Mengajar hingga ke Thailand demi Pendidikan yang Bermutu
Selasa, 28 Juli 2020 - 21:00 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu mahasiswa yang ikut serta dalam program ini adalah Adlina Iskandar Polem. Dia menjadi salah satu partisipan pertukaran (exchange participant) dalam kegiatan sukarelawan untuk SDGs bidang pendidikan bermutu.
Pada awal 2018, dia mengikuti program sukarelawan ke Thailand lewat proyek yang dibuat oleh LSM AIESEC.
AIESEC adalah akronim dari bahasa Prancis, Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (International Association of Students in Economic and Commercial Sciences).
Dalam program yang disebut "Sawasdee Thailand 27" tersebut, Adlina menjadi guru bahasa Inggris untuk siswa usia 5-12 tahun di sebuah sekolah di Thailand selama enam minggu.
![Mengajar hingga ke Thailand demi Pendidikan yang Bermutu]()
Foto: Dok.Adlina Iskandar Polem
"Di tempatku mengajar, latar belakang orang tua siswa di sana adalah petani yang hidup jauh dari perkotaan. Akses menuju sekolah cukup jauh," cerita Adlina.
Kata Adlina, masyarakat di sana menganggap bahasa Inggris susah dipahami dan terkesan menakutkan.
"Jadi aku mencoba untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa dengan metode yang fun. Selain itu, aku berusaha meyakinkan mereka bahwa gak ada kata terlambat untuk belajar dan memotivasi mereka supaya lebih semangat dalam belajar," katanya.
Dari pengalaman singkatnya itu, Adlina bilang bahwa menjadi seorang guru bukanlah sekadar mengajar. "Teaching isn’t only teach but also touch,” katanya.
![Mengajar hingga ke Thailand demi Pendidikan yang Bermutu]()
Foto: Dok.Adlina Iskandar Polem
Pada awal 2018, dia mengikuti program sukarelawan ke Thailand lewat proyek yang dibuat oleh LSM AIESEC.
AIESEC adalah akronim dari bahasa Prancis, Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (International Association of Students in Economic and Commercial Sciences).
Dalam program yang disebut "Sawasdee Thailand 27" tersebut, Adlina menjadi guru bahasa Inggris untuk siswa usia 5-12 tahun di sebuah sekolah di Thailand selama enam minggu.

Foto: Dok.Adlina Iskandar Polem
"Di tempatku mengajar, latar belakang orang tua siswa di sana adalah petani yang hidup jauh dari perkotaan. Akses menuju sekolah cukup jauh," cerita Adlina.
Kata Adlina, masyarakat di sana menganggap bahasa Inggris susah dipahami dan terkesan menakutkan.
"Jadi aku mencoba untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa dengan metode yang fun. Selain itu, aku berusaha meyakinkan mereka bahwa gak ada kata terlambat untuk belajar dan memotivasi mereka supaya lebih semangat dalam belajar," katanya.
Dari pengalaman singkatnya itu, Adlina bilang bahwa menjadi seorang guru bukanlah sekadar mengajar. "Teaching isn’t only teach but also touch,” katanya.

Foto: Dok.Adlina Iskandar Polem
Lihat Juga :