Jangan Sepelekan Gejala Nyeri Wajah, Segera Diatasi

Jum'at, 12 Oktober 2018 - 09:04 WIB
Jangan Sepelekan Gejala...
Jangan Sepelekan Gejala Nyeri Wajah, Segera Diatasi
A A A
TRIGEMINAL neuralgia merupakan nyeri kronik di wajah yang amat menyiksa. Radiofrekuensi salah satu alternatif pengobatan yang aman serta terjangkau dengan angka keberhasilan yang cukup tinggi.

Tak kurang dari 15 tahun Widyaningsih menderita nyeri hebat di wajah. Dia sudah pergi ke beberapa dokter, namun tidak membuahkan hasil. Salah satunya ke dokter gigi. Kebanyakan dokter yang dikunjungi meresepkan obat nyeri semata.

Serupa dengan Widyaningsih, Heru merasakan nyeri di wajah selama dua bulan terakhir. “Sangat sakit sampai saya nangis , sekali serangan bisa semenit. Sehari bisa 20-30 serangan. Saya sampai enggak bisa ngomong dan makan bubur dengan sedotan,” beber Heru.

Apa yang keduanya alami adalah trigeminal neuralgia yang merupakan kondisi medis di mana terjadi nyeri yang bersifat kronik (lebih dari 3 bulan) yang bersumber dari gangguan pada saraf trigeminal sehingga menyebabkan sensasi rasa nyeri di bagian wajah.

Stimulasi kecil di wajah seperti sentuhan, tersenyum atau aktivitas menyikat gigi maupun bersolek di wajah akan mencetuskan rasa sakit yang luar biasa. Sayangnya, untuk menegakkan diagnosis tidak mudah.

Dokter hanya mengandalkan dari hasil anamnesis pasien. Di MRI, kadang tidak kelihatan, rontgen dan hasil darah juga tidak menunjukkan apa-apa. “Makanya nyeri itu sering disangka sakit gigi sampai giginya sudah dicabut banyak tetap masih nyeri.

Akhirnya setelah bertahun-tahun baru ketahuan kalau pasien menderita trigeminal neuralgia seperti pengalaman Ibu Widyaningsih,” kata dr Mahdian Nur Nasution SpBS, pakar nyeri dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Jakarta.

Saking nyerinya, jika pasien diminta menyebutkan skor rasa nyeri dari 1-10, mereka menyebutkan skornya sudah mencapai 10. Maka tidak heran jika akhirnya pasien menderita depresi akibat nyeri yang hebat dan banyak yang memilih bunuh diri.

Dari kepustakaan yang ada disebutkan bahwa nyeri trigeminal neuralgia Iebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria, dengan risiko meningkat pada mereka usia lanjut di atas 50 tahun.

Prevalensi penderita memang rendah, yaitu 5-6 dari 100 ribu orang. Risiko meningkat dengan adanya hipertensi dan multiple sclerosis . “Kalau sudah menderita penyakit ini, diharapkan pasien tidak mudah panik atau stres sebab akan semakin memperburuk kondisi penyakitnya,” saran dr Mahdian.

Ia menganjurkan pasien untuk pintar mengelola jadwal agar tidak dikejar deadline karena akan membuat pasien menjadi panik, serta hindari olahraga terlalu berat. Penyakit ini bisa terjadi akibat proses penuaan, atau dapat dikaitkan dengan sklerosis multipel atau penyakit sejenis yang menyebabkan kerusakan selubung mielin yang berfungsi melindungi saraf.

Dikatakan dr Heri Aminuddin SpBS(K), spesialis bedah saraf Brain and Spine Bunda Neuro Center Jakarta, trigeminal neuralgia juga dapat terjadi akibat penekanan tumor di saraf trigeminal.

“Tidak menutup kemungkinan trigeminal neuralgia terjadi akibat adanya lesi di otak atau beberapa kondisi kesehatan yang meliputi luka bedah dan stroke,” paparnya.

Terapi Minimal Invansif

Terapi trigeminal neuralgia umumnya dimulai dengan pemberian obat-obatan. Namun, pada sebagian orang, terapi ini tidak memberikan hasil yang baik, atau disertai efek samping yang tidak menyenangkan pada pasien.

Pada kelompok tersebut, terapi injeksi atau operasi bisa menjadi pilihan selanjutnya. Masalahnya, kebanyakan pasien tidak ingin dioperasi. Oleh karenanya, tindakan minimal invansif menjadi pilihan.

Seperti yang ditawarkan Percutaneous Radiofrequency Trigeminal Ganglioysis (PRTG). Tindakan ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya: risiko komplikasi rendah, efektivitas hingga 80%, tanpa harus rawat inap, dapat dilakukan pada semua tipe trigeminal neuralgia, baik yang sudah gagal dengan obat-obatan maupun pada kasus yang baru didiagnosis dokter.

Dr Jhon M Tew FACS dari Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Cincinnati, Ohio, menyebutkan sudah banyak dokter-dokter di dunia yang menggunakan teknologi ini dan diaplikasikan pada ribuan pasien, dengan hasil yang memuaskan dan efektif serta aman bagi pasien.

“Bahkan, teknik ini memiliki angka keberhasilan dalam mengurangi rasa sakit yang jauh lebih baik dibandingkan dengan teknik radiosurgical atau pembedahan lainnya,” pungkas dr Mahdian.
(don)
Berita Terkait
PERMINESIA Dorong Edukasi...
PERMINESIA Dorong Edukasi Kesehatan Tubuh dan Hormonal bagi Perempuan Menopause
Generali Health Cities...
Generali Health Cities di 17 Kota Demi Kesehatan Masyarakat
Mutu Fasilitas Kesehatan...
Mutu Fasilitas Kesehatan Menentukan Kesehatan Masyarakat
Optimalisasi Kesehatan...
Optimalisasi Kesehatan Pencernaan Anak untuk Kesehatan Holistik
Vaksinasi Tenaga Kesehatan...
Vaksinasi Tenaga Kesehatan Lansia
Idap Gangguan Kesehatan...
Idap Gangguan Kesehatan akibat Banjir, Para Lansia Serbu Layanan Kesehatan Gratis
Berita Terkini
Dari Iran ke Indonesia,...
Dari Iran ke Indonesia, Pesepeda Arezoo Tampil Memukau Lewat Sentuhan Ade Fitri Kirana
2 jam yang lalu
Nonton Gratis hingga...
Nonton Gratis hingga VIP, Ini Beragam Cara Menikmati Microdrama di V+Short
3 jam yang lalu
Ruben Onsu Tak Lagi...
Ruben Onsu Tak Lagi Harapkan Permintaan Maaf Sarwendah, Hanya Ingin Bertemu Anak
3 jam yang lalu
Liburan Mewah Tanpa...
Liburan Mewah Tanpa Menguras Anggaran: Hotel Bintang 4 dan 5 Mulai Rp300.000
4 jam yang lalu
Potret Alyssa Daguise...
Potret Alyssa Daguise dan Baby Soleil Jadi Sorotan, Perhiasan yang Dipakai Tembus Rp1,2 Miliar
4 jam yang lalu
Pembuktian Irish Bella...
Pembuktian Irish Bella jadi Produser di Film Horor Dosa, Tayang 11 Juni
4 jam yang lalu
Infografis
Arkeolog Temukan Wajah...
Arkeolog Temukan Wajah Asli Pribumi Eropa Barat dari dalam Gua
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved