Waspadai Masalah Depresi Pascapersalinan

Selasa, 08 Oktober 2019 - 13:12 WIB
Waspadai Masalah Depresi...
Waspadai Masalah Depresi Pascapersalinan
A A A
JAKARTA - Melahirkan merupakan momen menyenangkan. Disisi lain, melahirkan dapat memicu percampuran emosi yang kuat dari kegembiraan menjadi ketakutan dan kecemasan. Kondisi ini juga bisa menyebabkan munculnya depresi dan umumnya terjadi pada hampir 15% kelahiran.

Depresi dapat muncul sesaat sebelum atau saat setelah melahirkan, tetapi biasanya dimulai antara satu minggu dan satu bulan setelah melahirkan. Kendati demikian, depresi pascapersalinan bukanlah sebuah kondisi cacat atau kelemahan karakter, melainkan hanya komplikasi melahirkan.

Dilansir Times Now News, pada kasus depresi pascapersalinan, perasaan sedih dan cemas bisa menjadi ekstrem dan mungkin mengganggu kemampuan wanita untuk merawat dirinya sendiri atau keluarganya. Jika Anda mengalami depresi pascapersalinan, perawatan dapat membantu Anda mengelola gejala dan membantu menjalin ikatan dengan bayi.

Harus diketahui juga apa yang menyebabkan depresi pascapersalinan? Emosi yang kadang muncul setelah lahir bisa menjadi tantangan. Depresi pascapersalinan biasanya memerlukan perawatan karena beratnya gejala.

Setelah melahirkan, kadar hormon (estrogen dan progesteron) dalam tubuh wanita dengan cepat turun. Hal ini menyebabkan perubahan kimia pada otak yang dapat memicu perubahan suasana hati. Selain itu, banyak ibu tidak bisa mendapatkan istirahat yang mereka butuhkan untuk sepenuhnya pulih dari melahirkan.

Kurang tidur secara konstan juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan fisik dan kelelahan, yang dapat berkontribusi pada gejala depresi pascapersalinan. Beberapa wanita juga merasa kecewa dengan tidak segera mendapatkan kembali bentuk tubuh pra-kehamilan mereka.

Kadar tiroid juga bisa turun, yang menyebabkan kelelahan dan depresi. Perubahan hormon yang cepat ini bersama dengan perubahan tekanan darah, fungsi sistem kekebalan tubuh, dan metabolisme yang dialami ibu baru dapat memicu depresi pascapersalinan.

Seperti apa rasanya depresi pascamelahirkan? Seperti jenis depresi lainnya, depresi pascamelahirkan dapat mencakup sejumlah gejala. Perubahan suasana hati yang luar biasa membuat sebagian besar wanita menangis, mudah tersinggung, ragu-ragu, murung, tidak berkomunikasi, susah tidur, dan depresi.

Disisi lain, depresi pascamelahirkan memicu para wanita menarik diri dari pasangan atau tidak dapat menjalin ikatan yang baik dengan buah hatinya, merasakan kecemasan di luar kendali, mencegah Anda tidur bahkan ketika bayi Anda tertidur atau makan dengan tepat, merasakan perasaan bersalah atau tidak berharga, mulai mengembangkan pikiran yang sibuk dengan kematian atau bahkan berharap tidak hidup.

Kapan harus mencari bantuan medis? Saat depresi pascamelahirkan, Anda mungkin memiliki kecemasan tentang mengambil tanggung jawab penuh untuk si kecil, tidak bisa menyesuaikan diri tinggal di rumah dengan bayi, merasa bosan atau kesepian atau merasa khawatir untuk kembali bekerja jika si kecil ditinggal di rumah.

Mereka yang mengalami kondisi ini juga mengaku sulit untuk menyeimbangkan kebutuhan bayi dengan kebutuhan anggota keluarga lainnya. Terkadang, beberapa diantara mereka yang mengalami kondisi ini tampak tidak ada cukup jam dalam sehari untuk menyelesaikan semuanya, di lain waktu tampaknya ada terlalu banyak jam tanpa persahabatan orang dewasa dan bantuan.

Perasaan ini dapat bertahan beberapa hari untuk beberapa wanita atau bahkan beberapa minggu. Jika Anda menemukan bahwa depresi Anda lebih dari sekadar merasa agak rendah diri dan itu berlangsung lebih dari dua minggu, segeralah mencari bantuan medis.

Bagikan perasaan dengan pasangan dan teman Anda tentang semua kekhawatiran dan masalah yang Anda alami. Biarkan emosi keluar. Jika Anda ingin menangis, menangislah. Istirahat dan tidur yang cukup dalam beberapa hari pertama sangat penting.

Olahraga mungkin sama efektifnya dengan obat-obatan, jadi semakin cepat Anda bangkit dan bergerak, semakin baik. 30 menit berjalan kaki setiap hari akan menghasilkan keajaiban.
(tdy)
Berita Terkait
PERMINESIA Dorong Edukasi...
PERMINESIA Dorong Edukasi Kesehatan Tubuh dan Hormonal bagi Perempuan Menopause
Generali Health Cities...
Generali Health Cities di 17 Kota Demi Kesehatan Masyarakat
Mutu Fasilitas Kesehatan...
Mutu Fasilitas Kesehatan Menentukan Kesehatan Masyarakat
Optimalisasi Kesehatan...
Optimalisasi Kesehatan Pencernaan Anak untuk Kesehatan Holistik
Vaksinasi Tenaga Kesehatan...
Vaksinasi Tenaga Kesehatan Lansia
Idap Gangguan Kesehatan...
Idap Gangguan Kesehatan akibat Banjir, Para Lansia Serbu Layanan Kesehatan Gratis
Berita Terkini
ADOR Turunkan Gugatan...
ADOR Turunkan Gugatan terhadap Danielle dan Min Hee-jin dari Rp510 Miliar Jadi Rp390 Miliar
1 jam yang lalu
Wardatina Mawa Tuntut...
Wardatina Mawa Tuntut Nafkah Anak Rp25 Juta, Bukan Rp500 Ribu
2 jam yang lalu
Mengenal HYROX, Olahraga...
Mengenal HYROX, Olahraga yang Disebut Mulai Geser Padel di Indonesia
2 jam yang lalu
Gold Medalist Berterima...
Gold Medalist Berterima Kasih kepada Penggemar yang Tetap Mendukung Kim Soo-hyun
3 jam yang lalu
Kangen Dono dan Kasino,...
Kangen Dono dan Kasino, Indro Warkop Ciptakan Lagu 'Dan Aku Rindu'
3 jam yang lalu
Tio Pakusadewo Dirawat...
Tio Pakusadewo Dirawat Akibat Gangguan Jantung, Dewi Irawan Buka Donasi
4 jam yang lalu
Infografis
Waspadai Penyakit yang...
Waspadai Penyakit yang Rentan Menyerang saat Mudik Lebaran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved