Kangen Mendiang Istri, Clift Sangra Tulis Puisi Rindu untuk Suzzanna
Rabu, 25 Maret 2026 - 16:45 WIB
Clift Sangra. Foto: Soraya Intercine Films
JAKARTA - Aktor Clift Sangra menulis puisi yang penuh kerinduan untuk mendiang istrinya, Suzzanna . Bait-bait puisi penuh emosi tersebut hadir ke ruang publik hampir bersamaan dengan penayangan film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa mulai 18 Maret 2026. Kata-kata dalam puisi itu sederhana namun sarat perasaan tentang cinta yang tak pernah selesai.
Dalam baitnya, Clift menuliskan rasa kehilangan yang masih hidup. “Aku sangat merindukanmu sejak kau pergi,” tulisnya. Ia tidak berbicara tentang legenda atau ketenaran. Sebaliknya, Clift mengenang sosok perempuan yang dekat dan hangat. Kenangan itu membingkai Suzzanna sebagai pribadi, bukan sekadar ikon.
Clift kemudian mengingat keseharian kecil yang begitu berarti baginya. “Bagiku, kau perempuan yang tertawa pelan di rumah,” tulisnya. Ia menambahkan tentang genggaman tangan yang memberi ketenangan. Kenangan sederhana itu justru terasa abadi. Di tengah citra horor yang melekat, sisi manusiawi menjadi pusat cerita. Puisi itu seperti membuka pintu kenangan yang lama terkunci.
Baca Juga : Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Horor dalam Balutan Dendam dan Cinta
Selain itu, Clift menyisipkan ketakutan yang jarang diungkapkan banyak orang. “Aku takut lupa suara tawamu yang sederhana,” tuturnya. Pernyataan itu mengandung kegelisahan yang sangat personal. Ia bukan takut kehilangan lagi, melainkan takut melupakan. Karena itu, puisi menjadi cara menjaga ingatan tetap hidup. Setiap kata terasa sebagai upaya melawan waktu.
Puisi Clift mencapai puncaknya pada pengakuan tentang cinta yang tak usai. “Cintaku tak pernah belajar cara berpamitan.” Kalimat tersebut menjadi inti dari keseluruhan makna puisinya. Ia juga menyampaikan terima kasih atas kebersamaan yang pernah ada. Di akhir bait, terselip permintaan maaf yang tulus dan dalam. Emosi tersebut terasa mengendap namun kuat.
Dalam baitnya, Clift menuliskan rasa kehilangan yang masih hidup. “Aku sangat merindukanmu sejak kau pergi,” tulisnya. Ia tidak berbicara tentang legenda atau ketenaran. Sebaliknya, Clift mengenang sosok perempuan yang dekat dan hangat. Kenangan itu membingkai Suzzanna sebagai pribadi, bukan sekadar ikon.
Clift kemudian mengingat keseharian kecil yang begitu berarti baginya. “Bagiku, kau perempuan yang tertawa pelan di rumah,” tulisnya. Ia menambahkan tentang genggaman tangan yang memberi ketenangan. Kenangan sederhana itu justru terasa abadi. Di tengah citra horor yang melekat, sisi manusiawi menjadi pusat cerita. Puisi itu seperti membuka pintu kenangan yang lama terkunci.
Baca Juga : Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Horor dalam Balutan Dendam dan Cinta
Selain itu, Clift menyisipkan ketakutan yang jarang diungkapkan banyak orang. “Aku takut lupa suara tawamu yang sederhana,” tuturnya. Pernyataan itu mengandung kegelisahan yang sangat personal. Ia bukan takut kehilangan lagi, melainkan takut melupakan. Karena itu, puisi menjadi cara menjaga ingatan tetap hidup. Setiap kata terasa sebagai upaya melawan waktu.
Puisi Clift mencapai puncaknya pada pengakuan tentang cinta yang tak usai. “Cintaku tak pernah belajar cara berpamitan.” Kalimat tersebut menjadi inti dari keseluruhan makna puisinya. Ia juga menyampaikan terima kasih atas kebersamaan yang pernah ada. Di akhir bait, terselip permintaan maaf yang tulus dan dalam. Emosi tersebut terasa mengendap namun kuat.
Lihat Juga :