Review Film A Shuttlecock to Tomorrow: Romansa nan Manis dan Tetap Sportif
Rabu, 21 Februari 2024 - 14:43 WIB
Film pendek A Shuttlecock to Tomorrow mengisahkan cinta seorang calon atlet yang terhambat restu ibu. Foto/Vidsee
JAKARTA - Siapa yang dulu punya cita-cita jadi atlet? Sesungguhnya, banyak cerita tentang para orang tua pada masa itu yang tidak mendukung anak-anaknya berkarier profesional dalam dunia olahraga.
Khususnya para generasi yang lahir sebelum tahun 2000-an masih erat dengan doktrin, “Sulit menggantungkan hidup kalau menjadi atlet“. Namun lain dulu, lain sekarang.
Sebuah film pendek berjudul A Shuttlecock to Tomorrow memotret sekelumit kisah kehidupan seorang atlet wanna be hanya dalam durasi kurang dari sembilan menit. Film ini diputar di Viddsee, sebuah platform yang menyajikan karya kreatif berupa film dari kreator-kreator indie. Viddsee dapat diakses via situs ataupun aplikasi.
Baca Juga: Review Film The Three Blackbirds: Homoseksualitas dalam Keluarga Islami
A Shuttlecock to Tomorrow membuka ceritanya dengan kisah romansa muda mudi SMA yang sedang bermain bulu tangkis. Tampak si pemudi adalah calon atlet bulu tangkis yang sedang berlatih dengan kekasihnya untuk persiapan audisi esok hari.
Latar tempat di sebuah rumah susun memperlihatkan bahwa mereka datang dari keluarga ekonomi menengah ke bawah.
Sesungguhnya, film ini bergenre romantis.
Mereka berjibaku dengan restu ibu si pemudi yang tak kunjung hadir. Bagi si Ibu, kehadiran si pemuda dianggap mempersulit Langkah anaknya menjadi atlet.
Pendapat Ibu bukan tanpa alasan. Pengalaman hidup Ibu dulu yang berprestasi pun sekarang tak makmur. Padahal dulu ia pernah menjadi tim finalis Piala Uber dan meraih medali perak dalam ajang PON. Mirisnya, dengan prestasi yang dianggap gemilang tak membantu kehidupan mereka sekarang.
Menurut si Ibu, kalau dulu atlet kurang diperhatikan, sekarang justru lebih baik asal bisa masuk audisi. Menjadi atlet sejak muda sekarang lebih menjanjikan kesejahteraan karena ada beasiswa untuk sekolah. Namun, sayangnya, si pemudi tak kunjung lolos di audisi tingkat profesional.
Sayangnya, prestasi gemilang tak menjamin hidup layak saat usia senja. Ia bahkan pernah bekerja sebagai penjaga klub malam dan berakhir di penjara. Pada 2005, dia tertangkap karena kasus narkoba. Informasi terakhir pada 2017, Ellyas terkena serangan jantung dan belum benar-benar pulih setelahnya.
Foto: Vidsee
Tak hanya Ellyas, Verawaty Fajrin pun mengalami hal yang hampir sama. Prestasinya mengharumkan nama Indonesia dalam ajang bulu tangkis hingga mendunia seperti sia-sia. Padahal setidaknya 12 medali emas Sea Games sudah dia kumpulkan.
Sekitar tahun 2021, Verawaty dikabarkan menderita kanker paru-paru. Perawatan sudah dilakukan, tetapi tidak ada bantuan dari pemerintah yang memudahkannya berobat. Saat itu, dia dipersulit untuk mendapat kamar di RS Dharmais. Kasus ini sempat viral sampai kemudian Presiden Joko Widodo membantunya.
Khususnya para generasi yang lahir sebelum tahun 2000-an masih erat dengan doktrin, “Sulit menggantungkan hidup kalau menjadi atlet“. Namun lain dulu, lain sekarang.
Sebuah film pendek berjudul A Shuttlecock to Tomorrow memotret sekelumit kisah kehidupan seorang atlet wanna be hanya dalam durasi kurang dari sembilan menit. Film ini diputar di Viddsee, sebuah platform yang menyajikan karya kreatif berupa film dari kreator-kreator indie. Viddsee dapat diakses via situs ataupun aplikasi.
Baca Juga: Review Film The Three Blackbirds: Homoseksualitas dalam Keluarga Islami
A Shuttlecock to Tomorrow membuka ceritanya dengan kisah romansa muda mudi SMA yang sedang bermain bulu tangkis. Tampak si pemudi adalah calon atlet bulu tangkis yang sedang berlatih dengan kekasihnya untuk persiapan audisi esok hari.
Latar tempat di sebuah rumah susun memperlihatkan bahwa mereka datang dari keluarga ekonomi menengah ke bawah.
Sesungguhnya, film ini bergenre romantis.
Mereka berjibaku dengan restu ibu si pemudi yang tak kunjung hadir. Bagi si Ibu, kehadiran si pemuda dianggap mempersulit Langkah anaknya menjadi atlet.
Pendapat Ibu bukan tanpa alasan. Pengalaman hidup Ibu dulu yang berprestasi pun sekarang tak makmur. Padahal dulu ia pernah menjadi tim finalis Piala Uber dan meraih medali perak dalam ajang PON. Mirisnya, dengan prestasi yang dianggap gemilang tak membantu kehidupan mereka sekarang.
Menurut si Ibu, kalau dulu atlet kurang diperhatikan, sekarang justru lebih baik asal bisa masuk audisi. Menjadi atlet sejak muda sekarang lebih menjanjikan kesejahteraan karena ada beasiswa untuk sekolah. Namun, sayangnya, si pemudi tak kunjung lolos di audisi tingkat profesional.
Profesi Atlet dan Jaminan Hidupnya Kini
Bukan rahasia banyak atlet yang hidupnya merana setelah pensiun. Salah satu contohnya Ellyas Pical. Ellyas melegenda di dekade 1980-an. Ia pernah menjuarai tinju dunia kelas bantam junior pada 1985.Sayangnya, prestasi gemilang tak menjamin hidup layak saat usia senja. Ia bahkan pernah bekerja sebagai penjaga klub malam dan berakhir di penjara. Pada 2005, dia tertangkap karena kasus narkoba. Informasi terakhir pada 2017, Ellyas terkena serangan jantung dan belum benar-benar pulih setelahnya.
Foto: Vidsee
Tak hanya Ellyas, Verawaty Fajrin pun mengalami hal yang hampir sama. Prestasinya mengharumkan nama Indonesia dalam ajang bulu tangkis hingga mendunia seperti sia-sia. Padahal setidaknya 12 medali emas Sea Games sudah dia kumpulkan.
Sekitar tahun 2021, Verawaty dikabarkan menderita kanker paru-paru. Perawatan sudah dilakukan, tetapi tidak ada bantuan dari pemerintah yang memudahkannya berobat. Saat itu, dia dipersulit untuk mendapat kamar di RS Dharmais. Kasus ini sempat viral sampai kemudian Presiden Joko Widodo membantunya.
Lihat Juga :