alexa snippet

Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 19 Bagian 2

Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Bagaimana sekarang kakek itu dapat muncul kembali? Ia tahu betul betapa lihainya kakek ini, maka hatinya menjadi gentar. Apalagi ketika tadi melihat munculnya Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, kini hatinya sudah tak bernafsu lagi untuk melanjutkan pertandingan. Ban-pi Lo-cia yang cerdik sudah cepat membuat perhitungan di dalam hati. Ma Thai Kun tentu sukar dapat mengalahkan bekas suhengnya. Pouw-kai-ong juga agaknya sukar sekali dapat mengatasi Kim-mo Taisu, sedangkan dia sendiri masih ragu-ragu apakah dia akan dapat menangkan Couw Pa Ong, biarpun kakek itu kini sudah lumpuh kedua kakinya. Melihat gelagat tidak menguntungkan, Ban-pi Lo-cia tertawa bergelak sambil berkata.

 

"Couw Pa Ong, sekarang di antara kita tidak ada urusan lagi. Biarlah aku pergi saja!" Ia lalu melesat jauh dan pergi dari tempat itu. 

"Monyet dari Khitan, kau hendak lari kemana?" Kakek lumpuh itu lalu mencelat ke depan dan kedua tongkat yang menggantikan kaki itu dapat bergerak dan berlari cepat sekali mengejar Ban-pi Lo-cia.

Melihat seorang kawannya yang boleh diandalkan lari, hati Pouw Kee Lui menjadi gentar. Ia menggunakan kesempatan selagi Kim-mo Taisu memandang kakek lumpuh dengan mata terheran-heran itu untuk meloncat pula dan lari pergi. Kim-mo Taisu tidak mengejar, karena pendekar ini sedang merasa terheran-heran. Sudah lama ia mendengar nama besar Couw Pa Ong dan baru sekarang ia melihat orangnya. Melihat betapa Ban-pi Lo-cia yang kosen itu lari ketakutan bertemu dengan kakek lumpuh ini, ia dapat menduga betapa kakek lumpuh ini tentulah amat lihai dan ternyata benar dugaannya karena cara kakek ini lari secepat itu dengan sepasang tongkat saja sudah membuktikan kelihaiannya. Dengan Pouw Kee Lui ia tidak mempunyai urusan yang amat penting, maka ia mendiamkan saja raja pengemis itu lari.

 

Ma Thai Kun berusaha melawan bekas suhengnya, namun setelah beberapa kali mereka beradu lengan, maklumlah Ma Thai Kun bahwa ia masih belum dapat menandingi bekas suhengnya. Maka setelah melihat betapa Ban-pi Lo-cia lari juga Pouw Kee Lui yang dibantunya lari diam-diam ia mengutuk kecurangan dan sifat pengecut mereka. Ia mengerahkan tenaga, membentak dan menyerang dengan jurus Cui-beng-ciang yang paling hebat. Pat-jiu Sin-ong tertawa mengejek dan menyambut datangnya pukulan itu dengan kekerasan pula. Dua pasang tangan bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Pat-jiu Sin-ong terpental sampai dua tiga meter ke belakang, akan tetapi Ma Thai Kun terguling-guling muntahkan darah segar, melompat kembali dengan muka pucat lalu melarikan diri. 

"Kalau belum mampus hatiku belum tenteram!" Pat-jiu Sin-ong mengejar dan sesaat kemudian Kim-mo Taisu berdiri seorang diri di tempat yang kini menjadi amat sunyi itu. Ia termenung, menghela napas berulang-ulang. Tadi hampir saja ia menghadapi bahaya maut yang tak terelakkan lagi. Akhirnya datang pertolongan kalau memang Tuhan belum menghendaki dia mati, pikirnya. Ia cukup mengenal Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.

Mustahil kakek ini sengaja menolongnya. Andaikata seorang di antar para pengeroyok bukan Ma Thai Kun, agaknya kakek Beng-kauw itu akan menjadi penolong dan menikmati kematiannya dalam pengeroyokan. Ikut campurnya Pat-jiu Sin-ong hanya untuk membunuh Ma Thai Kun yang dianggapnya mendurhakai Beng-kauw. Adapun muncul kakek Couw Pa Ong itu pun agaknya karena belum tentu kakek yang tak dikenalnya itu akan datang membantunya. Semuanya serba kebetulan, dan memang aneh kalau orang belum ditakdirkan mati. Sebetulnya, mati bukan apa-apa bagi Kim-mo Taisu, ia sama sekali tidak gentar. Hanya ia akan merasa sayang sekali kalau dalam pertandingan tadi dia yang mati karena dengan demikian berarti orang-orang macam Ban-pi Lo-cia dan Pouw kai-ong, dua orang yang sama sekali tidak ada artinya hadir di dunia ini karena hanya menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain akan makin merajalela! 

"Kwee-koko....!"

Kim-mo Taisu terkejut dan tidak bergerak, membelalakkan mata. Gila, pikirnya, mengapa tiba-iba ia bermimpi mendengar suara wanita? Tak mungkin ada wanita memanggilnya Kwee-koko dengan suara semerdu itu. 

"Kwee-koko...!"

Dengan jantung berdebar Kim-mo Taisu membalikkan tubuhnya dan wajahnya berubah, matanya terbelalak, mulutnya ternganga ketika ia melihat seorang wanita cantik jelita berdiri di situ, menggandeng seorang anak perempuan berusia kurang lebih sembilan tahun. Wanita itu memandang kepadanya dengan sepasang mata berlinang air mata, sedangkan anak perempuan itu melongo memandangnya dengan telunjuk kiri di mulut, seperti anak terheran-heran.

"Kwee-koko...!" Untuk ketiga kalinya wanita itu memanggilnya suaranya gemetar penuh perasaan. "Mengapa engkau menjadi begini?" Air matanya membanjir turun membasahi sepasang pipinya. 

Kim-mo Taisu menggoyang-goyang kepalanya untuk mengusir bayangan itu, namun sia-sia. Tetap saja wanita cantik itu masih berdiri di depannya, wanita cantik yang bukan lain adalah Ang-siauw-hwa. Tapi ini tak mungkin!

Ang-siauw-hwa sudah mati, tewas membunuh diri karena perbuatan Ban-pi Lo-cia! Sekali lagi ia memandang dengan teliti. Wajah itu, cantik manis dengan rambut digelung tingi-tinggi ke atas, ujungnya terjuntai ke belakang, tubuh yang kecil ramping padat itu, tak salah lagi, dia inilah Ang-siauw-hwa Si Kembang Pelacur di Telaga Barat. Tapi Ang-siauw-hwa sudah mati, hal ini ia yakin benar.

 

"Nona.... Eh, Nyonya.... Siapakah...?" Ia bertanya gagap, suaranya juga gemetar karena jantungnya berdebar keras. Kalau wanita ini bukan Ang-siauw-hwa, dan hal ini sudah pasti, ia tidak pernah mengenalnya mengapa wanita itu memanggilnya Kwee-koko dengan suara begitu mesra? 
halaman ke-2 dari 3
Top