Sifilis Juga Bisa SerangJantung dan Otak

Senin, 17 Februari 2020 - 10:15 WIB
Sifilis Juga Bisa SerangJantung...
Sifilis Juga Bisa SerangJantung dan Otak
A A A
JAKARTA - Sifilis bukan hanya penyakit kelamin, lebih dari itu infeksi menular seksual (IMS) ini dapat menyerang organ lain, seperti jantung, otak, dan saraf pada tahap lanjut di kemudian hari.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, sepanjang Juli-September2019 tercatat sekitar 1.586 pasien sifilis yang diobati di Indonesia, dari beragam kelompok risiko seperti wanita pekerja seks (WPS), pria pekerja seks (PPS), lelaki seks dengan lelaki (LSL), injection drug user (IDU), waria, pasangan risti, dan pelanggan pekerja seks.

Merujuk data distribusi kasus sifilis baru di RSCM, terjadi peningkatan jumlah pasien yang berobat akibat sifilis. Pada 2016 tercatat 45 pasien, 2017 tercatat 49 pasien, dan 2018 meningkat lagi menjadi 63 pasien. Dikatakan Dr dr Wresti Indriatmi SpKK(K) MEpid, spesialis kulit dan kelamin RSCM, jumlah penderita sifilis terus meningkat beberapa tahun terakhir.

“Ini disebabkan semakin banyaknya hubungan seks lelaki dengan lelaki,” sebut dr Wresti dalam acara “Sifilis, Silent Disease, si Perusak Organ” di Jakarta yang diadakan Klinik Pramudia. Bukan hanya itu, sifilis dikenal sebagai “the great imitator” karena banyak sekali gejala yang bisa ditimbulkan dan terkadang menyerupai gejala penyakit lainnya.

“Saya pernah ada pasien yang sudah berobat kedokter dan dinyatakan terkena eksim. Tapi tidak sembuh-sembuh. Ternyata setelah saya periksa, dia terkena sifilis. Penyakit ini juga mirip dengan psoriasis,” kata dr Wresti. Sayangnya, pengetahuan masyarakat terhadap penyakit sifilis sampai saat ini masih minim, termasuk tentang deteksi dini terhadap penyakit ini. Padahal, sifilis merupakan penyakit IMS yang dapat menyerang organ lain, seperti jantung, otak, dan saraf pada tahap lanjut di kemudian hari.

Sifilis yang yang disebabkan bakteri Treponemapallidum bersifat silent. Penyakit ini bekerja dengan diam, dengan faktor-faktor risiko yang harus diwaspadai, yaitu melakukan hubungan seks tanpa pengaman, lebih dari satu pasangan, serta hubungan seks pria dengan pria.

Penting untuk dicatat bahwa orang dengan HIV lebih rentan terhadap penularan sekaligus dapat menjadi penyebar sifilis. Sifilis juga dapat ditularkan dari ibu hamil ke janinnya. WHO menyatakan, sifilis dalam kehamilan adalah penyebab kedua terbanyak adanya stillbirth, prematuritas, berat lahir rendah, kematian neonatal, dan infeksi pada bayi baru lahir.

Oleh karena itu, jika memang merasakan gejala-gejala khas sifilis, seperti luka pada genital yang tidak sakit dan terdapat ruam dibagian tubuh, maka dianjurkan untuk segera berkonsultasi kepada dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin. “Maka itu harus dilakukan pemutusan rantai penularan penyakit ini,” tegas dr Anthony Handoko SpKK FINDSV, CEO Klinik Pramudia.

Sifilis juga merupakan penyakit sistemik yang gejalanya tergantung pada stadium penyakitnya. Jika tidak segera diobati, penyakit tersebut bisa berkembang dalam stadium dengan gambaran klinis yang bervariasi dan tidak khas. Kemudian bisa menjadi komplikasi serius. Sebaliknya, jika diobati dini, penyakit ini bisa sembuh. Komplikasi yang terjadi juga akan sedikit.

Guna memutus mata rantai sifilis, Klinik Pramudia melakukan kampanye #SembuhGakPerluMalu yang diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kesehatan kulit dan kelamin di Indonesia dengan membagi ilmu dan edukasi mengenai penyakit sifilis kepada seluruh masyarakat.“Kami mendorong agar masyarakat mau melakukan deteksi dini dan meningkatkan kesadaran berobat untuk sembuh tanpa perlu disertai rasa malu,” imbau dr Anthony.

Di Klinik Pramudia, sebelum dilakukan pengobatan, pasien akan menjalani sesi konsultasi dan pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter spesialis kulit dan kelamin yang berpengalaman dan etis. Bila diperlukan, pasien akan mendapat rujukan pemeriksaan laboratorium sesuai dengan instruksi dokter spesialisnya. Lalu pengobatannya tergantung pada stadium yang diderita. Beberapa pasien juga dimungkinkan untuk mendapat terapi tambahan jika dibutuhkan. (Sri Noviarni)
(ysw)
Berita Terkait
Meningkatkan Akses Layanan...
Meningkatkan Akses Layanan Konseling Keluarga Jakarta melalui Mobil SAPA
Langgar Protokol Kesehatan,...
Langgar Protokol Kesehatan, Angkutan Umum Akan Ditindak Tegas
Transportasi Umum Harus...
Transportasi Umum Harus Higienis dan Terapkan Protokol Kesehatan
Kuliah Umum UMJ Bahas...
Kuliah Umum UMJ Bahas Pentingnya Transformasi Sistem Kesehatan Nasional
Unpad Jadi Kampus Terbaik...
Unpad Jadi Kampus Terbaik Hasilkan Artikel Ilmiah Umum dan Kesehatan
Libur Panjang, DKI Perketat...
Libur Panjang, DKI Perketat Pengawasan Prokotol Kesehatan di Tempat Umum
Berita Terkini
Maia Estianty Soroti...
Maia Estianty Soroti Dolar Tembus Rp18.000, Curhat soal Pajak
36 menit yang lalu
Begini Respons Ruben...
Begini Respons Ruben Onsu Usai Permintaan Maaf Sarwendah Viral
2 jam yang lalu
Richard Lee Resmi Dilimpahkan...
Richard Lee Resmi Dilimpahkan ke Kejati Banten, Tinggal Tunggu Jadwal Sidang Perdana
4 jam yang lalu
Indonesia Manufacturing...
Indonesia Manufacturing Symposium 2026, Membangun Sistem Enterprise
16 jam yang lalu
Album Baru Slank Republik...
Album Baru Slank Republik Fufu Fafa Resmi Meluncur, Sarat Kritik Sosial
16 jam yang lalu
Liburan Sekolah Penuh...
Liburan Sekolah Penuh dengan Keseruan: Menjelajahi Pesona Malaysia, Singapura & Thailand
17 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved