Kumpulan Puisi Kemerdekaan untuk Menyambut HUT ke-76 RI

Senin, 09 Agustus 2021 - 15:00 WIB
Ilustrasi puisi/dok sindonews
JAKARTA - Hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus tak lepas dari andil para sastrawan klasik. Turut membantu mengobarkan semangat lewat sajak-sajaknya, sastrawan menjadi kaum yang dielukan dan harum namanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Karya sastra dianggap sebagai salahsatu cara penyampaian berita yang non-konvensional. Tak hanya berbentuk prosa, pada zaman perjuangan beberapa kabar juga disampaikan lewat puisi sebagai kode yang, selain berbunyi indah, juga menyimpan makna penting di dalamnya.

Dalam semangat kemerdekaan, MNC Portal telah rangkumkan dari berbagai sumber beberapa puisi yang bertema perjuangan rakyat dan semangat pantang menyerah di bawah ini untuk menyambut HUT ke-76 RI :

1. Karawang Bekasi (Chairil Anwar)

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi

Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami

Terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu

Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang-kenanglah kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Syahrir

Kami sekarang mayat

Berilah kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

Baca Juga: Mengenang Presiden Soekarno melalui Puisi 'Kata Bung Karno'

2. Prajurit Jaga Malam (Chairil Anwar)


Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian

ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

3. Gerilya (W.S. Rendra)

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki berguling di jalan

Angin tergantung

terkecap pahitnya tembakau

bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki berguling dijalan

Dengan tujuh lubang pelor

diketuk gerbang langit

dan menyala mentari muda

melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah

dengan sayur-mayur di punggung

melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis

dan duka daun wortel
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!