alexa snippet

Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 19 bagian 3

Asmaraman S. Kho Ping Hoo

kho-ping-hoo-suling-emas-jilid-19-bagian-3
Suling Emas, karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo
Kho Ping Hoo, Suling Emas

Kim-mo Taisu tersentak kaget seperti terpukul dadanya. Ia menurunkan Gin Lin dan terhuyung-huyung mundur dengan wajah pucat. "Kau... kau... sudah menjadi isteri orang lain...?" 

Gin Lin tersenyum dengan air mata masih bercucuran, lalu menggandeng tangan anak itu. "Eng Eng, dia ini ayahmu, Nak. Kwee-koko, setelah kau pergi, aku... aku melahirkan anak ini. Hanya karena dialah maka aku merobah tekadku untuk mati di Neraka Bumi, aku membawanya keluar mencarimu. Dia ini anakmu, Kwee-koko." 

Terdengar rintihan isak di tenggorokkan Kim-mo Taisu. Ia berlutut, memegang kedua tangan anaknya, memandang wajah yang mungil itu, kemudian ia memondongnya sambil tertawa. Tangan kirinya juga menyambar dan memondong tubuh isterinya. Berganti-ganti ia memandang dan menciumi isteri dan anaknya dengan kebahagiaan hati yang sukar dilukiskan. Ia merasa seakan-akan menerima anugerah yang paling besar dan belum pernah selama hidupnya ia mengalami kebahagiaan seperti saat ini. 

"Isteriku....! Anakku...! Ah, Kwee seng... Kwee Seng... agaknya Thian masih menaruh kasihan kepadamu...!" katanya, suaranya menggetar penuh keharuan.

"Ayah... sudah lama sekali aku mencari-carimu. Ibu seringkali menangis, katanya kau tidak mau menjadi Ayah Eng Eng. Sekarang Ayah sudah di sini, mengapa ibu masih menangis? Apa ayah betul-betul tidak suka kepada Eng Eng?" Ucapan yang keluar dari bibir mungil itu seperti pisau mengiris jantung Kim-mo Taisu. Terasa olehnya betapa ia telah melakukan dosa besar terhadap Gin Lin yang selain telah menolong nyawanya di Neraka Bumi ternyata masih menaruh cinta kasih yang amat besar kepadanya. Sungguh ia telah berdosa. Andaikata Gin Lin benar-benar seorang nenek sekalipun, ia tidak semestinya meninggalkan seorang yang begitu mencintanya.

"Eng Eng. Alangkah manis namamu. Ayah amat cinta dan sayang kepadamu, anakku!" Ia menciumi pipi anaknya.

 

"Tapi Ayah mengapa menangis? Ibu juga? Mengapa susah?" "Ayah tidak susah. Lihat, sekarang aku tertawa, dan Ibumu juga!" Anak itu memandang ayah dan ibunya, benar saja mereka tersenyum dengan air mata membasahi pipi. "Suhu...!" 

Kwee Seng memandang dan ternyata Bu Song sudah muncul di situ. "Teecu menghaturkan selamat bahwa Suhu telah dapat berkumpul dengan Subo (Ibu Guru) dan ... dan adik puteri Suhu." Kata Bu Song dengan pandang mata sejujurnya dan muka ikut bergembira.

Kim-mo Taisu menurunkan tubuh isterinya perlahan. Sambil memondong Eng Eng ia menghadapi muridnya berkata, "Bu Song, kenapa kau pergi meninggalkan aku tanpa pamit?" Mendengar suara ayahnya seperti marah dan melihat Bu Song menundukkan kepala, Eng Eng segera menjawab ayahnya. "Ayah, jangan marah kepadanya. Dialah yang membawa Ibu dan aku ke sini menemui Ayah. Bu Song tidak nakal, dia baik, Ayah!"

"Ehh...??" Kim-mo Taisu memandang isterinya yang tersenyum dan mengangguk, bahkan isterinya lalu memberi penjelasan. 

"Muridmu ini bekerja pada kami, mengambil air dari puncak. Ketika mengangsu air untuk kali terakhir, ia melihat kau berhadapan dengan musuh jahat, maka setibanya di rumah kami ia bertemu denganku dan mengatakan bahwa gurunya Kim-mo Taisu, menghadapi bahaya maka ia harus cepat-cepat pergi dari rumah kami, tidak mau kutahan lagi. Aku memang ada dugaan bahwa Kim-mo Taisu adalah engkau, maka aku lalu mengajak Eng Eng dan bersama Bu Song pergi menyusulmu ke sini. Kiranya benar-benar kau berhadapan dengan musuh yang tangguh. Baiknya ada Pamanku Couw Pa Ong yang membantumu." 

"Couw Pa Ong.....? Dia itu...... Pamanmu.....?"

"Mari kita pulang dulu, nanti kita bicara sampai jelas."

"Pulang?" terharu hati Kim-mo Taisu, karena sesungguhnya, entah sudah berapa lamanya ia tidak mengenal arti kata "pulang" lagi. Sambil menggandeng tangan isterinya dan memondong Eng Eng, Kim-mo Taisu mengangguk dan menjawab, "Marilah!" 

"Bu Song, kau ikut dengan kami." Kata Khu Gin Lin dengan suara halus, akan tetapi Bu Song masih berdiri dengan kepala menunduk. 

"Bu Song, hayo ikut, nanti kita main-main di rumah!" Eng Eng juga berkata, akan tetapi tetap saja Bu Song tidak bergerak dan tidak pula mengangkat muka. Anak itu sedang dilanda kedukaan hebat. Ia memang ikut bergirang menyaksikan kebahagiaan suhunya yang telah berkumpul kembali dengan isteri dan anaknya, akan tetapi sekaligus peristiwa ini pun mengingatkan ia akan keadaannya sendiri yang jauh ayah jauh ibu, seorang anak yang tidak dapat mengecap kebahagiaan seperti Eng Eng karena ayah bundanya cerai berai. Pula, agaknya suhunya marah kepadanya, dan kalau suhunya sendiri diam saja, bagaimana ia bisa ikut mereka?
halaman ke-1 dari 3
Top