alexa snippet

Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 30 - 35

Asmaraman S. Kho Ping Hoo

kho-ping-hoo-suling-emas-jilid-30-35
Suling Emas, karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo
Kho Ping Hoo, Suling Emas Jilid 30

     "HA-HA-HA-HA! Cu-wi Ciangkun (Para Perwira), harap jangan kaget dan curiga! Aku datang untuk membantu kalian melaksanakan maksud hati kalian yang amat baik ini. Kerajaan Cou yang lapuk harus diruntuhkan!"

     Karena yang mengucapkan kata-kata ini seorang luar yang tak dikenal, tentu saja para panglima itu makin kaget dan khawatir. Dua orang di antara para perwira yang terkenal hebat kepandaiannya dalam ilmu memanah, telah menggerakkan tangan dan "serrr! serrr!" dua batang anak panah dengan kecepatan kilat telah menyambar leher dan perut kakek itu! Kakek itu sama sekali tidak mengelak atau kelihatan bergerak, agaknya ia tidak melihat bahwa dua batang anak panah seperti dua tangan maut menjangkau hendak mencabut nyawanya. Ia masih enak-enak berkata,

     "Biarlah aku yang akan mengajukan alasan kepada Cao-goanswe (Jenderal Cao), dan kalau terjadi kegagalan sehingga kalian terpaksa melawannya, aku akan membantu kalian!"

     Delapan belas orang ahli perang itu berdiri dengan mata terbelalak kagum dan keget. Kakek itu masih bicara dan sementara itu, dua batang anak panah seakan-akan telah mengenai dada dan leher, akan tetapi karena kakek itu bicara sambil menggerakkan kedua tangan, mereka tidak melihat bagaimana sekarang tahu-tahu kedua batang anak panah itu telah terjepit di antara jari-jari tangan kakek itu!

     Seorang panglima muda melangkah maju dengan pedang di tangan. "Engkau siapa? Berani memasuki tenda kami tanpa ijin?"

     "Ha-ha-ha! Ciangkun (Panglima), engkau masih terlalu muda untuk mengenalku. Akan tetapi di antara kalian yang sudah tua tentu pernah mendengar namaku. Dahulu aku disebut Sin-jiu Couw Pa Ong seorang putera pangeran Kerajaan Tang dan aku masih ingat akan Cao Beng, Jenderal Kerajaan Tang yang menjadi kakek Jenderal Cao Kuang Yin sekarang! Akan tetapi sekarang aku hanya seorang kakek biasa saja yang disebut Kong Lo Sengjin!"

     Kagetlah semua orang yang berada di dalam tenda itu. Nama Sin-jiu Couw Pa Ong memang amat terkenal. "Dengan cara bagaiamana kau hendak mencampuri urusan kami, urusan tentara?"

     Kembali kakek itu tertawa. "Dalam urusan perang memang kalian ahli, dan menghadapi barisan tentu saja aku tidak berarti. Akan tetapi menghadapi kekerasan lawan, kiranya aku dapat banyak membantu. Misalnya, dengan mudah aku dapat melucuti belasan orang lawan. Kalian lihat baik-baik!" Tiba-tiba tubuh kakek itu berkelebat menyerbu mereka! Kagetlah belasan orang itu. Mereka juga bukan orang-orang biasa, melainkan panglima-panglima yang sudah biasa bertempur maka tentu saja mereka itu pandai ilmu silat. Melihat bayangan kakek itu berkelebat dekat, tanpa ragu-ragu lagi mereka lalu menggerakkan senjata mereka menerjang. Terdengar suara kaget bergantian dan dalam sekejap mata saja semua panglima dan perwira sudah kehilangan senjata mereka. Ketika mereka memandang, ternyata pedang dan golok mereka yang terampas secara aneh itu telah tertumpuk di atas meja dan kakek itupun sudah duduk diatas bangku dekat meja sambil tersenyum-senyum.

     "Bagaimana? Cukup berhargakah aku menjadi sekutu kalian?" Mereka lalu duduk kembali mengelilingi meja. "Mengapa Locianpwe hendak membantu kami? Dengan maksud apa?" Tanya seorang panglima tua kini menyebut locianpwe karena maklum bahwa kakek lumpuh itu benar-benar sakti luar biasa.

     "Dengan maksud apa? Tentu saja dengan maksud menegakkan kembali kekuasaan Tang yang sudah runtuh. Jenderal Cao adalah keturunan dari pembesar tinggi bangsawan Tang, maka sudah sepatutnya jika beliau diangkat. Akan tetapi kalau dia menolak, kita bisa memilih lain orang. Bukan Cao-goan-swe seorang di antara kita yang cakap menggantikan raja kanak-kanak dan ibunya!"

     Karena tertarik oleh kesaktian Kong Lo Sengjin yang tentu saja akan dapat merupakan pembantu yang amat berharga, akhirnya belasan orang komandan itu menerima Kong Lo Sengjin menjadi sekutu dan berundinglah mereka tentang niat mereka memaksa Cao Kuang Yin untuk memberontak.

     Pada saat itu, Jenderal Cao Kuang Yin sendiri tidak berada dalam tendanya. Panglima ini keluar seorang diri dan kini ia berdiri termenung di atas sebuah gunung kecil, menatap angkasa yang dihias bintang-bintang gemerlapan. Bulan seperempat tampak doyong di angkasa. Berkali-kali panglima ini menarik napas panjang, kemudian ia menengadah ke langit dan keluarlah keluhan hatinya yang tanpa ia sadari terucapkan mulutnya.

     "Liang, Tang, Cin, Han Cou.... lima kerajaan bermunculan, namun semua tidak berhasil mengamankan negara memakmurkan rakyat jelata. Ahhh, sekian banyaknya bintang bermunculan dan berjatuhan, tiada satu yang menyinarkan cahaya menerangi jagad. Bilakah akan muncul sebuah bintang yang demikian?"

     Tiba-tiba terdengar keluhan orang lain yang disambung dengan kata-kata seperti sajak. "Bila kepalanya benar, kaki tangan yang tidak baik pun dapat dimanfaatkan. Bila kepalanya tidak benar, kaki tangan yang betapa baik pun tidak ada manfaatnya! Segala sesuatu memang sudah dikehendaki Tuhan maka dapat terjadi, akan tetapi jika manusia tidak berusaha dan hanya mengandalkan kehendak Tuhan, tiada bedanya ia dengan pohon atau hewan!"

     Cao Kuang Yin terkejut, apalagi setelah menengok ia melihat seorang laki-laki gagah perkasa yang berpakaian seperti tosu, berdiri tak jauh dari situ, juga menengadah sambil menuangkan arak dari sebuah guci arak. Ucapan tadi bukanlah kata-kata biasa, maka Cao Kuang Yin dapat menduga bahwa tentu orang ini bukan orang biasa pula, dan cepat ia menghadapinya sambil menjura dan berkata,

     "Saudara yang baik, ucapanmu benar-benar mengagumkan hatiku akan tetapi juga mengherankan hatiku akan tetapi juga mengherankan. Sudilah kiranya memberi penjelasan."

     Orang tua gagah itu bukan lain adalah Kim-mo Taisu. Setelah menurunkan semua ilmunya kepada Bu Song selama hampir tiga tahun, ia lalu berpisah dari muridnya itu yang ia suruh pergi mencari suling emas di Pulau Pek-coa-to seperti yang diceritakan sastrawan Ciu Gwan Liong kepada Bu Song. Adapun dia sendiri lalu mulai pergi mencari Kong Lo Sengjin inilah maka ia pada saat itu berada di atas bukit kecil, diam-diam membayangi Cao Kuang Yin yang ia kenal sebagai seorang panglima besar Kerajaan Cou. Kim-mo Taisu sudah mendengar akan semua urusan di kota raja, maka ia pun tahu bahwa jenderal ini memimpin pasukan besar menuju ke utara. Ia merasa heran ketika dalam penyelidikannya mendapat kenyataan bahwa orang yang dikejar-kejarnya, yaitu Kong Lo Sengjin, berada pula di dalam pasukan itu. Tentu saja ia tidak berani turun tangan secara sembrono dalam barisan yang begitu besar.
halaman ke-1 dari 13
Top