Antusias, Penonton Serbu Gelaran Road to Awarding Night Festival Film Bulanan 2023 di Makassar
Senin, 04 Desember 2023 - 13:28 WIB
Studio 4 XXI Mall Ratu Indah Makassar menjadi saksi keseruan Road to Awarding Night Festival Film Bulanan (Fesbul) 2023 pada Minggu, 26 November lalu. Foto/Istimewa
MAKASSAR - Studio 4 XXI Mall Ratu Indah Makassar menjadi saksi keseruan Road to Awarding Night Festival Film Bulanan (Fesbul) 2023 pada Minggu, 26 November lalu. Acara yang menampilkan pemutaran 2 Film Terpilih Fesbul Lokus 8 (Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah)sukses memukau para penonton yang memadatibioskop. Penonton rela duduk di lorong bahkan di lantai studio karena seluruh bangku terisi penuh.
Dua Film Terpilih Fesbul yang menjadi bintang pada malam itu adalah film pendek fiksi berjudul ‘Di Antara’ karya sutradara Rosida Thia Itami, asal Kota Mamuju, serta film pendek fiksi berjudul ‘Basri & Salma in A Never Ending Comedy’ yang disutradarai oleh Khozy Rizal, asal Kota Makassar. Para penonton dengan penuh antusias hadir untuk menikmati kedua karyatersebut.
Rosida Thia Itami menyampaikan rasa terima kasihnya atas apresiasi yang diberikan Fesbul kepada filmnya. Ia menuturkan bahwa ide cerita filmnya bersumber dari realitas sosial, khususnya dalam pengelolaan anggaran pembangunanoleh pemerintah kerap dengan cara yang salah dan dinamika kehidupan beragama di lingkungan masyarakat.
“Film ini sengaja dibuat sebagai ruang pembangunan nalar kritis terhadap realitas sosial yang menyimpang,” ungkap Rosida.
Dua Film Terpilih Fesbul yang menjadi bintang pada malam itu adalah film pendek fiksi berjudul ‘Di Antara’ karya sutradara Rosida Thia Itami, asal Kota Mamuju, serta film pendek fiksi berjudul ‘Basri & Salma in A Never Ending Comedy’ yang disutradarai oleh Khozy Rizal, asal Kota Makassar. Para penonton dengan penuh antusias hadir untuk menikmati kedua karyatersebut.
Rosida Thia Itami menyampaikan rasa terima kasihnya atas apresiasi yang diberikan Fesbul kepada filmnya. Ia menuturkan bahwa ide cerita filmnya bersumber dari realitas sosial, khususnya dalam pengelolaan anggaran pembangunanoleh pemerintah kerap dengan cara yang salah dan dinamika kehidupan beragama di lingkungan masyarakat.
“Film ini sengaja dibuat sebagai ruang pembangunan nalar kritis terhadap realitas sosial yang menyimpang,” ungkap Rosida.
Lihat Juga :