alexa snippet

Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 19 Bagian 4

Asmaraman S. Kho Ping Hoo

kho-ping-hoo-suling-emas-jilid-19-bagian-4
Suling Emas, karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo
Kho Ping Hoo, Suling Emas

Gin Lin lalu berbenah, dibantu oleh tiga orang pembantu rumah tangga yaitu A-kwi, A-liong, dan Sam-hwa yang ternyata bukanlah pembantu rumah tangga sembarangan saja karena ketiga orang ini adalah bekas-bekas panglima pembantu Kong Lo Sengjin ketika kakek ini masih menjadi Raja Muda Sin-jiu Couw Pa Ong! Setelah selesai, dengan terharu Gin Lin berpamit dari tiga orang pembantu ini, dan merekapun kelihatan terharu, apalagi Sam-hwa yang menangisi kepergian Eng Eng yang ia anggap sebagai cucunya.

 

"Harap kalian bertiga jangan terlalu sedih." Akhirnya Gin Lin berkata. "Betapapun juga, waktu akan membawa kita berkumpul dalam perjuangan yang sama." Kata-kata ini agaknya menyadarkan mereka dan berserilah wajah mereka malah mereka mengantar keluarga itu sampai jauh keluar hutan. Setelah mereka berpisah, Kim-mo Taisu bertanya apa artinya ucapan isterinya ketika berpisah tadi. 

Gin Lin menarik napas panjang. "Mereka itu adalah bekas panglima dan pejuang pembela Kerajaan Tang. Seperti juga Paman dan aku sendiri, kita kehilangan keluarga, menyaksikan betapa keluarga terbasmi habis, betapa kerajaan runtuh diobrak-abrik dan dirampok, diperkosa, dihina oleh musuh. Anehkah kalau di lubuk hati kita masing-masing terpendam perasaan dendam yang tak dapat dipadamkan sebelum Kerajaan Tang bangkit kembali? Kakek sudah berusaha keras, dan dengan kawan-kawan seperjuangan telah berhasil menjatuhkan Kerajaan Tang Muda, akan tetapi hanya berhasil mempertahankan selama tiga belas tahun saja, dan Kerajaan Tang Muda kembali jatuh di tangan musuh yang mendirikan Kerajaan Cin Muda. Ah, sebelum Kerajaan Tang bangkit kembali seperti dahulu, agaknya hati kita masih akan tetap mengandung dendam." 

Kim-mo Taisu mengangguk-angguk, akan tetapi tidak menjawab apa-apa. Baginya, perasaan dendam itu tidak ada dan tak dapat ia merasai atau mengerti apa yang diutarakan isterinya itu, karena ia sendiri tidak pernah melibatkan diri dengan urusan negara. 

"Yang terpenting kita mendidik Eng Eng dan Bu Song." Akhirnya ia berkata, "dan kalau kita terlibat urusan perang, bagaimana kita mampu mendidik anak-anak itu? Mari kita pergi ke tempat yang tenteram dan jauh daripada keributan." 

"Kemanakah? Asal jangan ke Neraka Bumi!" Gin Lin berkata dan meremang bulu tengkuknya kalau ia membayangkan betapa puterinya harus hidup di neraka itu! 

"Tempat yang baik dan berjasa." Kim-mo Taisu berkata, melamun. "Ihhh, neraka itu kauanggap baik?" 

Suaminya tersenyum dan memegang tangan Si Isteri. "Kalau tidak ada Neraka Bumi, bagaimana kita bisa saling berjumpa?" 

Gin Lin menjadi merah sekali mukanya, ia membuang senyum dan berkata. "Sudahlah, ke mana kita sekarang pergi?" 

"Ke Min-san!" Selama tinggal di Neraka Bumi dan ditinggal mati Kwan Cin Cu, Gin Lin membaca kitab-kitab dan banyak tahu akan teori ilmu silat sambil melatih diri sedapatnya. Biarpun kurang sempurna karena kurang bimbingan, namun dia telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi juga, maka dalam perjalanan jauh itu mereka tidak mengalami banyak kesulitan. Apabila mereka melalui jalan yang sukar, Gin Lin menggendong puterinya sedangkan Kim-mo Taisu menggandeng tangan Bu Song atau kadang-kadang juga memondongnya. 

Setelah melakukan perjalanan beberapa bulan lamanya, akhirnya mereka sampai juga ke Puncak Min-san dimana Kim-mo Taisu lalu membangun sebuah pondok sederhana untuk tempat tinggal mereka, jauh daripada dunia keramaian.

 

Mulai saat itu, Bu Song dan Eng Eng menerima gemblengan dari Kim-mo Taisu dan isterinya. Akan tetapi oleh karena Bu Song masih saja kukuh tidak mau mempelajari ilmu silat, maka hanya Eng Eng saja yang menerima latihan ilmu silat, sedangkan Bu Song mendapat pelajaran ilmu sastra. Seperti kita ketahui, Kim-mo Taisu Kwee Seng ini dahulu adalah seorang mahasiswa yang tak pernah lulus dalam ujian. Biarpun ia lebih gemar ilmu silat, namun sesungguhnya ia bukanlah seorang yang bodoh dalam ilmu sastra. Tidak, bahkan ia amat pandai. Hanya pada masa itu, untuk dapat lulus dalam ujian tidaklah mudah. Nafsu korupsi sudah menjadi penyakit wabah yang menyerang seluruh pembesar yang berhak memeriksa ujian, jangan harap seorang mahasiswa akan dapat lulus dalam ujian. Kim-mo Taisu Kwee Seng adalah seorang yang berjiwa pendekar, tentu saja ia tidak sudi untuk melakukan penyuapan, tidak mau ia lulus ujian yang membuat ia gagal terus dalam ujian lagi. 

Karena memang pandai dalam ilmu sastra, tentu saja ia dapat mengajarkan ilmu itu kepada Bu Song. Akan tetapi, di samping ilmu menulis dan membaca sajak ini, diam-diam Kim-mo Taisu menurunkan pelajaran dasar-dasar ilmu silat yang secara cerdik ia masukkan ke dalam pelajaran yang ia sebut ilmu kesehatan dan ilmu pengobatan. Dalam diri Bu Song memang terdapat bakat istimewa, maka segala macam pelajaran dapat ia terima dengan mudah. Bahkan dalam latihan samadhi dan peraturan napas penyaluran jalan darah, ia jauh lebih maju daripada Eng Eng.

Bertahun-tahun keluarga ini hidup bersunyi, hanya bertetangga penduduk gunung yang tinggal di lereng Min-san. Hanya sepekan sekali keluarga ini dapat bertemu orang, karena penduduk tidak ada yang berani naik ke puncak yang sukar itu. Namun mereka hidup penuh ketenteraman dan kebahagiaan.

***
halaman ke-1 dari 4
Top