Review Film Insidious: The Red Door: Klise dengan Plot Lambat
Rabu, 12 Juli 2023 - 10:56 WIB
loading...
A
A
A
Foto: Bloody Disgusting
Sementara, meski sudah 9 tahun berlalu, ternyata, teror hantu dari The Further masih mengancam Josh dan Dalton. Hidup terpisah, tantangan untuk mengalahkan makhluk-makhluk mengerikan itu pun semakin bertambah. Josh dan Dalton juga harus mencari jalan keluar untuk memperbaiki hubungan mereka.
Premis film ini sebenarnya menjanjikan. Sayang, alurnya terlalu lambat dan menampilkan banyak adegan yang tidak diperlukan dalam penceritaannya. Memang, film horor butuh sesuatu untuk membangun nuansanya. Tapi, Insidious sepertinya sudah tidak memerlukan itu karena nuansanya sudah terbangun sejak awal.
Foto: The New York Times
Kehadiran karakter baru seperti Chris dianggap bisa menambah ketebalan film ini. Tapi, Chris, meski keren, hanya berfungsi sebagai pendukung, damsel in distress alias cewek yang harus diselamatkan. Dia tahu apa masalah Dalton, tapi, tidak berusaha mencari tahu apa yang bisa dia lakukan untuk membantunya.
Sementara, salah satu aspek menarik di film ini, dosen Dalton, Armagan, justru tidak dimanfaatkan dengan baik. Sebagai sosok yang diidolakan Dalton, dosen ini malah berfungsi jadi pajangan. Dengan sosoknya yang misterius dan nyentrik, Armagan seharusnya menjadi karakter yang bisa lebih dieksplorasi. Apalagi, Dalton membuat gambar yang aneh dan mengerikan, sulit dikatakan sebagai karya seni.
Foto: The Economic Times
Apa pun, film ini memang memberikan konklusi bagi hubungan keluarga Lambert. Tapi, film ini tidak memberikan konklusi memuaskan bagi para hantu di The Further. Orang bisa jadi kecewa dengan apa yang terjadi kepada mereka. Secara keseluruhan, Insidious: The Red Door adalah film tentang memperbaiki hubungan keluarga dengan bumbu horor. Mungkin, Sony Pictures telah merencanakan sekuel dengan karakter berbeda.
Sementara, meski sudah 9 tahun berlalu, ternyata, teror hantu dari The Further masih mengancam Josh dan Dalton. Hidup terpisah, tantangan untuk mengalahkan makhluk-makhluk mengerikan itu pun semakin bertambah. Josh dan Dalton juga harus mencari jalan keluar untuk memperbaiki hubungan mereka.
Premis film ini sebenarnya menjanjikan. Sayang, alurnya terlalu lambat dan menampilkan banyak adegan yang tidak diperlukan dalam penceritaannya. Memang, film horor butuh sesuatu untuk membangun nuansanya. Tapi, Insidious sepertinya sudah tidak memerlukan itu karena nuansanya sudah terbangun sejak awal.
Foto: The New York Times
Kehadiran karakter baru seperti Chris dianggap bisa menambah ketebalan film ini. Tapi, Chris, meski keren, hanya berfungsi sebagai pendukung, damsel in distress alias cewek yang harus diselamatkan. Dia tahu apa masalah Dalton, tapi, tidak berusaha mencari tahu apa yang bisa dia lakukan untuk membantunya.
Sementara, salah satu aspek menarik di film ini, dosen Dalton, Armagan, justru tidak dimanfaatkan dengan baik. Sebagai sosok yang diidolakan Dalton, dosen ini malah berfungsi jadi pajangan. Dengan sosoknya yang misterius dan nyentrik, Armagan seharusnya menjadi karakter yang bisa lebih dieksplorasi. Apalagi, Dalton membuat gambar yang aneh dan mengerikan, sulit dikatakan sebagai karya seni.
Foto: The Economic Times
Apa pun, film ini memang memberikan konklusi bagi hubungan keluarga Lambert. Tapi, film ini tidak memberikan konklusi memuaskan bagi para hantu di The Further. Orang bisa jadi kecewa dengan apa yang terjadi kepada mereka. Secara keseluruhan, Insidious: The Red Door adalah film tentang memperbaiki hubungan keluarga dengan bumbu horor. Mungkin, Sony Pictures telah merencanakan sekuel dengan karakter berbeda.
Lihat Juga :