alexa snippet

Kho Ping Hoo, Bukek Siansu Jilid 19 Bagian 9

Asmaraman S. Kho Ping Hoo

kho-ping-hoo-bukek-siansu-jilid-19-bagian-9
Bukek Siansu, karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo
Kho Ping Hoo, Bukek Siansu

Sin Liong menangkis dengan kedua tangannya dan akibatnya tubuh kakek itu terdorong ke belakang sampai terhuyung-huyung. Mata kakek itu terbelalak saking kagetnya. Tak disangkanya bahwa pemuda yang sanggup membuyarkan ilmu sihirnya ini juga berhasil menangkis serangannya dan membuat tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh!

Maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang luar biasa. Ouwyang Cin Cu meloncat, membalikkan tubuhnya dan lari! Teringat dia akan sikap takut yang tampak pada wajah bekas Ratu Pulau Es ketika mendengar akan kedatangan pemuda dan pemudi ini dan baru sekarang dia tahu mengapa bekas Ratu itu kelihatan takut-takut. Kiranya pemuda ini memang memiliki kesaktian yang amat hebat! Dia perlu mencari bantuan, karena menghadapi seorang diri saja amat berbahaya.

Sin Licng yang ingin menangkap kakek itu dan mencari keterangan tentang The Kwat Lin, segera mengejar sambil berseru, "Orang tua jahat, kau hendak lari ke mana? Tunggu, kau narus menjawab beberapa pertanyaanku!"

Mendengar suara Sin Liong dekat sekali di belakangnya, Ouwyang Cin Cu mempercepat larinya, akan tetapi dengan gerakan yang lebih cepat lagi Sin Liong terus mengejarnya. Setelah keluar dari dalam jalan terowongan itu, di lapangan terbuka yang agak jauh letaknya dari guha di mana Sin Liong meninggalkan Swat Hong tadi, terpaksa Ouwyang Cin Cu tidak dapat melankan diri lagi karena Sin Liong telah menyusul dekat sekali di belakangnya.

"Kakek jahat, berhenti dulu!" Sin Liong membentak.

"Haaeeeeeehhhh!!" Tiba-tiba Ouwyang Cin Cu membalikkan tubuhnya dan begitu membalik, segulung sinar biru menyambar ke arah pusar Sin Liong dan sinar putih menyambar ke antara kedua matanya. Sinar biru itu adalah sebatang pedang tipis yang biasanya dibelitkan di pinggang sebagai sabuk aleh kakek itu, sedangkan sinar putih itu adalah jenggot panjangnya yang ternyata dapat dipergunakan sebagai senjata yang sangat ampuh!

"Hemmm....!!" Sin Liong yang sudah menduga bahwa kakek yang jahat itu tentu tidak segan-segan bermain curang, sudah menjaga diri maka begitu melihat menyambarnya sinar biru dan putih itu, cepat dia sudah mencelat ke atas. Demikian cepat gerakan pemuda ini sehingga Ouwyang Cin Cu melongo, mengira bahwa pemuda itu pandai menghilang!

Akan tetapi gerakan angin menyambar di belakangnya membuat dia membalik dan ternyata pemuda itu telah berada di belakangnya dan tadi ketika mengelak pemuda itu telah mempergunakan gin-kang untuk meloncat melalui atas kepalanya. Akan tetapi gerakan pemuda itu sedemikian cepatnya sehingga dia sendiri sampai hampir tidak melihatnya, hanya melihat bayangan berkelebat dan pemuda itu lenyap. Berdebar jantung kakek itu. Selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan lawan seperti ini!

"Hiaaaahhh!!" Dia mengusir rasa gentarnya dan mulai mainkan pedangnya dengan gerakan yang amat cepat. Pedang itu berubah menjadi gulungan sinar biru dan mengeluarkan suara berdesing-desing nyaring sekali, dan serangan pedang ini masih dia selingi dengan pukulan-pukulan tangan kiri dengan telapak tangan terbuka, memukulkan hawa sinkang yang amat kuat.

Memang Ouwyang Cin Cu bukan orang sembarangan. Pertapa Himalaya ini selain pandai sihir, juga memiliki ilmu silat yang tinggi, tenaga sinkangnya amat kuat dan pedang yang dipergunakannya adalah sebatang pedang tipis dari baja biru yang amat ampuh. Akan tetapi satu kali ini dia bertemu dengan batunya! Tubuh Sin Liong berkelebatan dan ke mana pun pedang dan tangan kiri menyerang, selalu hanya bertemu dengan angin belaka.

Dua puluh jurus lebih kakek itu menyerang bertubi-tubi sampai napasnya terengah-engah. Tiba-tiba Sin Liong berseru, "Lepas pedang!"

"Plakk! Desss....!!"

"Aiiiihhh...!!" Pedang itu terlepas dari tangan Ouwyang Cin Cu dan jatuh ke atas tanah mengeluarkan suara mendencing nyaring. Ternyata bahwa lengan kanan kakek tua itu kena di tampar oleh jari tangan Sin Liong, mendatangkan rasa nyeri yang amat hebat, bukan hanya nyeri, akan tetapi juga hawa dingin seolah-olah menggigiti daging dan urat, membuat tangan kakek itu tidak kuat lagi memegang pedang. (Bersambung)
Top