Kemampuan Indera Penciuman Menurun, Indikator Penuaan Otak

Jum'at, 26 Juli 2019 - 08:36 WIB
Kemampuan Indera Penciuman...
Kemampuan Indera Penciuman Menurun, Indikator Penuaan Otak
A A A
Di samping sebagai organ pernapasan, indera penciuman ternyata juga merupakan indikator dari gejala awal proses penuaan di otak sekaligus menjadi faktor risiko demensia. Bayangkan Anda melakukan tes indera penciuman dengan menggunakan 10 bau yang biasa ditemukan di Indonesia. Anda hanya dibolehkan mencium bau dua kali, masing-masing selama lima menit sebelum menjawab.

Mampukah Anda menebak dengan tepat? Meski menggunakan 10 aroma yang familiar yaitu minyak cajuput, kopi, melati, mentol, tembakau, minyak tanah, pandan, kapur barus, coklat, dan jeruk, bisa jadi Anda gagal menebak seluruh aroma yang ada. Penelitian ini menunjukkan, kalau kemampuan indera penciuman berkurang maka diprediksi 80% seorang lansia juga dapat mengalami kemunduran ingatan dan kognitif lainnya.

“Bila pasien tidak mampu mengidentifikasi jenis aroma (padahal tidak sedang ‘pilek’ atau ada gangguan hidung lain), maka kemungkinan besar prediktor prademensia," ungkap Dekan Fakultas Kedokteran dan kesehatan UNIKA Atma Jaya, Dr. dr. Yuda Turana, SpS dalam acara Peluncuran Paviliun Bonaventure RS Atma Jaya di Pluit, Jakarta Utara.

Berdasarkan Penelitian Enhancing Diagnostic Accuracy of aMCI in the Elderly : Combination of Olfactory Test, Pupillary Response Test, BDNF Plasma Level and APOE Genotype, 2014 yang dilakukan di Fakultas kedokteran Atma Jaya dan telah dimuat pada International Journal of Alzheimer Disease 2016, menunjukkan skor yang rendah pada pemeriksaan saraf penciuman menjadi prediktor prademensia.

Dari penelitian diketahui bahwa gangguan saraf penciuman yang tidak disadari, dapat merupakan tanda awal proses penuaan di otak dan menjadi faktor risiko demensia. Selain itu, jika seorang lansia mengalami kemunduran indera penciuman dan diikuti dengan respons pupil mata yang hipersensitif, maka kedua pemeriksaan ini mampu memprediksi 90% kemunduran kognitif pada lansia.

Seperti diketahui bahwa neurotransmiter yang mengatur “pupil” mata ternyata sama dengan neurotransmiter yang mengatur kognitif (yaitu neurotransmiter asetilkolin). Jadinya pada seseorang yang mengarah ke demensia alzheimer, akan mengalami kemunduran pula pada respons cahaya di matanya.

Menyikapi hal ini, dr. Yuda menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat sejak muda. "Pola hidup sehat sejak masa muda, tentukan kesehatan otak di masa tua. Semua investasi yang sudah mulai Anda lakukan sekarang sangat bergantung pada satu hal yang utama yaitu ketangkasan intelektual Anda. Investasi otak adalah bagaimana tetap menjaga otak Anda tetap sehat dan produktif," terangnya.

Untuk memastikan kondisi kesehatan otak perlu dilakukan pemeriksaan, terutama untuk individu yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan kerusakan otak pada saat lansia.

“Dalam konteks proses penuaan di otak, setiap orang saat usia 40 tahun, sebaiknya sudah pernah melakukan medical check up atau yang umur lebih muda. Namun dengan faktor risiko, misalnya obesitas, adanya DM dan lain-lain. Pemeriksaan medical check up, harus komprehensif, termasuk deteksi dini kerusakan otak”, tambah dr. Yuda. Secara alamiah proses menua akan dialami oleh setiap manusia.

Proses menua akan terus berjalan, tidak dapat dihentikan atau dicegah, hanya dapat diperlambat. Dengan bertambahnya usia, fungsi fisiologis mengalami penurunan akibat proses penuaan sehingga penyakit lebih mudah terjadi pada lansia. "Selain itu, proses degeneratif di berbagai organ menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena infeksi penyakit menular," papar Dr. Rensa, Sp.PD-K.Ger, spesialis Geriatri di RS Atma Jaya.

Dari aspek kesehatan, hampir separuh lansia mengalami keluhan kesehatan sebulan terakhir. Angka kesakitan lansia cenderung menurun setiap tahun. Pada tahun 2017, angka kesakitan lansia dinyatakan sebesar 26,72%. Artinya, dari 100 lansia terdapat sekitar 27 lansia yang sakit. Dibandingkan tahun 2015, angka kesakitan lansia hanya turun sekitar 2%. Sebesar 7,68% lansia pernah rawat inap dalam setahun terakhir.

Adapun masalah yang sering dijumpai pada pasien geriatri adalah sindrom geriatri yang meliputi: imobilisasi, instabilitas, inkontinensia, insomnia, depresi, infeksi, defisiensi imun, gangguan pendengaran dan penglihatan, gangguan intelektual, kolon irritable, impecunity, serta impotensi.
(don)
Berita Terkait
Meningkatkan Akses Layanan...
Meningkatkan Akses Layanan Konseling Keluarga Jakarta melalui Mobil SAPA
Langgar Protokol Kesehatan,...
Langgar Protokol Kesehatan, Angkutan Umum Akan Ditindak Tegas
Transportasi Umum Harus...
Transportasi Umum Harus Higienis dan Terapkan Protokol Kesehatan
Kuliah Umum UMJ Bahas...
Kuliah Umum UMJ Bahas Pentingnya Transformasi Sistem Kesehatan Nasional
Kadishub DKI Sebut Penumpang...
Kadishub DKI Sebut Penumpang Angkutan Umum Lebih Taat Protokol Kesehatan
Imbauan Patuhi Protokol...
Imbauan Patuhi Protokol Kesehatan di Transportasi Umum
Berita Terkini
Jessica Janie Ungkap...
Jessica Janie Ungkap Kunci Lolos Miss Indonesia 2026, Jadi Diri Sendiri dan Jangan Menyerah
4 menit yang lalu
Kejari Tangerang Tegaskan...
Kejari Tangerang Tegaskan Tak Ada Perlakuan Khusus untuk Dokter Richard Lee di Lapas
9 menit yang lalu
Hari Kedua Audisi Miss...
Hari Kedua Audisi Miss Indonesia 2026 Membludak, Talenta Muda Surabaya Tunjukkan Pesonanya
16 menit yang lalu
Ruben Onsu Pertimbangkan...
Ruben Onsu Pertimbangkan Rebut Hak Asuh Anak dari Sarwendah, Ini Alasannya
1 jam yang lalu
Wardatina Mawa Dikabarkan...
Wardatina Mawa Dikabarkan Dilamar Pria Turki, Begini Klarifikasi Lengkapnya
1 jam yang lalu
Curhat Makki Ungu soal...
Curhat Makki Ungu soal Ekonomi Lesu, Sebut Pendapatan Musisi Menurun Gara-gara Ini
2 jam yang lalu
Infografis
Ilmuwan Ungkap Aktivitas...
Ilmuwan Ungkap Aktivitas Otak Manusia Menjelang Kematian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved