Review Film Indiana Jones and the Dial of Destiny: Awal Seru, Klimaks Lesu
Rabu, 28 Juni 2023 - 22:42 WIB
loading...
A
A
A
Disutradarai James Mangold, Dial of Destiny tidak kekurangan aksi. Dari menit pertama, film ini sudah menampilkan adegan yang intensif dan diselingi aksi yang lumayan kocak. Sementara, adegan paling seru, konyol, dan intensif adalah ketika Indy dkk berusaha mengejar Jurgen dkk dengan bajaj, dan mereka dikejar rombongan cowok yang suka pada Helena.
Hingga menjelang klimaks, film ini masih punya cerita dan aksi yang solid. Namun, di klimaks atau act 3-nya, ceritanya jadi agak aneh. Penonton lain mungkin suka. Tapi bagi saya, pemilihan latar untuk klimaks ini tidak populer dan cenderung merusak cerita yang sudah cukup bagus hingga titik tersebut.
![Review Film Indiana Jones and the Dial of Destiny: Awal Seru, Klimaks Lesu]()
Foto: Disney
Alih-alih menutup semua loose end, klimaks ini malah membuka pertanyaan baru. Plot hole yang ditinggalkan pun cukup besar dan tidak terjawab sampai film ini berakhir. Inilah yang bikin The Dial of Destiny jadi agak mengecewakan.
Meskipun, bisa dipahami mengapa penulis dan sutradara film ini memilih ending tersebut. Ending ini memang terkait keseluruhan cerita. Tapi, agak susah dicerna dan membuat ceritanya jadi kurang seru. Padahal, masih ada pilihan lain atau setting lain yang bisa membuatnya menjadi ending yang lebih sempurna.
Penampilan Harrison Ford sebagai Indiana Jones tidak perlu diragukan. Melakoni de-aging, Harrison tetap memperlihatkan kemampuan aktingnya yang prima. Sementara, Phoebe Waller-Bridge juga tampil bagus sebagai karakter baru. Namun, pencuri perhatian di film ini adalah Ethann Isidore yang memerankan Teddy, karakter bocah yang membantu Indy dan Helena.
![Review Film Indiana Jones and the Dial of Destiny: Awal Seru, Klimaks Lesu]()
Foto: Disney
Langganan karakter penjahat, Mads Mikkelsen mampu menampilkan sosok yang dingin sebagai seorang patriot Nazi. Meski tak sekejam Hannibal, tapi, Jurgen Voller punya kepribadian yang membuatnya berbahaya. Selain sangat mengayomi pandangan Nazi, dia juga seorang ilmuwan. Kombinasi ini jelas berbahaya.
Hingga menjelang klimaks, film ini masih punya cerita dan aksi yang solid. Namun, di klimaks atau act 3-nya, ceritanya jadi agak aneh. Penonton lain mungkin suka. Tapi bagi saya, pemilihan latar untuk klimaks ini tidak populer dan cenderung merusak cerita yang sudah cukup bagus hingga titik tersebut.

Foto: Disney
Alih-alih menutup semua loose end, klimaks ini malah membuka pertanyaan baru. Plot hole yang ditinggalkan pun cukup besar dan tidak terjawab sampai film ini berakhir. Inilah yang bikin The Dial of Destiny jadi agak mengecewakan.
Meskipun, bisa dipahami mengapa penulis dan sutradara film ini memilih ending tersebut. Ending ini memang terkait keseluruhan cerita. Tapi, agak susah dicerna dan membuat ceritanya jadi kurang seru. Padahal, masih ada pilihan lain atau setting lain yang bisa membuatnya menjadi ending yang lebih sempurna.
Penampilan Harrison Ford sebagai Indiana Jones tidak perlu diragukan. Melakoni de-aging, Harrison tetap memperlihatkan kemampuan aktingnya yang prima. Sementara, Phoebe Waller-Bridge juga tampil bagus sebagai karakter baru. Namun, pencuri perhatian di film ini adalah Ethann Isidore yang memerankan Teddy, karakter bocah yang membantu Indy dan Helena.

Foto: Disney
Langganan karakter penjahat, Mads Mikkelsen mampu menampilkan sosok yang dingin sebagai seorang patriot Nazi. Meski tak sekejam Hannibal, tapi, Jurgen Voller punya kepribadian yang membuatnya berbahaya. Selain sangat mengayomi pandangan Nazi, dia juga seorang ilmuwan. Kombinasi ini jelas berbahaya.
Lihat Juga :