CERMIN: Selamat Tinggal, Ted!
Jum'at, 02 Juni 2023 - 13:40 WIB
loading...
A
A
A
Selama tiga musim, kita melihat serial ini bertumbuh dan semakin cemerlang kualitasnya dari waktu ke waktu. Kita juga melihat karakter-karakternya diberi ruang lebar untuk bertumbuh, memperlihatkan bahwa mereka juga manusia, bukan sekadar wayang yang ditiupkan nyawa oleh para penulis skenario. Terutama kita melihat Ted berjuang untuk tak lagi sekadar membahagiakan sekelilingnya tapi terutama menjadi bahagia untuk dirinya sendiri.
Bagi pembuat film seperti saya, menonton Ted Lassoadalah cara belajar paling efektif tentang cara membuat cerita/skenario yang tak cuma efektif, tapi juga memberi rasa hangat di hati penonton.
![CERMIN: Selamat Tinggal, Ted!]()
Foto: Apple TV
Semua pembuat film/serial/miniseri di Indonesia wajib belajar dari serial ini dengan segala kompleksitas ceritanya, dengan begitu banyak karakter di dalamnya, tapi mampu menjaga fokus dari musim ke musim, dari episode ke episode hingga berakhir di episode 34 di musim ke-3 pada Rabu (31/5) kemarin.
Selama tiga tahun, kita melihat Ted Lassosebagaimana yang kita jalani dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang ingin menulis ulang hidupnya, menjalani kehidupan baru di tempat baru yang sesungguhnya serba sulit tapi dijalani dengan ikhlas.
Jika tak ikhlas, Ted mungkin bisa berang tiap hari setiap melihat perkembangan timnya yang sering kali lamban. Jika tak menjalani sepenuh hati, Ted mungkin akan pulang ke Amerika. Tapi ia bertahan sebagaimana kita yang bertahan menjalani hari demi hari.
Sebagai seorang pelatih klub sepak bola, Ted dipaksa untuk belajar mengelola manusia. Pemain-pemainnya bukan robot yang bisa disetel sesuka hatinya. Mereka punya hati, punya kehidupan, yang perlu untuk diketahui.
Manajer, humas hingga tukang bersih-bersih di klub adalah manusia yang juga perlu perhatian dari Ted. Tapi ketika Ted bisa memperhatikan semua orang dan bisa begitu peduli pada mereka, siapa yang akan peduli padanya?
![CERMIN: Selamat Tinggal, Ted!]()
Foto: Apple TV
Bagi pembuat film seperti saya, menonton Ted Lassoadalah cara belajar paling efektif tentang cara membuat cerita/skenario yang tak cuma efektif, tapi juga memberi rasa hangat di hati penonton.

Foto: Apple TV
Semua pembuat film/serial/miniseri di Indonesia wajib belajar dari serial ini dengan segala kompleksitas ceritanya, dengan begitu banyak karakter di dalamnya, tapi mampu menjaga fokus dari musim ke musim, dari episode ke episode hingga berakhir di episode 34 di musim ke-3 pada Rabu (31/5) kemarin.
Selama tiga tahun, kita melihat Ted Lassosebagaimana yang kita jalani dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang ingin menulis ulang hidupnya, menjalani kehidupan baru di tempat baru yang sesungguhnya serba sulit tapi dijalani dengan ikhlas.
Jika tak ikhlas, Ted mungkin bisa berang tiap hari setiap melihat perkembangan timnya yang sering kali lamban. Jika tak menjalani sepenuh hati, Ted mungkin akan pulang ke Amerika. Tapi ia bertahan sebagaimana kita yang bertahan menjalani hari demi hari.
Sebagai seorang pelatih klub sepak bola, Ted dipaksa untuk belajar mengelola manusia. Pemain-pemainnya bukan robot yang bisa disetel sesuka hatinya. Mereka punya hati, punya kehidupan, yang perlu untuk diketahui.
Manajer, humas hingga tukang bersih-bersih di klub adalah manusia yang juga perlu perhatian dari Ted. Tapi ketika Ted bisa memperhatikan semua orang dan bisa begitu peduli pada mereka, siapa yang akan peduli padanya?

Foto: Apple TV
Lihat Juga :