Pakar: Otak Perlu Dilatih Agar Mampu Merespons Ancaman Kekerasan Seksual

Minggu, 12 Januari 2020 - 10:00 WIB
Pakar: Otak Perlu Dilatih...
Pakar: Otak Perlu Dilatih Agar Mampu Merespons Ancaman Kekerasan Seksual
A A A
JAKARTA - Sepekan terakhir ini berita tentang Reynhard Sinaga yang terbukti bersalah dalam 159 kasus pemerkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria di Inggris menjadi headline media massa nasional. Mendapati berita tersebut, banyak orangtua makin tersadar akan bahaya yang mungkin mengintai anak-anak mereka, khususnya yang terkait dengan kejahatan seksual.

Menurut dr. Gina Anindyajati, SpKJ dari Divisi Psikiatri Komunikasi, Rehabilitasi & Trauma Psikososial Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM, setiap orang berisiko mengalami kekerasan seksual. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun berisiko mengalami hal yang sama.

"Semua orang bisa jadi korban. Mau anak-anak, orang dewasa, lansia bisa jadi korban kekerasan seks. Korban kekerasan seksual tidak pilih-pilih. Anak-anak perempuan 18% menjadi korban, laki-laki 8%, orang dewasa perempuan 35%, orang dewasa laki-laki 1,5-7,7%, lansia perempuan 17%, dan lansia laki-laki 0,6-1,2%," jelas Gina dalam talkshow Waspadai Kekerasan Seksual di Sekitar Kita di Gedung IMERI, FKUI, Jakarta, belum lama ini.

Mengingat betapa bahaya kekerasan seksual, Gina memberikan sejumlah saran agar kita terhindar dari tindakan yang tak menyenangkan tersebut. Di antaranya adalah berani mengatakan "tidak" pada hal yang tak seharusnya terjadi. Di sisi lain, setiap orang juga perlu bersikap hati-hati dan belajar merasa aman.

"Untuk bisa memiliki kemampuan melawan, harus diketahui dulu seseorang itu punya bakat biologis melawan atau tidak. Otak orang setelannya nurut dan rebel atau di tengah-tengah. Ada orang yang nurut saja bisa jadi korban dan juga tidak. Ada kemampuan untuk mengutarakan kemauan kita, membangun hubungan yang nyaman," katanya.

"Orang yang tidak aman bisa menjadi korban. Kalau nurut saja, ada rasa takut ditinggal itu out of the body reflect," lanjut Gina.

Lebih jauh Gina mengungkapkan bahwa respons alami otak seseorang menghadapi ancaman umumnya akan memberi tiga perintah. Yaitu flight, freeze, dan fight. Hal itu semua dapat dilatih dan menjadi modal seseorang agar terhindar dari berbagai macam jenis kekerasan seksual.

"Ada yang nggak bisa mikir atau freeze, otaknya terkunci. Ada yang mendapatkan perilaku kekerasan seksual dia flight, loncat. Nggak semua orang bisa flight dan fight. Kenali kita orang seperti apa dan kenali bahaya biar kita mampu merespons. Ini bisa dilatih, insting itu ada. Saya diajari guru saya, kita bukan bereaksi tapi merespons terhadap bahaya," tandasnya.
(tsa)
Berita Terkait
Tips Memahami, Mencintai...
Tips Memahami, Mencintai Diri Sendiri Dalam Kehidupan Berkeluarga
5 Tips Agar WhatsApp...
5 Tips Agar WhatsApp (WA) Kamu Tidak Mudah Disadap
SYIAR: Pentingnya Merawat...
SYIAR: Pentingnya Merawat Qalbu
Syiar : Tips Hidup Berkah
Syiar : Tips Hidup Berkah
Tips Cara Mudah Membedakan...
Tips Cara Mudah Membedakan Madu Asli dan Madu Palsu
SYIAR: Tips Membangunkan...
SYIAR: Tips Membangunkan Anak Sahur
Berita Terkini
Spesial Prambanan Jazz...
Spesial Prambanan Jazz 2026: Nikmati Konser Syahdu Plus Diskon Hotel dan Kuliner dari BRImo
9 jam yang lalu
3 Drama Korea Adaptasi...
3 Drama Korea Adaptasi Webtoon Ini Viral Sepanjang 2026, Wajib Masuk Daftar Tontonan
10 jam yang lalu
Bhima Bagaskara Umumkan...
Bhima Bagaskara Umumkan Keluar dari Coldiac, Ini Alasannya
12 jam yang lalu
Bikin Bangga, Film Horor...
Bikin Bangga, Film Horor Terbaru Anggy Umbara World Premiere di Korea
14 jam yang lalu
Mewahnya Pernikahan...
Mewahnya Pernikahan Taylor Swift dan Travis Kelce, Ada Penampilan Spesial Paul McCartney
14 jam yang lalu
Bernadya Kenang Masa...
Bernadya Kenang Masa Sulit Pandemi, Royalti Lagu Pertama Jadi Penopang Keluarga
17 jam yang lalu
Infografis
Benarkah Torpedo Kambing...
Benarkah Torpedo Kambing Mampu Tingkatkan Gairah Seksual?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved