Alami Peningkatan, Film Indonesia Masih Belum Mampu Bendung Film Asing
Sabtu, 30 Maret 2019 - 07:37 WIB
Alami Peningkatan, Film Indonesia Masih Belum Mampu Bendung Film Asing
A
A
A
JAKARTA - Kegagalan film-film karya sineas lokal untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri menjadi perbincangan hangat dalam seminar "Film Indonesia Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri dan Tamu Mulia di Luar Negeri" yang digelar Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Forum Wartawan Hiburan (Forwan) di Jakarta, Kamis (28/3).
Apabila melihat jumlah penonton dan produksinya, film karya dalam negeri mengalami peningkatan sejak beberapa tahun terakhir. Tren positif itu terlihat dari peningkatan jumlah penonton yang mencapai 52 juta penonton pada tahun lalu. Namun sayangnya, film karya sineas Indonesia masih belum mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Menurut pengamat film Yan Wijaya, film Indonesia belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena masih ada dominasi film asing yang kuat. "Pada periode tahun 2018 saja, film asing khususnya dari Hollywood dan India masih menguasai pasar film Indonesia," ujar Yan Wijaya.
Mantan wartawan Majalah Film ini menambahkan, secara bisnis film asing masih jauh lebih menguntungkan. "Dengan raihan penonton film Dilan yang mencapai angka 5 juta kita sudah bangga, padahal secara penghasilan dengan jumlah penonton yang sama film Marvel penghasilannya lebih besar ketimbang dengan Dilan," papar Yan.
Dalam kesempatan yang sama, pengusaha bioskop Djohny Syafruddin berharap pemerintah segera menyeragamkan angka pajak tontonan hingga sepuluh persen. "Kalau ingin bioskop bisa tumbuh di daerah-daerah sebagai basis penonton film Indonesia, pemerintah harus menurunkan pajak tontonan hingga sepuluh persen dan harus berlaku di seluruh Indonesia," ungkap Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia itu.
Selain pajak tontonan yang masih tinggi, Djohny juga menyoroti tingginya tarif dasar listrik untuk bioskop yang disamakan dengan tarif dasar listrik industri besar. "Mestinya pemerintah juga memberlakukan tarif khusus untuk bioskop, karena tarif yang ada sekarang masih terlalu tinggi," keluh Djohny.
Dia juga berharap ada regulasi yang mendukung pengusaha bioskop lokal di tengah menjamurnya bioskop-bioskop asing agar usaha mereka bisa terus berjalan sehingga makin memberikan ruang bagi pengusaha bioskop lokal untuk terus berkembang dan tetap ada. "Apabila ada bioskop lokal jangan ada bioskop asing karena akan mematikan bisnis tersebut contoh di Purwokerto, Tegal dan daerah lain yang ada bioskop lokal perlahan pengusahanya gulung tikar," terangnya.
Dalam seminar juga diungkapkan bahwa tema cerita film saat ini semakin berkembang yang membuat penonton memiliki pilihan yang cocok untuk dirinya. "Film Dilan baik 1990 dan 1991 adalah bukti bahwa film yang memiliki latar belakang cerita yang baik akan mendapat penonton yang banyak. Saya akan terus buat film dengan cerita yang baik dari penulis yang baik pula. Karena itu syarat utama film," kata Produser Maxi Pictures, Ody Mulya.
Apabila melihat jumlah penonton dan produksinya, film karya dalam negeri mengalami peningkatan sejak beberapa tahun terakhir. Tren positif itu terlihat dari peningkatan jumlah penonton yang mencapai 52 juta penonton pada tahun lalu. Namun sayangnya, film karya sineas Indonesia masih belum mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Menurut pengamat film Yan Wijaya, film Indonesia belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena masih ada dominasi film asing yang kuat. "Pada periode tahun 2018 saja, film asing khususnya dari Hollywood dan India masih menguasai pasar film Indonesia," ujar Yan Wijaya.
Mantan wartawan Majalah Film ini menambahkan, secara bisnis film asing masih jauh lebih menguntungkan. "Dengan raihan penonton film Dilan yang mencapai angka 5 juta kita sudah bangga, padahal secara penghasilan dengan jumlah penonton yang sama film Marvel penghasilannya lebih besar ketimbang dengan Dilan," papar Yan.
Dalam kesempatan yang sama, pengusaha bioskop Djohny Syafruddin berharap pemerintah segera menyeragamkan angka pajak tontonan hingga sepuluh persen. "Kalau ingin bioskop bisa tumbuh di daerah-daerah sebagai basis penonton film Indonesia, pemerintah harus menurunkan pajak tontonan hingga sepuluh persen dan harus berlaku di seluruh Indonesia," ungkap Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia itu.
Selain pajak tontonan yang masih tinggi, Djohny juga menyoroti tingginya tarif dasar listrik untuk bioskop yang disamakan dengan tarif dasar listrik industri besar. "Mestinya pemerintah juga memberlakukan tarif khusus untuk bioskop, karena tarif yang ada sekarang masih terlalu tinggi," keluh Djohny.
Dia juga berharap ada regulasi yang mendukung pengusaha bioskop lokal di tengah menjamurnya bioskop-bioskop asing agar usaha mereka bisa terus berjalan sehingga makin memberikan ruang bagi pengusaha bioskop lokal untuk terus berkembang dan tetap ada. "Apabila ada bioskop lokal jangan ada bioskop asing karena akan mematikan bisnis tersebut contoh di Purwokerto, Tegal dan daerah lain yang ada bioskop lokal perlahan pengusahanya gulung tikar," terangnya.
Dalam seminar juga diungkapkan bahwa tema cerita film saat ini semakin berkembang yang membuat penonton memiliki pilihan yang cocok untuk dirinya. "Film Dilan baik 1990 dan 1991 adalah bukti bahwa film yang memiliki latar belakang cerita yang baik akan mendapat penonton yang banyak. Saya akan terus buat film dengan cerita yang baik dari penulis yang baik pula. Karena itu syarat utama film," kata Produser Maxi Pictures, Ody Mulya.
(nug)