CERMIN: tentang Roy yang Tak Punya Waktu Berduka
Rabu, 25 Januari 2023 - 14:58 WIB
loading...
A
A
A
Tapi satu hal yang saya pahami: Roy adalah sosok remaja yang dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Ayahnya meninggal dunia saat ia sedang butuh-butuhnya figur yang bisa diteladaninya. Hidup terasa berjalan tergesa-gesa di sekeliling Roy.
Ibunya tak memberinya waktu untuk berduka dan menyeretnya pergi meninggalkan kota Bandung yang dicintainya menuju ke tanah yang asing. Lalu di tanah asing itu pun, Roy kembali harus mengalami kehilangan tanpa punya waktu untuk berduka.
![CERMIN: tentang Roy yang Tak Punya Waktu Berduka]()
Foto: IDN Pictures
Dalam soal kehilangan, saya mencoba terhubung dengan Roy. Saya pun kehilangan sosok orang tua pada usia yang sama dengan Roy. Dunia saya runtuh seketika. Tapi saya beruntung Ayah saya membiarkan dunia saya berjalan lebih lambat dari biasanya selama beberapa waktu.
Saya punya waktu untuk menangis dan berduka. Saya tak perlu harus terus menjadi laki-laki yang dicitrakan untuk selalu tangguh dalam keadaan apa pun. Seperti Roy.
Begitupun sekuat tenaga saya mencoba terhubung dengan Roy, penggambarannya dalam film membuat proses itu tak berjalan mudah. Saya mengenalinya sepotong demi sepotong dan tak pernah mendapatkan kesan yang utuh akan sosoknya.
Ada begitu banyak dimensi dari Roy yang ingin dibongkar tapi tak pernah selesai. Dan hingga film selesai, saya tak pernah benar-benar bisa mengenal Roy.
Padahal Balada Si Roybisa menjadi pintu masuk yang asyik untuk bercerita tentang masa lalu dan resonansinya dengan yang terjadi saat ini. Kita tahu waktu kadang berjalan melalui siklus. Apa yang terjadi pada tahun 1987 mungkin sekali bisa kembali terjadi saat ini.
![CERMIN: tentang Roy yang Tak Punya Waktu Berduka]()
Foto: IDN Pictures
Ibunya tak memberinya waktu untuk berduka dan menyeretnya pergi meninggalkan kota Bandung yang dicintainya menuju ke tanah yang asing. Lalu di tanah asing itu pun, Roy kembali harus mengalami kehilangan tanpa punya waktu untuk berduka.

Foto: IDN Pictures
Dalam soal kehilangan, saya mencoba terhubung dengan Roy. Saya pun kehilangan sosok orang tua pada usia yang sama dengan Roy. Dunia saya runtuh seketika. Tapi saya beruntung Ayah saya membiarkan dunia saya berjalan lebih lambat dari biasanya selama beberapa waktu.
Saya punya waktu untuk menangis dan berduka. Saya tak perlu harus terus menjadi laki-laki yang dicitrakan untuk selalu tangguh dalam keadaan apa pun. Seperti Roy.
Begitupun sekuat tenaga saya mencoba terhubung dengan Roy, penggambarannya dalam film membuat proses itu tak berjalan mudah. Saya mengenalinya sepotong demi sepotong dan tak pernah mendapatkan kesan yang utuh akan sosoknya.
Ada begitu banyak dimensi dari Roy yang ingin dibongkar tapi tak pernah selesai. Dan hingga film selesai, saya tak pernah benar-benar bisa mengenal Roy.
Padahal Balada Si Roybisa menjadi pintu masuk yang asyik untuk bercerita tentang masa lalu dan resonansinya dengan yang terjadi saat ini. Kita tahu waktu kadang berjalan melalui siklus. Apa yang terjadi pada tahun 1987 mungkin sekali bisa kembali terjadi saat ini.

Foto: IDN Pictures
Lihat Juga :