SOROT: Seandainya Saya sebagai Sutradara Sinetron Stripping
Sabtu, 24 Juni 2023 - 14:35 WIB
Pengerjaan sinetron stripping membutuhkan energi yang besar dan perlu diperhatikan kualitas ceritanya agar tidak ditinggalkan penonton. Foto ilustrasi/Preman Pensiun (RCTI )
JAKARTA - Jelang libur Lebaran tahun lalu, saya dapat kesempatan menarik. Diajak bertemu CEO salah satu rumah produksi besar yang banyak memproduksi judul-judul sinetron populer.
Saya termasuk salah satu sineas yang sudah lama patah hati dengan industri televisi. Pada awal karier awal tahun 2000-an, saya bersama beberapa rekan pernah memproduksi film digital. Karena merasa kualitasnya cukup bagus, kami pikir selain bisa ditonton dari festival ke festival, mungkin film digital tersebut bisa disaksikan lebih banyak orang via stasiun televisi.
Gayung bersambut, kami lantas diundang ke salah satu stasiun televisi. Kami pun memutar film digital yang durasinya kurang dari 90 menit tersebut. Usai preview, tim akuisisi dari stasiun televisi tersebut menyalami kami dan membuat komentar yang hingga saat ini saya ingat betul.
Baca Juga: SOROT: yang Perlu Dilakukan Catatan Si Boy Agar Tak Bernasib seperti Balada Si Roy dan Gita Cinta dari SMA
“Film kalian bagus tapi kami tidak yakin penonton televisi kita suka dengan tayangan bagus. Kita bikin program jelek saja banyak ditonton, kenapa mesti capek-capek bikin program yang bagus?”
Foto: RCTI
Tak lama setelah peristiwa di atas terjadi, masih sekitar tahun 2005, dimulailah revolusi baru di industri televisi. Dimulai dari tayangan sinetron Ramadan yang tayang setiap hari dan akhirnya melahirkan sebuah sistem produksi yang dikenal saat ini sebagai “sinetron stripping”. Bisa jadi sistem ini hanya ada di Indonesia, dengan sinetron diproduksi dengan sistem kejar tayang.
Syuting sebuah episode sinetron dimulai sejak pagi dan malamnya sudah langsung tayang di layar televisi. Sistem ini diadopsi sebagai cara menyiasati rating, dengan tim produksi yang bisa mempelajari rating tiap episode dan langsung melakukan evaluasi dan eksekusi pada episode terbaru keesokan harinya.
Hasilnya adalah sebuah kekacauan. Kualitas sinetron terpuruk dan menjadi bulan-bulanan masyarakat. Apa yang bisa diharapkan dari sinetron yang tak punya persiapan apa pun dan hanya melakukan syuting serbacepat mengejar waktu?
Saya pun menjadi bagian dari masyarakat yang tak pernah berhenti mencerca kualitas sinetron yang semakin buruk dari hari ke hari. Tapi saya kira mencela bisa jadi tak cukup. Jika punya kesempatan untuk masuk ke produksi sinetron stripping, apakah saya bisa membuat minimal sedikit perubahan ke arah yang lebih baik?
Saya termasuk salah satu sineas yang sudah lama patah hati dengan industri televisi. Pada awal karier awal tahun 2000-an, saya bersama beberapa rekan pernah memproduksi film digital. Karena merasa kualitasnya cukup bagus, kami pikir selain bisa ditonton dari festival ke festival, mungkin film digital tersebut bisa disaksikan lebih banyak orang via stasiun televisi.
Gayung bersambut, kami lantas diundang ke salah satu stasiun televisi. Kami pun memutar film digital yang durasinya kurang dari 90 menit tersebut. Usai preview, tim akuisisi dari stasiun televisi tersebut menyalami kami dan membuat komentar yang hingga saat ini saya ingat betul.
Baca Juga: SOROT: yang Perlu Dilakukan Catatan Si Boy Agar Tak Bernasib seperti Balada Si Roy dan Gita Cinta dari SMA
“Film kalian bagus tapi kami tidak yakin penonton televisi kita suka dengan tayangan bagus. Kita bikin program jelek saja banyak ditonton, kenapa mesti capek-capek bikin program yang bagus?”
Foto: RCTI
Tak lama setelah peristiwa di atas terjadi, masih sekitar tahun 2005, dimulailah revolusi baru di industri televisi. Dimulai dari tayangan sinetron Ramadan yang tayang setiap hari dan akhirnya melahirkan sebuah sistem produksi yang dikenal saat ini sebagai “sinetron stripping”. Bisa jadi sistem ini hanya ada di Indonesia, dengan sinetron diproduksi dengan sistem kejar tayang.
Syuting sebuah episode sinetron dimulai sejak pagi dan malamnya sudah langsung tayang di layar televisi. Sistem ini diadopsi sebagai cara menyiasati rating, dengan tim produksi yang bisa mempelajari rating tiap episode dan langsung melakukan evaluasi dan eksekusi pada episode terbaru keesokan harinya.
Hasilnya adalah sebuah kekacauan. Kualitas sinetron terpuruk dan menjadi bulan-bulanan masyarakat. Apa yang bisa diharapkan dari sinetron yang tak punya persiapan apa pun dan hanya melakukan syuting serbacepat mengejar waktu?
Saya pun menjadi bagian dari masyarakat yang tak pernah berhenti mencerca kualitas sinetron yang semakin buruk dari hari ke hari. Tapi saya kira mencela bisa jadi tak cukup. Jika punya kesempatan untuk masuk ke produksi sinetron stripping, apakah saya bisa membuat minimal sedikit perubahan ke arah yang lebih baik?
Lihat Juga :