Monster di Medan Perang

Sabtu, 09 Mei 2015 - 09:57 WIB
Monster di Medan Perang
Monster di Medan Perang
A A A
Melanjutkan film pertama Monsters (2010), Dark Continent mencoba membuat premis yang lebih membuat penasaran. Para tentara tak hanya berhadapan dengan para monster, juga gerombolan pemberontak di Timur Tengah.

Jika di film pertama tokoh utamanya adalah seorang jurnalis foto, kini sutradara Tom Green yang menggantikan posisi Gareth Edwards menempatkan seorang pemuda pengangguran asal Detroit, Michael (Sam Keeley) sebagai tokoh sentralnya. Di awal, kita sudah diberi gambaran tentang Michael, juga apa yang terjadi setelah peristiwa di Monsters berlalu.

10 tahun sejak kejadian Monsters, makhluk asing bertentakel raksasa tersebut tetap menjadi ancaman bagi penduduk bumi. Bahkan, kehadirannya sudah sampai menginvasi wilayah Timur Tengah. Tentara Amerika cukup kewalahan mengatasinya. Apalagi dengan tambahan mengurusi kaum pemberontak di wilayah tersebut.

Saat Angkatan Darat Amerika membuka lowongan pendaftaran tentara, Michael melamar. Keinginannya menjadi tentara sebenarnya bukan urusan nasionalisme, tapi lebih pada sebuah pelarian. Dia ingin keluar dari Detroit yang dianggapnya tak memberi harapan. Tak punya satu pun sanak saudara, hatinya semakin mantap pergi ke Timur Tengah.

Apalagi sahabat yang dianggapnya sebagai saudara, Frankie (Joe Dempsie), juga ikut bersamanya. Di medan perang, Michael dan Frankie serta dua teman mereka, Williams (Parker Sawyers) dan Conway (Jesse Nagy), berada dalam tim pimpinan Frater (Johnny Harris). Dalam misi mengalahkan perang dan menghancurkan monster inilah, kepiluan perang harus mereka alami.

Saat pertama kali membuka kisahnya, Tom Green seolah-olah memberi sinyal kepada penonton bahwa dia ingin membuat film ini sebagai film laga perang yang penuh nuansa drama dan ikatan emosional antara para tokoh utamanya. Namun yang terjadi adalah, Green dan penulis skenario Jay Basu tampak tersesat di tengah jalan. Tak ada satu pun elemen, baik elemen film laga maupun drama perang, yang tergarap dengan baik.

Kehadiran monster meski sering terlihat dan berbentuk masif tidak mampu memberikan efek kejut dan ketegangan yang umumnya ada di filmfilm seperti Godzilla atau Jurassic Park. Tak ada ancaman berarti yang para monster ini berikan kepada para tentara kecuali hanya berkeliaran tak tentu arah dan menghancurkan tebing atau karang.

Sama halnya dengan kehadiran para pemberontak yang tak jelas asal-usul atau nama organisasinya. Seolah-olah mereka hadir dalam film ini hanya agar Frater dan pasukannya bisa melepas peluru dari senjata mereka. Begitu pula dengan elemen dramanya. Prolog awal tentang kehidupan Michael dan hubungannya dengan kawan-kawan setimnya, juga soal reputasi Frater, seolah hilang tak berbekas seiring cerita berjalan.

Hubungan emosional yang ingin ditunjukkan sutradara gagal tersampaikan, hingga akhirnya hanya berakhir sebagai sebuah klise. Belum lagi kerapuhan emosi para tentara, yang malah terlihat sebagai sebuah kecengengan belaka. Bayangkan, Frater yang menjadi pemimpin tim, sudah menjadi tentara selama 12 tahun dan berada di medan perang selama 8 tahun, bagaimana mungkin digambarkan memiliki emosi seperti Michael yang masih anak bawang di medan perang.

Kalaupun Frater tertekan secara psikologis akibat kerinduannya pada keluarga, tetap saja terasa tak logis, terutama karena tekanan psikologis yang dialami Frater tak sanggup diberi gambaran yang mendalam oleh sutradara dan penulis film ini.

Dark Continent malah sibuk dengan urusan memilih musik yang tepat untuk adegan-adegan perang, atau adeganadegan yang seharusnya mengharukan. Sungguh disayangkan mengingat premis film ini, juga posternya sudah sedemikian membuat penasaran.

Herita endriana
(bbg)
Berita Terkait
Tiga Pemenang Galaxy...
Tiga Pemenang Galaxy Movie Studio Ditantang Bikin Film Pendek
Besok, Pemenang Samsung...
Besok, Pemenang Samsung Galaxy Movie Studio 2020 Diumumkan!
Reza Rahadian Kagumi...
Reza Rahadian Kagumi Kualitas Galaxy S21 Ultra 5G untuk Bikin Film Pendek
Kebenaran dan Cinta...
Kebenaran dan Cinta yang Terungkap di Microdrama Saat Dia Kembali Padaku VISION+
BTN Gelar Prospera Movie...
BTN Gelar Prospera Movie Night
Review Film Violet Evergarden...
Review Film Violet Evergarden The Movie
Berita Terkini
Indonesia Manufacturing...
Indonesia Manufacturing Symposium 2026, Membangun Sistem Enterprise
10 jam yang lalu
Album Baru Slank Republik...
Album Baru Slank Republik Fufu Fafa Resmi Meluncur, Sarat Kritik Sosial
10 jam yang lalu
Liburan Sekolah Penuh...
Liburan Sekolah Penuh dengan Keseruan: Menjelajahi Pesona Malaysia, Singapura & Thailand
11 jam yang lalu
Sinopsis Sinetron Terikat...
Sinopsis Sinetron 'Terikat Janji' Eps 62: Dipa Terus Memprovokasi Novan, Sementara Davina Merasakan Firasat Buruk
11 jam yang lalu
Shopee Campus Cup Diperpanjang!...
Shopee Campus Cup Diperpanjang! Waktunya All Out & Kumpulkan Poin untuk Bawa Kampus Kamu Jadi Juara!
12 jam yang lalu
Kini Merawat Kulit Jadi...
Kini Merawat Kulit Jadi Lebih Personal, Teknologi EXO3 Siap Manjakan Kulitmu dari Rumah
12 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved