktif di usia lanjut bukanlah suatu hal yang sulit.

Dengan penerapan gaya hidup sehat, tentu lansia bisa mendapatkan hidup yang berkualitas. Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan para lansia sesuai anjuran dr Siti.

Di antaranya, memperbanyak makanan yang mengandung protein yang sumbernya berasal dari ikan dan telur ayam. Hal itu karena protein diperlukan untuk kebutuhan massa otot dan kekuatan otot, bukan hanya pada otot rangka, melainkan juga pada otot jantung dan lainnya. “Keduanya sangat penting karena massa otot dan kekuatan otot sangat diperlukan lansia agar tetap beraktivitas aktif dan mandiri,” ucap dr Siti. (Sri Noviarni)
(nfl)
Berita Terkait
Pak Wali Kota Bandung...
Pak Wali Kota Bandung Monitor! Ini Ada 40 Ribu Lansia Butuh Perhatian
Jumlah Lansia Meningkat...
Jumlah Lansia Meningkat Pesat, Peneliti Cari Cara Agar Mereka Bisa Menua dengan Sehat
Hari Lansia Sedunia,...
Hari Lansia Sedunia, Kemenkominfo Ajak Masyarakat Tingkatkan Kepedulian
Peradaban Kota Ramah...
Peradaban Kota Ramah Lansia
Cegah COVID-19 Para...
Cegah COVID-19 Para Lansia Diberi Pulse Oximeter, Apa Itu?
19 Persen Lansia di...
19 Persen Lansia di Tangerang Sudah Disuntik Vaksin Covid-19
Berita Terkini
Pendakian Gunung Meningkat,...
Pendakian Gunung Meningkat, Menhut Siapkan Pengaturan untuk Cegah Kecelakaan dan Sampah
2 jam yang lalu
Clara Shinta Tegaskan...
Clara Shinta Tegaskan Tak Punya Catatan Kriminal, SKCK Jadi Bukti di Tengah Polemik
3 jam yang lalu
Latihan Kaki Tak Hanya...
Latihan Kaki Tak Hanya Bakar Kalori, Ternyata Penting untuk Keseimbangan Hormon
3 jam yang lalu
Rencanakan Liburan dengan...
Rencanakan Liburan dengan Lebih Fleksibel Melalui Paylater
3 jam yang lalu
Sinopsis Terikat Janji...
Sinopsis 'Terikat Janji' 4 Juni 2026: Identitas Aslinya Runtuh, Sena Rela Pikul Kesalahan Sendiri demi Lindungi Davina
6 jam yang lalu
ARMY Siap-Siap! Tiket...
ARMY Siap-Siap! Tiket Konser Comeback BTS di Jakarta Mulai Dijual Juni Ini
7 jam yang lalu
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved