SOROT: 'Sosok Ketiga' Ikuti 'Waktu Maghrib' sebagai Film Horor dari Cerita Asli Terlaris Tahun 2023
Sabtu, 08 Juli 2023 - 08:54 WIB
loading...
A
A
A
Waktu Maghribpun akhirnya menjadi salah satu film horor percontohan tahun ini. Bahwa horor selayaknya masih bisa dibikin menarik, tak sekadar menghibur dan masih bisa mencari cara yang inventif untuk menakut-nakuti penonton.
Dengan serbuan puluhan film horor Indonesia hingga akhir tahun ini, kita sebagai penonton mesti cerdik memilah mana saja film yang pantas mendapat waktu, energi, dan uang kita untuk bisa ditonton di bioskop.
![SOROT: 'Sosok Ketiga' Ikuti 'Waktu Maghrib' sebagai Film Horor dari Cerita Asli Terlaris Tahun 2023]()
Foto: Rapi Films
Tapi bagaimana dengan film Sosok Ketiga? Begini sinopsis singkat dari film yang dirilis di bioskop sejak 22 Juni tersebut.
Akhirnya Anton jatuh hati dan menikah dengan Yuni yang juga adalah sahabat dari istrinya sendiri, Nuri. Padahal Yuni dan Nuri sudah bertukar janji tidak akan saling merebut pasangan sahabatnya tapi Nuri mengikhlaskan karena telah beberapa kali mengalami keguguran.
Pada akhirnya Nuri merasa kecewa karena Anton tidak memenuhi janjinya untuk bersikap adil. Yuni mendapatkan teror gaib di masa kehamilannya hingga jatuh sakit. Hal ini juga membawanya ke dalam konflik dengan Bude yang membuatnya memilih Nuri untuk menjaganya selama Anton pergi keluar kota.
Apakah yang akan terjadi apabila istri pertama dan istri kedua berada dalam satu atap? Ibu Yuni menyadari bahaya yang akan terjadi pada anak dan calon cucunya tapi sudah terlambat. Apakah terror gaib terhadap Yuni akan berakhir atau semakin menjadi-jadi?
Membaca sinopsisnya memang langsung terkesan tak ada yang istimewa dari cerita yang disajikan film tersebut. Bahkan di tangan Lele Leila yang membidani film Indonesia terlaris sepanjang masa, KKN di Desa Penari, skenario juga tak memberi nilai tambah.
Kritikus film, Hikmat Darmawan, menulis kritik pendek menyoal film produksi Leo Pictures ini via Letterboxd. “*So what* kalau akting pemeran utamanya buruk, editing-nya kendor, penggunaan kamera dan bahasa visualnya klise, dan adegan horornya tidak original?," tulisnya.
"Film ini memenuhi target yang dipatoknya sendiri: film horor murah yang gamblang, mudah dipahami, dengan moralitas yang jelas. Walau, sebetulnya ada yang menarik: di film ini, "pelakor" bukanlah penjahat (malah ia korban!), dan si "lakor" yang dapat hukuman di akhir film”.
Dengan serbuan puluhan film horor Indonesia hingga akhir tahun ini, kita sebagai penonton mesti cerdik memilah mana saja film yang pantas mendapat waktu, energi, dan uang kita untuk bisa ditonton di bioskop.

Foto: Rapi Films
Tapi bagaimana dengan film Sosok Ketiga? Begini sinopsis singkat dari film yang dirilis di bioskop sejak 22 Juni tersebut.
Akhirnya Anton jatuh hati dan menikah dengan Yuni yang juga adalah sahabat dari istrinya sendiri, Nuri. Padahal Yuni dan Nuri sudah bertukar janji tidak akan saling merebut pasangan sahabatnya tapi Nuri mengikhlaskan karena telah beberapa kali mengalami keguguran.
Pada akhirnya Nuri merasa kecewa karena Anton tidak memenuhi janjinya untuk bersikap adil. Yuni mendapatkan teror gaib di masa kehamilannya hingga jatuh sakit. Hal ini juga membawanya ke dalam konflik dengan Bude yang membuatnya memilih Nuri untuk menjaganya selama Anton pergi keluar kota.
Apakah yang akan terjadi apabila istri pertama dan istri kedua berada dalam satu atap? Ibu Yuni menyadari bahaya yang akan terjadi pada anak dan calon cucunya tapi sudah terlambat. Apakah terror gaib terhadap Yuni akan berakhir atau semakin menjadi-jadi?
Membaca sinopsisnya memang langsung terkesan tak ada yang istimewa dari cerita yang disajikan film tersebut. Bahkan di tangan Lele Leila yang membidani film Indonesia terlaris sepanjang masa, KKN di Desa Penari, skenario juga tak memberi nilai tambah.
Kritikus film, Hikmat Darmawan, menulis kritik pendek menyoal film produksi Leo Pictures ini via Letterboxd. “*So what* kalau akting pemeran utamanya buruk, editing-nya kendor, penggunaan kamera dan bahasa visualnya klise, dan adegan horornya tidak original?," tulisnya.
"Film ini memenuhi target yang dipatoknya sendiri: film horor murah yang gamblang, mudah dipahami, dengan moralitas yang jelas. Walau, sebetulnya ada yang menarik: di film ini, "pelakor" bukanlah penjahat (malah ia korban!), dan si "lakor" yang dapat hukuman di akhir film”.
Lihat Juga :