CERMIN: Kesombongan Itu Bernama Titanic
Sabtu, 11 Februari 2023 - 06:55 WIB
loading...
A
A
A
Kisah cinta Jack dan Rose tentu saja fiktif tapi James membuat kita percaya bahwa bisa saja cerita tersebut memang terjadi pada setiap zaman. Kali ini kisah cinta tersebut mendapatkan momentum ketika keduanya bertemu sesaat sebelum RMS Titanic menabrak gunung es, menghanyutkan seluruh isinya, mengakibatkan kematian lebih dari 1500 orang dan tenggelam hingga ke kedalaman lebih dari 3800 meter.
![CERMIN: Kesombongan Itu Bernama Titanic]()
Foto: Paramount Pictures
Rose dan Jack adalah dua anak muda yang ingin melawan takdir dan percaya bahwa nasib mereka tak akan diputuskan oleh garis keturunan atau jumlah kekayaan orang tua mereka. Rose dan Jack adalah dua anak muda yang percaya pada kemurnian cinta dan mencoba memperjuangkan cinta hingga akhir hayat.
Jika pun Jack tak meninggal karena kedinginan terapung di tengah lautan, toh kita sebenarnya tahu cinta mereka sesungguhnya tak akan bertahan. Dan kemurnian cinta mereka diselamatkan oleh kematian. How romantic.
Sesekali kita memang perlu menjadi romantis. Di tengah dunia yang bergerak tergesa, serba cepat dan kadang tak mengindahkan lagi soal isi, romantisme mungkin diperlukan untuk mengisi bagian hati yang terasa hampa selama beberapa waktu.
Di tengah dunia yang melulu berbicara soal materialisme, romantisme adalah penyelamat bahwa cinta tak memerlukan ukuran-ukuran tertentu. Ia perlu berjalan di tengah ketidakpastian, perlu menarik napas di tengah sesaknya kita pada penat duniawi dan kita memerlukannya untuk memberitahu bahwa kita adalah manusia, bukan benda yang bisa dibeli.
Maka Titanicmenjadi jendela bagi James untuk menjelaskan segala pergesekan. Dan ketika RMS Titanic menggesek gunung es dan membuat air laut tumpah ruah ke dalamnya, kita melihat James membongkar segala kesombongan, kemunafikan, dan segala hal materialistik saling bergesekan. Rose dan Jack tak peduli dengan segala pergesekan itu dan hanya percaya bahwa cinta mereka nyata dan tak terpisahkan.
![CERMIN: Kesombongan Itu Bernama Titanic]()
Foto: Paramount Pictures
Setelah 25 tahun berlalu sejak Titanicpertama kali diputar, kita masih tergugah dengan detik-detik menjelang para korban dijemput malaikat maut. Saya menangis ketika melihat seorang ibu menidurkan dua anaknya, pasangan lanjut usia dengan raut wajah ketakutan berpelukan di ranjang, dan kapten kapal yang gagah berani ikut tenggelam di dalam kapal yang konon “tak bisa tenggelam”.

Foto: Paramount Pictures
Rose dan Jack adalah dua anak muda yang ingin melawan takdir dan percaya bahwa nasib mereka tak akan diputuskan oleh garis keturunan atau jumlah kekayaan orang tua mereka. Rose dan Jack adalah dua anak muda yang percaya pada kemurnian cinta dan mencoba memperjuangkan cinta hingga akhir hayat.
Jika pun Jack tak meninggal karena kedinginan terapung di tengah lautan, toh kita sebenarnya tahu cinta mereka sesungguhnya tak akan bertahan. Dan kemurnian cinta mereka diselamatkan oleh kematian. How romantic.
Sesekali kita memang perlu menjadi romantis. Di tengah dunia yang bergerak tergesa, serba cepat dan kadang tak mengindahkan lagi soal isi, romantisme mungkin diperlukan untuk mengisi bagian hati yang terasa hampa selama beberapa waktu.
Di tengah dunia yang melulu berbicara soal materialisme, romantisme adalah penyelamat bahwa cinta tak memerlukan ukuran-ukuran tertentu. Ia perlu berjalan di tengah ketidakpastian, perlu menarik napas di tengah sesaknya kita pada penat duniawi dan kita memerlukannya untuk memberitahu bahwa kita adalah manusia, bukan benda yang bisa dibeli.
Maka Titanicmenjadi jendela bagi James untuk menjelaskan segala pergesekan. Dan ketika RMS Titanic menggesek gunung es dan membuat air laut tumpah ruah ke dalamnya, kita melihat James membongkar segala kesombongan, kemunafikan, dan segala hal materialistik saling bergesekan. Rose dan Jack tak peduli dengan segala pergesekan itu dan hanya percaya bahwa cinta mereka nyata dan tak terpisahkan.

Foto: Paramount Pictures
Setelah 25 tahun berlalu sejak Titanicpertama kali diputar, kita masih tergugah dengan detik-detik menjelang para korban dijemput malaikat maut. Saya menangis ketika melihat seorang ibu menidurkan dua anaknya, pasangan lanjut usia dengan raut wajah ketakutan berpelukan di ranjang, dan kapten kapal yang gagah berani ikut tenggelam di dalam kapal yang konon “tak bisa tenggelam”.
Lihat Juga :