Aturan Baru Tangani STROKE

Senin, 03 November 2014 - 10:42 WIB
Aturan Baru Tangani...
Aturan Baru Tangani STROKE
A A A
PASIEN stroke perlu penanganan yang cepat dan tepat di fase akut agar penyakitnya tak semakin parah. Sejumlah ahli merekomendasikan aturan baru untuk mencegah berkembangnya stroke. Apa saja aturannya?

Menurut Dr James Meschia yang memimpin kelompok perumus pedoman baru untuk American Heart Association/American Stroke Association, bersama dengan langkah-langkah tradisional seperti memberikan bantuan berhenti merokok, obat-obatan, dan operasi, rekomendasi anyar ini dapat membantu seseorang secara substansial mengurangi risiko stroke.

“(Stroke) tidak seperti kondisi lain, di mana tidak ada cara untuk mencegahnya,” ujar Meschia seperti dilansir laman Reuters . Sekitar 796.000 orang dewasa di Amerika Serikat mengalami stroke setiap tahunnya, tulis sekelompok peneliti dalam jurnal Stroke . Lebih dari tiga per empat di antaranya mengalami stroke untuk yang pertama kali. Bentuk yang paling umum dari stroke terjadi ketika aliran darah tersumbat di bagian otak, biasanya oleh gumpalan darah.

Bentuk lain terjadi ketika pembuluh darah rusak sehingga terjadi pendarahan di otak. Stroke adalah penyebab utama keempat kematian di Amerika Serikat. Orang yang tidak meninggal karena stroke biasanya sulit bergerak dan bergantung kepada orang lain untuk perawatan. “Jelas mengobati stroke sangat sulit,” kata Dr Gregory Albers. “Jika Anda dapat mencegah stroke, itu jauh lebih baik,” tambah Albers yang bukan bagian dari kelompok perumus pedoman, tetapi memimpin Stroke Center Stanford di California, Amerika Serikat.

Sebuah studi pada 2010 menemukan, 90% risiko stroke terkait dengan faktor risiko, seperti tekanan darah tinggi, kelebihan berat badan, dan merokok. “Sambil mengontrol faktorfaktor tersebut, meski tidak akan menghilangkan risiko stroke, secara substansial dapat mengurangi,” kata Meschia, yang juga Kepala Bidang Neurologi di Mayo Clinic di Jacksonville, Florida, Amerika Serikat.

Pedoman yang terakhir diperbaharui pada 2011, fokus pada apa yang dapat dilakukan untuk mencegah stroke pertama kali. “Beberapa di antara (faktor tersebut) tidak seperti baru karena menyatukan pedoman dari area lain,” kata Dr Andrew Russman, yang juga tidak terlibat dalam memperbarui pedoman, tetapi seorang ahli stroke dari Cleveland Clinic di Ohio, Amerika Serikat. Sebagai contoh, pedoman baru yang menyarankan penggunaan perangkat secara online yang memperkirakan risiko seseorang terkena stroke selama 10 tahun ke depan berdasarkan ras, jenis kelamin, usia, kolesterol, tekanan darah, diabetes, dan merokok.

Alat ini diumumkan bersamaan dengan pedoman lain tahun lalu dan memicu kontroversi. Beberapa dokter takut hal itu akan membuat terlalu banyak orang mengonsumsi obat statin penurun kolesterol. Pedoman baru tersebut menyebutkan, statin harus digunakan selain untuk diet dan olahraga, juga oleh orang-orang dengan risiko tinggi stroke selama 10 tahun ke depan.

Pedoman ini juga merekomendasikan obat pengencer darah baru untuk mengurangi risiko stroke di antara orang dengan fibrilasi atrium, irama jantung abnormal yang dapat menyebabkan pembekuan darah. Meschia mengemukakan, obat baru tersebut memerlukan pemantauan yang kurang dari obat pengencer darah sebelumnya dan mungkin memiliki keuntungan lain, seperti penurunan risiko otak berdarah. “Dari sudut pandang itu, setidaknya untuk masyarakat umum dengan fibrilasi atrium pada risiko stroke, mereka menghadirkan pilihan baru,” katanya.

Pedoman ini juga menyarankan, orangorang mesti mengurangi asupan sodium dan mengonsumsi lebih banyak kalium untuk menurunkan tekanan darah dan mereka merekomendasikan baik diet dietary approaches to stop hypertension (DASH) maupun diet gaya Mediteranian. Diet gaya Mediteranian mencakup makan banyak buah, sayuran dan bijibijian, ikan, minyak zaitun, kacang-kacangan, serta membatasi lemak tidak sehat. Pola makan ala Mediteranian ini telah dikaitkan dengan risiko penyakit jantung yang lebih rendah, mungkin melalui penurunan tekanan darah.

“Jelas tekanan darah -untuk stroke- adalah faktor risiko nomor satu,” kata Albers. “Banyak dokter spesialis stroke yang ingin melihat tekanan darah turun dari 120 lebih menjadi 80,” lanjutnya. Meschia setuju dan mengatakan pedoman baru juga merekomendasikan orang untuk memonitor tekanan darah sendiri, tidak hanya menunggu untuk diukur di ruang praktik dokter.

Rendra hanggara
(ars)
Berita Terkait
PERMINESIA Dorong Edukasi...
PERMINESIA Dorong Edukasi Kesehatan Tubuh dan Hormonal bagi Perempuan Menopause
Generali Health Cities...
Generali Health Cities di 17 Kota Demi Kesehatan Masyarakat
Mutu Fasilitas Kesehatan...
Mutu Fasilitas Kesehatan Menentukan Kesehatan Masyarakat
Optimalisasi Kesehatan...
Optimalisasi Kesehatan Pencernaan Anak untuk Kesehatan Holistik
Vaksinasi Tenaga Kesehatan...
Vaksinasi Tenaga Kesehatan Lansia
Idap Gangguan Kesehatan...
Idap Gangguan Kesehatan akibat Banjir, Para Lansia Serbu Layanan Kesehatan Gratis
Berita Terkini
Steffy Eks Cherrybelle...
Steffy Eks Cherrybelle Disorot usai Unggah Soal Attitude, Sindir Sarwendah?
32 menit yang lalu
Dilarang Sering Gendong...
Dilarang Sering Gendong Baby Soleil, Alyssa Daguise Bantah Mitos Bayi Bau Tangan
1 jam yang lalu
Betrand Sedih Lihat...
Betrand Sedih Lihat Ruben Onsu Dihina, Curhatnya Bikin Haru
1 jam yang lalu
Ini Menu Sarapan Terbaik...
Ini Menu Sarapan Terbaik sebelum Olahraga, Pisang dan Ubi Cilembu Juaranya
1 jam yang lalu
Viral Mitos Lemak Berbahaya...
Viral Mitos Lemak Berbahaya untuk MPASI Anak, Ini Penjelasan Dokter!
3 jam yang lalu
3 Kali Jadi Korban Hacker,...
3 Kali Jadi Korban Hacker, Akun Instagram Wardatina Mawa Diretas Lagi
3 jam yang lalu
Infografis
Siapa John Ternus, Bos...
Siapa John Ternus, Bos Baru Apple Pengganti Tim Cook?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved