SOROT: Film Berlatar Daerah Juga Bisa Laris, Kok
loading...

Film Ngeri-Ngeri Sedap yang banyak memakai bahasa Batak berhasil menjual hampir tiga juta tiket bioskop.Foto/Imajinari Visionari Film Fund
A
A
A
JAKARTA - Hampir tujuh tahun silam, sejarah terukir dalam industri film Indonesia. Film Uang Panaiyang secara keseluruhan menggunakan pemain dan kru asli Makassar sanggup melawan dominasi film nasional.
Dirilis terbatas sejak 25 Agustus 2016, tak disangka film tersebut mendapatkan perhatian besar dan kelak menjadi film daerah terlaris hingga saat ini dengan perolehan penonton lebih dari 600 ribu orang.
Saya menyaksikan Uang Panaidi salah satu bioskop di Makassar ketika sedang mempersiapkan produksi film SILARIANG: Cinta Yang (Tak) Direstuiyang juga berlatar Bugis Makassar. Saya tak ingin membicarakan soal kualitas filmnya, tapi lebih tertarik pada bagaimana penonton merespons film tersebut, menganggapnya relevan dengannya, mempromosikannya ke sesama teman lainnya dan tahu-tahu hanya dalam waktu seminggu, Uang Panaisudah ditonton lebih dari 200 ribu orang.
Makassar sejak dulu memang menjadi salah satu parameter sukses film nasional. Saya mengawali karier sebagai promotor film pada awal tahun 2000-an dan membawa lebih dari 20 film nasional untuk dipromosikan dan diputar perdana di Makassar. Antusiasmenya memang selalu besar. Saya ingat betul ketika kami mempromosikan film Jakarta Undercover pada2006.
![SOROT: Film Berlatar Daerah Juga Bisa Laris, Kok]()
SILARIANG: Cinta Yang (Tak) Direstui. Foto:Indonesia Sinema Persada
Ketika kami baru tiba di hotel di Makassar untuk check-in bersama Moammar Emka, Lukman Sardi, dan Fachri Albar, seorang pengunjung hotel yang melihat kami langsung berseru bahwa tiket pemutaran perdana Jakarta Undercoverdi Panakkukang 21 langsung ludes tak sampai sejam setelah loket dibuka. Makassar memang menjadi salah satu kota istimewa tempat kami bisa memutar film yang menampilkan Luna Maya sebagai penari seksi itu secara perdana dalam pertunjukan khusus tengah malam (midnight show).
Jadi ketika pada akhirnya film lokal direspons sangat meriah oleh publiknya sendiri, saya sama sekali tak heran. Setelah era Bombeyang menjebol jaringan bioskop besar pada 2014, saya tahu akan tiba waktunya film Makassar menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri.
SILARIANG: Cinta Yang (Tak) Direstui” diproduksi dengan metode berbeda dari Uang Panai. Kami membawa sutradara, penulis skenario, produser hingga kru kunci bersama tiga pemain dari Jakarta untuk lantas berkolaborasi dengan pemain dan kru dari Makassar. Ada niat baik dari penerapan sistem kolaborasi ini yaitu agar terjadi transfer ilmu dalam praktik terutama kepada kru Makassar yang hampir seluruhnya belum pernah terlibat dalam produksi film nasional sehingga standardisasi metode produksi industri bisa dicapai.
Hasilnya meski tak selaris Uang Panai, SILARIANG: Cinta Yang (Tak) Direstui” dipujikan atas kualitas artistik dari keseluruhan filmnya. Yang tak kalah penting adalah memunculkan bintang-bintang baru dari Makassar yang kelak berkecimpung dalam beberapa judul film nasional.
Dirilis terbatas sejak 25 Agustus 2016, tak disangka film tersebut mendapatkan perhatian besar dan kelak menjadi film daerah terlaris hingga saat ini dengan perolehan penonton lebih dari 600 ribu orang.
Saya menyaksikan Uang Panaidi salah satu bioskop di Makassar ketika sedang mempersiapkan produksi film SILARIANG: Cinta Yang (Tak) Direstuiyang juga berlatar Bugis Makassar. Saya tak ingin membicarakan soal kualitas filmnya, tapi lebih tertarik pada bagaimana penonton merespons film tersebut, menganggapnya relevan dengannya, mempromosikannya ke sesama teman lainnya dan tahu-tahu hanya dalam waktu seminggu, Uang Panaisudah ditonton lebih dari 200 ribu orang.
Baca Juga :
SOROT: Pembuktian Film Indonesia pada Tahun 2023
Makassar sejak dulu memang menjadi salah satu parameter sukses film nasional. Saya mengawali karier sebagai promotor film pada awal tahun 2000-an dan membawa lebih dari 20 film nasional untuk dipromosikan dan diputar perdana di Makassar. Antusiasmenya memang selalu besar. Saya ingat betul ketika kami mempromosikan film Jakarta Undercover pada2006.

SILARIANG: Cinta Yang (Tak) Direstui. Foto:Indonesia Sinema Persada
Ketika kami baru tiba di hotel di Makassar untuk check-in bersama Moammar Emka, Lukman Sardi, dan Fachri Albar, seorang pengunjung hotel yang melihat kami langsung berseru bahwa tiket pemutaran perdana Jakarta Undercoverdi Panakkukang 21 langsung ludes tak sampai sejam setelah loket dibuka. Makassar memang menjadi salah satu kota istimewa tempat kami bisa memutar film yang menampilkan Luna Maya sebagai penari seksi itu secara perdana dalam pertunjukan khusus tengah malam (midnight show).
Jadi ketika pada akhirnya film lokal direspons sangat meriah oleh publiknya sendiri, saya sama sekali tak heran. Setelah era Bombeyang menjebol jaringan bioskop besar pada 2014, saya tahu akan tiba waktunya film Makassar menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri.
SILARIANG: Cinta Yang (Tak) Direstui” diproduksi dengan metode berbeda dari Uang Panai. Kami membawa sutradara, penulis skenario, produser hingga kru kunci bersama tiga pemain dari Jakarta untuk lantas berkolaborasi dengan pemain dan kru dari Makassar. Ada niat baik dari penerapan sistem kolaborasi ini yaitu agar terjadi transfer ilmu dalam praktik terutama kepada kru Makassar yang hampir seluruhnya belum pernah terlibat dalam produksi film nasional sehingga standardisasi metode produksi industri bisa dicapai.
Hasilnya meski tak selaris Uang Panai, SILARIANG: Cinta Yang (Tak) Direstui” dipujikan atas kualitas artistik dari keseluruhan filmnya. Yang tak kalah penting adalah memunculkan bintang-bintang baru dari Makassar yang kelak berkecimpung dalam beberapa judul film nasional.
Lihat Juga :