Jangan Lagi Pilihan Alternatif

Minggu, 18 Januari 2015 - 10:16 WIB
Jangan Lagi Pilihan...
Jangan Lagi Pilihan Alternatif
A A A
Kendaraan dan transportasi yang menggunakan bahan bakar gas jangan lagi jadi pilihan alternatif. Penggunaan mobil tersebut menjadi bukti kemandirian pada sumber energi. Harga bahan bakar minyak (BBM) yang naik turun selalu terjadi.

Sebaliknya, habisnya ketersediaan BBM adalah keniscayaan. Cepat atau lambat, BBM akan langka dan kita pun perlu mencari pengganti bahan bakar lainnya. Memang tidak bisa dipungkiri, tren harga minyak mentah dunia yang sedang turun sangat dinikmati pengguna kendaraan bermotor.

Malahan, per Jumat (16/1) lalu pemerintah menurunkan kembali harga BBM di mana premium dibanderol Rp6.600 per liter dan solar Rp6.400 per liter. Hanya saja tidak semua akan indah selamanya. Setiap ada penurunan, pasti akan ada kenaikan. Begitu juga dengan harga BBM.

“Namun, harga minyak dunia tidak akan selamanya rendah, diprediksi mulai 2017 harga minyak dunia akan naik ke level normal lagi berkisar 100-120 dolar per barel. Pada saat itu harga premium dan solar akan naik karena sudah mengacu pada harga pasar, tanpa subsidi,” kata Ridha Ababil, Vice President Coprorate Communication PT Perusahaan Gas Negara (PGN) di sela-sela PGN Test Drive , di Ancol, Jakarta Utara, Kamis (15/1).

Lalu, apa yang terjadi ketika harga BBM membubung tinggi dan masyarakat kesulitan membeli BBM. Apalagi jika waktunya BBM langka dan semakin habis sudah tiba. Ridha Ababil mencontohkan momen di mana pengemudi bajaj memenuhi mobile refueling unit (MRU) milik PGN yang ada di Monas, Jakarta Pusat. Mereka membludak karena harga premium yang mencapai Rp7.500 sudah tidak mampu mereka beli.

Diketahui, bajaj BBG memang menggunakan sistem dual fuel. Sistem ini memungkinkan pengemudi bajaj mengisi gas dan BBM sekaligus. Sementara sistem yang sepenuhnya menggunakan gas dikenal dengan nama sistem biofuel. “Jadi, begitu harganya Rp7.500, mereka lebih sering mendatangi MRU kami,” kata Ridha Ababil.

Memang, harga satu liter BBG jauh lebih murah ketimbang BBM. Ketika KORAN SINDO mendatangi stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) PGN di Ketapang, Jakarta Pusat, tertera harga 1 liter gas Rp3.100. Ridha Ababil mengatakan, momen di mana harga BBM turun justru harusnya dimanfaatkan masyarakat untuk menabung. Tabungan itu nantinya digunakan untuk melakukan konversi dari BBM ke BBG.

“Mumpung masyarakat bisa berhemat karena harga bensin lagi murah. Ketika harga (bensin) naik, masyarakat punya alternatif lain,” kata Ridha Ababil. Memang kendala gas saat ini terletak pada ketidaktahuan masyarakat mengenai keunggulan BBG. Masyarakat masih memiliki pengetahuan yang minim soal BBG. Bahkan masyarakat masih mengindetikkan BBG dengan bahaya.

“Tantangannya lebih sosialisasi ke masyarakat. Masyarakat belum yakin soal keamanannya,” kata Executive Officer External Communication Assistant Vice President PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Irwan Andri Atmanto. Diketahui saat ini BBG terdiri atas dua, yakni liquefied gas for vehicle (LGV) dan compressed natural gas (CNG). Nah, PGN menjual BBG dengan jenis CNG.

CNG menurut Irwan Andri Atmanto memiliki tingkat keamanan yang baik seperti lebih ringan dari udara. Alhasil, CNG tidak mudah terbakar dan menguap bila terjadi kebocoran. Hal ini berbeda dengan LGV yang beratnya dua kali lebih besar dari udara sehingga akan mengendap terlebih dahulu ke bawah.

Sementara Budi Prasetyo Susilo, Staf Ahli Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengatakan, risiko meledak bukan soal penggunaan gas untuk mobil. Diyakini, risiko itu merupakan akibat dari perawatan yang tidak diperhatikan. “Risiko meledak biasanya dikaitkan dengan maintenance. Bukan teknologinya,” kata Budi.

“Sekarang pertanyaannya, bagaimana aspek keselamatan ini bisa diminati masyarakat. Kalau dikaitkan dengan accident , itu harus diinvestigasi, apakah penggunaan gas itu penyebabnya, saya enggak yakin kecelakaan itu akibat gas. Tapi kalau maintenance, itu saya kira ke arah situ,” lanjut Budi. Jadi, Budi menyimpulkan, keamanan penggunaan BBG itu ada dua aspek.

Pertama dari teknologi penggunaan gasnya sendiri, kedua dari perawatan kendaraannya. Namun, untuk aspek produk gasnya, keamanan sudah pasti dianalisis oleh produsen. “Safe, saya katakan itu cuma dua. Kalau dari teknologinya itu kompleks, tinggal maintenance . Karena itu paket,” pungkasnya.

Wahyu sibarani
(bbg)
Berita Terkait
Industri Automotif Mulai...
Industri Automotif Mulai Optimistis
Kabar Baik Insentif...
Kabar Baik Insentif Automotif
Industri Automotif Nasional...
Industri Automotif Nasional Mulai Tumbuh
Pasar Automotif Baru...
Pasar Automotif Baru Pulih Tahun Depan
Bisnis Automotif Menggeliat,...
Bisnis Automotif Menggeliat, Daihatsu Edukasi Konsumen
Optimisme Pasar Mobil...
Optimisme Pasar Mobil Domestik dan Ekspor Menggeliat Pada Kuartal IV
Berita Terkini
ARMY Siap-Siap! Tiket...
ARMY Siap-Siap! Tiket Konser Comeback BTS di Jakarta Mulai Dijual Juni Ini
1 jam yang lalu
Sinopsis Microdrama...
Sinopsis Microdrama CEO Who Killed My Father di V+Short, Misi Jurnalis Bongkar Kejahatan CEO Berkuasa
1 jam yang lalu
Clara Shinta Resmi Laporkan...
Clara Shinta Resmi Laporkan Mantan Suami soal Dugaan Fitnah Titipan Uang Rp13 M
2 jam yang lalu
Bukan Hantu, Monster...
Bukan Hantu, 'Monster Pabrik Rambut' Sajikan Horor dari Dunia Kerja yang Melelahkan
2 jam yang lalu
Erin Wartia Ungkap Alasan...
Erin Wartia Ungkap Alasan Ganti Sunan Kalijaga, Kecewa Kasusnya Dialihkan
3 jam yang lalu
Usai Tinggalkan NCT,...
Usai Tinggalkan NCT, Mark Resmi Dirikan Perusahaan Kreatif Upper Room
3 jam yang lalu
Infografis
5 Alasan Kapal Induk...
5 Alasan Kapal Induk AS Tak Lagi Relevan dalam Perang Masa Depan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved