CERMIN: Setelah Qodrat dan Inang Tahun Lalu, Apa Pencapaian Film Horor Lokal Tahun Ini?
Jum'at, 11 Agustus 2023 - 14:00 WIB
loading...
A
A
A
Dalam primbon, terdapat kepercayaan akan empat sifat dari hari yang buruk, keempatnya adalah hari taliwangke (hari sengkala), samparwangke (hari sengkala), kunarpawarsa (tahun bencana), dan sangarwarsa (tahun bencana). Sementara itu sifat dari hari baik ada tiga, yaitu bulan rahayu (bulan baik), bulan sarju (bulan sedang), dan Anggara Kasih. Karenanya primbon berfungsi sebagai pedoman untuk menentukan sikap dalam suatu tindakan dalam kehidupan.
Primbondibuka dengan menarik. Kita melihat adegan tahlilan dari Rana yang dinyatakan hilang di hutan selama berhari-hari. Keluarga dari pihak ayahnya, Banyu, menyelenggarakan tahlilan itu karena meyakini Rana tak mungkin selamat. Sementara ibunya, Dini, masih merasakan keberadaan Rana dan sebenarnya tak setuju dengan tahlilan itu.
Belum lagi hilang ketegangan yang dibangun atas pertentangan itu, Rudi langsung menyajikan ketegangan baru: Rana pulang setelah semua hadirin tahlilan kembali ke rumah masing-masing.
![CERMIN: Setelah Qodrat dan Inang Tahun Lalu, Apa Pencapaian Film Horor Lokal Tahun Ini?]()
Foto: MAXStream
Sayangnya adegan pembuka yang menarik ini menjadi satu-satunya hal menarik dari film ini. Saya membayangkan Rudi dan Lele bisa lebih berani membenturkan kepercayaan Islam dan Jawa dalam soal primbon sehingga pertentangan akan semakin meruncing, dari Jawa dan bukan Jawa menjadi Islam dan Jawa.
Saya juga membayangkan soal bagaimana primbon berperan penting dalam kehidupan Banyu dan keluarganya, bukan sekadar tempelan 1-2 adegan atau sekadar dialog yang meluncur dari mulut bude-budenya Rana. Sayangnya itu tak terjadi. Jadinya terasa primbon sekadar sebagai kendaraan untuk memperlancar cerita, bukan sebagai pusat semesta cerita.
Karena skenario tertatih-tatih memasukkan unsur primbon ke dalam cerita, membuatnya justru terasa tak menawarkan kebaruan apa pun. Padahal ada sub-plot yang bisa diolah sehingga soal primbon tak sekadar tempelan. Plot soal Bagas, keponakan Banyu, yang menghilang pada hari nahas sesungguhnya menarik dieksplorasi demi mempertajam soal hari buruk dan hari baik dalam primbon. Kepergian Rana ke hutan pada hari nahasnya pun tak dieksplorasi lebih jauh, padahal inilah akar dari segala masalah yang ada dalam film ini.
Primbondibuka dengan menarik. Kita melihat adegan tahlilan dari Rana yang dinyatakan hilang di hutan selama berhari-hari. Keluarga dari pihak ayahnya, Banyu, menyelenggarakan tahlilan itu karena meyakini Rana tak mungkin selamat. Sementara ibunya, Dini, masih merasakan keberadaan Rana dan sebenarnya tak setuju dengan tahlilan itu.
Belum lagi hilang ketegangan yang dibangun atas pertentangan itu, Rudi langsung menyajikan ketegangan baru: Rana pulang setelah semua hadirin tahlilan kembali ke rumah masing-masing.

Foto: MAXStream
Sayangnya adegan pembuka yang menarik ini menjadi satu-satunya hal menarik dari film ini. Saya membayangkan Rudi dan Lele bisa lebih berani membenturkan kepercayaan Islam dan Jawa dalam soal primbon sehingga pertentangan akan semakin meruncing, dari Jawa dan bukan Jawa menjadi Islam dan Jawa.
Saya juga membayangkan soal bagaimana primbon berperan penting dalam kehidupan Banyu dan keluarganya, bukan sekadar tempelan 1-2 adegan atau sekadar dialog yang meluncur dari mulut bude-budenya Rana. Sayangnya itu tak terjadi. Jadinya terasa primbon sekadar sebagai kendaraan untuk memperlancar cerita, bukan sebagai pusat semesta cerita.
Karena skenario tertatih-tatih memasukkan unsur primbon ke dalam cerita, membuatnya justru terasa tak menawarkan kebaruan apa pun. Padahal ada sub-plot yang bisa diolah sehingga soal primbon tak sekadar tempelan. Plot soal Bagas, keponakan Banyu, yang menghilang pada hari nahas sesungguhnya menarik dieksplorasi demi mempertajam soal hari buruk dan hari baik dalam primbon. Kepergian Rana ke hutan pada hari nahasnya pun tak dieksplorasi lebih jauh, padahal inilah akar dari segala masalah yang ada dalam film ini.
Lihat Juga :