Tidak Akan Pernah Ditawar !
Jum'at, 06 Februari 2015 - 12:05 WIB
Tidak Akan Pernah Ditawar !
A
A
A
Beberapa hari yang lalu, saya sempat bercanda sama teman-teman saya di kantor. Topiknya yang paling seru, apalagi kalau bukan menertawakan diri sendiri.
Berdasarkan rumpian seru hari itu, perempuan itu kalau shopping , baik di pasar maupun di butik high end , selalu saja ada sedikit atau banyak usaha supaya bisa mendapatkan diskon atau menawar. Mungkin sudah in the blood atau memang sudah ada di DNA-nya. Bisa mendadak berubah, dari bermuka malaikat tak bersayap, seketika menjadi devil wears Prada.
Bahkan ada yang kalau belum nawar sampai otot leher nyaris kejepit, pasti belum puas. Saat mendengar rumpian sahabatsahabat saya, saya tidak sepenuhnya setuju. Berdasarkan pengalaman, ada beberapa hal yang sangat sensitif yang rasanya tidak bakalan pernah ditawar perempuan saat berbelanja, bahkan berapa saja barang dan jasa akan dibayar dalam harga berapa pun jika memang dirasa sudah sangat membutuhkan.
Saya rasa, saya seperti banyak perempuan cantik seutuhnya, paling takut sama timbangan dan kaca. Rasanya saya lebih takut lihat timbangan dan kaca daripada melihat setan atau makhluk seram apa pun. Rasanya hampir semua perempuan (kalau tidak, pasti dia sedang berdusta), takut akan penuaan dini, takut jadi gendut, dan ada sebagian yang takut terlihat hitam.
Tiga masalah utama ini adalah masalah yang sangat sensitif buat perempuan. Apa pun yang bisa mencegah penuaan dini, menjanjikan langsing dan putih, rasanya bisa menggoda perempuan untuk membuka dompetnya dan menggesekkan kartu kreditnya tanpa banyak bertanya kenapa dan tanpa berpikir apakah harganya akan sepadan efeknya. Rasa takut terlihat menua dan terlihat gendut telah menguasai pikiran ini. Yang penting dicoba dulu, hasilnya belakangan.
Kalau berhasil, pasti akan jadi iklan berjalan tanpa harus dibayar mahal. Setelah kurs dolar AS naik tak terkendali, harga barang impor juga pasti naik dong. Perasaan nih, yang paling sadis kenaikan harganya adalah kosmetik impor, terutama yang bersifat perawatan atau skin care . Saya tidak habis pikir, misalnya dolar AS naik 30%, eh harga kosmetik impor kok naik 50%.
Ingin rasanya protes sambil jejeritan. Tapi mau bagaimana lagi, cream antiaging yang saya andalkan, rasanya tidak bisa tidak dikonsumsi setiap hari. Bukan kecanduan sih, tapi sudah jadi kebutuhan yang tidak terelakkan. Saya kan tidak mau setiap bangun tidur melihat kulit wajah dan leher saya di kaca kusam dan kerutan bertambah. Apa pun akan saya lakukan demi mencegahnya.
Jadi, walau ada “harga” yang tidak bisa berbohong, yang harus dibayar. Jika Anda terbiasa setiap hari memakai lipstik Channel merah menyala yang khas parisienne , masih oke lah sesekali memakai lipstik merek lain yang lebih murah, tapi tidak urusan perawatan kulit wajah.
Kalau Anda terbiasa memakai krim siang dan malam La Mer atau Laura Mercier, rasanya akan sulit sekali menggantinya dengan merek lain yang lebih murah, walaupun mereka menjanjikan hasil akhirnya yang mungkin sama. Secara psikis, ada lho yang langsung merasa tidak cocok atau merasa bedaknya tidak nempel, padahal kenyataannya enggak segitunya sih.
Masalahnya, kalau sampai terjadi sesuatu sama kulit wajah kita, wah dampak psikologisnya pasti luar biasa. Jangankan sampai lecet akibat gatal karena alergi, bertambah noda setitik saja, rasanya pengen langsung terbang ke dokter kulit pengen dilaser. Ongkos dari dampaknya bisa dipastikan lebih mahal dari membeli sebotol kecil cream antiaging yang superhit itu.
Semakin hari, perempuan semakin takut terlihat jelek, kusam, dan tua. Makanya tidak usah heran, gadget, smartphone , semakin hari semakin dilengkapi aplikasi Photoshop atau photo edit yang supercanggih. Teknologi yang semakin hari semakin terlihat sempurna, rasanya dibuat demikian untuk memanjakan target market paling juicy , perempuan.
Sampai ada joke kalau memakai aplikasi jangan kecanggihan, nanti kalau hilang atau diculik, sulit dicari, karena beda banget foto dengan penampakan sebenarnya. Saya sendiri selalu bilang sama sahabat-sahabat saya, jangan pernah meninggalkan “bekas jelek” di kamera, apalagi di kamera orang lain.
Hal ini juga membuat klinik perawatan kulit, dari yang di bawah pengawasan dokter kulit ternama, sampai yang kelas salon abal-abal yang mencurigakan, selalu laku keras dan antranya bisa sampai pagi menjelang. Yang paling mengkhawatirkan saya, menjamurnya penjualan krim-krim antiaging , krim pemutih, krim stem cell di internet yang tidak dapat dipertanggungjawabkan asal-usul dan kandungan yang ada di dalamnya.
Namun, semua itu bisa terjadi karena adanya hukum dasar dagang. Ada barang karena ada yang membutuhkan. Ada harga karena akan selalu ada yang membelinya. Hal yang sama juga terjadi untuk urusan berat badan. Apa saja, baik barang maupun jasa yang bisa menjanjikan perempuan terlihat lebih langsing, baik beneran atau sekadar ilusi, baik yang tanpa usaha ataupun harus bersimbah keringat darah, rasanya akan dikejar perempuan sampai ke ujung bumi.
Jadi tidak usah heran, kalau buat kaum the have ramai-ramai membeli korset seharga Rp25 juta buat dipakai sehari-hari demi sebuah ilusi terlihat lebih kurus 2 size dan mereka membelinya tidak hanya satu, tapi beberapa helai sekali membeli karena mau dipakai setiap hari. Itu baru korset, belum lainnya, seperti stocking yang katanya bisa membuat paha Anda terlihat lebih kecil dan bra yang membuat Anda terlihat lebih singset.
Tidak usah heran kalau slimming centre supermahal di Jakarta yang menjual teknologi dan janji dari Korea, Prancis, Amerika Serikat, selalu laku keras dan tidak pernah sepi pengunjung. Tarif Rp8 juta sebulan atau Rp100 juta per paket selama tiga bulan, asal menjanjikan Anda bisa shrinking dalam sekejap, pasti diserbu perempuan segala usia tanpa berpikir dua kali.
Begitu juga dengan hebohnya penjualan obat yang katanya bisa menurunkan berat badan kita dalam sekejap, yang sampai sekarang sulit diterima akal sehat, apa pun kandungan yang ada di obat itu. Buat saya, kalau mau menurunkan berat badan yang tidak dapat ditawar, hanya ada satu pilihan, olahraga dan mengatur pola makan.
Makanya, tidak usah heran kalau fitness center modern supercanggih dan mahal (pastinya) studio yoga berbagai aliran yang lagi hit dan begitu saja dipercaya sebagian perempuan bisa membuat langsing sekejap. Bahkan pertandingan lari yang lagi hit, selalu ramai peserta.
Entah peserta serius ataupun penggembira. Wajar sih, karena rasanya semua perempuan pasti ingin terlihat bugar dan lebih langsing dan langsing lagi. Hal ini hanyalah beberapa dari banyak perilaku konsumen Indonesia yang sangat unik, sama uniknya dengan saya.
Hanya, di umur segini, walau saya masih parno sama isu premature aging, saya tidak lagi terobsesi jadi lebih langsing dan lebih putih. Gorgeous, you are so beautiful just the way you are !
MISS JINJING
Konsultan Fashion
Berdasarkan rumpian seru hari itu, perempuan itu kalau shopping , baik di pasar maupun di butik high end , selalu saja ada sedikit atau banyak usaha supaya bisa mendapatkan diskon atau menawar. Mungkin sudah in the blood atau memang sudah ada di DNA-nya. Bisa mendadak berubah, dari bermuka malaikat tak bersayap, seketika menjadi devil wears Prada.
Bahkan ada yang kalau belum nawar sampai otot leher nyaris kejepit, pasti belum puas. Saat mendengar rumpian sahabatsahabat saya, saya tidak sepenuhnya setuju. Berdasarkan pengalaman, ada beberapa hal yang sangat sensitif yang rasanya tidak bakalan pernah ditawar perempuan saat berbelanja, bahkan berapa saja barang dan jasa akan dibayar dalam harga berapa pun jika memang dirasa sudah sangat membutuhkan.
Saya rasa, saya seperti banyak perempuan cantik seutuhnya, paling takut sama timbangan dan kaca. Rasanya saya lebih takut lihat timbangan dan kaca daripada melihat setan atau makhluk seram apa pun. Rasanya hampir semua perempuan (kalau tidak, pasti dia sedang berdusta), takut akan penuaan dini, takut jadi gendut, dan ada sebagian yang takut terlihat hitam.
Tiga masalah utama ini adalah masalah yang sangat sensitif buat perempuan. Apa pun yang bisa mencegah penuaan dini, menjanjikan langsing dan putih, rasanya bisa menggoda perempuan untuk membuka dompetnya dan menggesekkan kartu kreditnya tanpa banyak bertanya kenapa dan tanpa berpikir apakah harganya akan sepadan efeknya. Rasa takut terlihat menua dan terlihat gendut telah menguasai pikiran ini. Yang penting dicoba dulu, hasilnya belakangan.
Kalau berhasil, pasti akan jadi iklan berjalan tanpa harus dibayar mahal. Setelah kurs dolar AS naik tak terkendali, harga barang impor juga pasti naik dong. Perasaan nih, yang paling sadis kenaikan harganya adalah kosmetik impor, terutama yang bersifat perawatan atau skin care . Saya tidak habis pikir, misalnya dolar AS naik 30%, eh harga kosmetik impor kok naik 50%.
Ingin rasanya protes sambil jejeritan. Tapi mau bagaimana lagi, cream antiaging yang saya andalkan, rasanya tidak bisa tidak dikonsumsi setiap hari. Bukan kecanduan sih, tapi sudah jadi kebutuhan yang tidak terelakkan. Saya kan tidak mau setiap bangun tidur melihat kulit wajah dan leher saya di kaca kusam dan kerutan bertambah. Apa pun akan saya lakukan demi mencegahnya.
Jadi, walau ada “harga” yang tidak bisa berbohong, yang harus dibayar. Jika Anda terbiasa setiap hari memakai lipstik Channel merah menyala yang khas parisienne , masih oke lah sesekali memakai lipstik merek lain yang lebih murah, tapi tidak urusan perawatan kulit wajah.
Kalau Anda terbiasa memakai krim siang dan malam La Mer atau Laura Mercier, rasanya akan sulit sekali menggantinya dengan merek lain yang lebih murah, walaupun mereka menjanjikan hasil akhirnya yang mungkin sama. Secara psikis, ada lho yang langsung merasa tidak cocok atau merasa bedaknya tidak nempel, padahal kenyataannya enggak segitunya sih.
Masalahnya, kalau sampai terjadi sesuatu sama kulit wajah kita, wah dampak psikologisnya pasti luar biasa. Jangankan sampai lecet akibat gatal karena alergi, bertambah noda setitik saja, rasanya pengen langsung terbang ke dokter kulit pengen dilaser. Ongkos dari dampaknya bisa dipastikan lebih mahal dari membeli sebotol kecil cream antiaging yang superhit itu.
Semakin hari, perempuan semakin takut terlihat jelek, kusam, dan tua. Makanya tidak usah heran, gadget, smartphone , semakin hari semakin dilengkapi aplikasi Photoshop atau photo edit yang supercanggih. Teknologi yang semakin hari semakin terlihat sempurna, rasanya dibuat demikian untuk memanjakan target market paling juicy , perempuan.
Sampai ada joke kalau memakai aplikasi jangan kecanggihan, nanti kalau hilang atau diculik, sulit dicari, karena beda banget foto dengan penampakan sebenarnya. Saya sendiri selalu bilang sama sahabat-sahabat saya, jangan pernah meninggalkan “bekas jelek” di kamera, apalagi di kamera orang lain.
Hal ini juga membuat klinik perawatan kulit, dari yang di bawah pengawasan dokter kulit ternama, sampai yang kelas salon abal-abal yang mencurigakan, selalu laku keras dan antranya bisa sampai pagi menjelang. Yang paling mengkhawatirkan saya, menjamurnya penjualan krim-krim antiaging , krim pemutih, krim stem cell di internet yang tidak dapat dipertanggungjawabkan asal-usul dan kandungan yang ada di dalamnya.
Namun, semua itu bisa terjadi karena adanya hukum dasar dagang. Ada barang karena ada yang membutuhkan. Ada harga karena akan selalu ada yang membelinya. Hal yang sama juga terjadi untuk urusan berat badan. Apa saja, baik barang maupun jasa yang bisa menjanjikan perempuan terlihat lebih langsing, baik beneran atau sekadar ilusi, baik yang tanpa usaha ataupun harus bersimbah keringat darah, rasanya akan dikejar perempuan sampai ke ujung bumi.
Jadi tidak usah heran, kalau buat kaum the have ramai-ramai membeli korset seharga Rp25 juta buat dipakai sehari-hari demi sebuah ilusi terlihat lebih kurus 2 size dan mereka membelinya tidak hanya satu, tapi beberapa helai sekali membeli karena mau dipakai setiap hari. Itu baru korset, belum lainnya, seperti stocking yang katanya bisa membuat paha Anda terlihat lebih kecil dan bra yang membuat Anda terlihat lebih singset.
Tidak usah heran kalau slimming centre supermahal di Jakarta yang menjual teknologi dan janji dari Korea, Prancis, Amerika Serikat, selalu laku keras dan tidak pernah sepi pengunjung. Tarif Rp8 juta sebulan atau Rp100 juta per paket selama tiga bulan, asal menjanjikan Anda bisa shrinking dalam sekejap, pasti diserbu perempuan segala usia tanpa berpikir dua kali.
Begitu juga dengan hebohnya penjualan obat yang katanya bisa menurunkan berat badan kita dalam sekejap, yang sampai sekarang sulit diterima akal sehat, apa pun kandungan yang ada di obat itu. Buat saya, kalau mau menurunkan berat badan yang tidak dapat ditawar, hanya ada satu pilihan, olahraga dan mengatur pola makan.
Makanya, tidak usah heran kalau fitness center modern supercanggih dan mahal (pastinya) studio yoga berbagai aliran yang lagi hit dan begitu saja dipercaya sebagian perempuan bisa membuat langsing sekejap. Bahkan pertandingan lari yang lagi hit, selalu ramai peserta.
Entah peserta serius ataupun penggembira. Wajar sih, karena rasanya semua perempuan pasti ingin terlihat bugar dan lebih langsing dan langsing lagi. Hal ini hanyalah beberapa dari banyak perilaku konsumen Indonesia yang sangat unik, sama uniknya dengan saya.
Hanya, di umur segini, walau saya masih parno sama isu premature aging, saya tidak lagi terobsesi jadi lebih langsing dan lebih putih. Gorgeous, you are so beautiful just the way you are !
MISS JINJING
Konsultan Fashion
(ftr)