SOROT: Catatan Box Office di Bioskop Indonesia Periode Januari-Juli 2023
Sabtu, 12 Agustus 2023 - 16:39 WIB
loading...
A
A
A
Begitupun popularitas dari film yang dibintangi trio Prilly Latuconsina – Bryan Domani – Refal Hady tak selamanya berbanding lurus dengan kritik yang terlontar atasnya. Selain narasi yang tak efektif, puisi dan teka-teki dalam Ketika Berhenti di Sini” yang sekali lagi sesungguhnya potensial dieksplorasi, hanya menjadi teks dan tak kunjung menjadi subteks yang menggigit.
Jadinya memang menonton Ketika Berhenti di Siniterasa seperti menyelesaikan puzzle yang beberapa potongannya berserakan entah ke mana. Potongan paling penting yang justru memperlihatkan apa yang menjadi pusat dari gambar di puzzle seperti sengaja dihilangkan begitu saja.
Sementara dua film impor yang masih diputar di bioskop saat ini masing-masing Barbiedan Oppenheimerjuga telah melampaui pencapaian satu juta penonton. Barbieyang disutradarai oleh Greta Gerwig telah beroleh 1.619.365 penonton, sementara Oppenheimerdari Christopher Nolan telah mencetak jumlah penonton sebanyak 1.168.277 orang.
![SOROT: Catatan Box Office di Bioskop Indonesia Periode Januari-Juli 2023]()
Oppenheimer. Foto: Universal Pictures
Tak pernah sedikit pun terbayangkan oleh saya bahwa Barbie, sosok boneka paling terkenal sedunia yang juga diserang karena mencitrakan perempuan dengan standar kecantikan yang sulit digapai, akan menjadi pintu bagi Greta untuk memberi semacam kuliah filsafat dan sosiokultural yang asyik selama hampir dua jam. Tapi Greta, juga pasangannya, sesama sutradara sekaligus penulis, Noah Baumbach, bisa melakukannya seakan-akan ini adalah hal termudah di dunia.
Awalnya kita akan bertemu Barbie (diperankan dengan mulus oleh Margot Robbie) dengan penampilan serba sempurna dan hidup di dunianya yang sempurna. Segalanya berjalan semestinya, meski berupa repetisi demi repetisi yang terjadi setiap hari. Kita juga bertemu dengan Ken (dengan penampilan dari Ryan Gosling yang layak mendapat nomine Oscar) yang sejatinya memang diciptakan sekadar untuk menemani Barbie. Dunia Barbie adalah dunia para perempuan dan laki-laki sekadar pelengkap. Sampai di sini kita mulai paham Greta akan membawa kita ke mana.
Sementara Oppenheimermembuat saya terkesima karena melihat Christopher mengambil pendekatan yang tak pernah terbayangkan. Ia menjadikan kisah bagaimana Robert yang sebelumnya dianggap berjasa oleh negaranya lantas integritasnya hendak dihancurkan oleh kalangan tertentu hanya karena dendam pribadi.
Kita pun melihat Robert sama saja seperti kita, yang tak pernah imun dengan prasangka, selalu bergulat dengan emosi-emosi internalnya yang kompleks dan tak tercerabut dari statusnya sebagai seorang suami dan ayah. Selama tiga jam dipaku ke kursi bioskop, saya menyadari satu hal yang tak pernah sejelas ini sebelumnya di kepala saya: begini seharusnya kita membuat film biopik.
![SOROT: Catatan Box Office di Bioskop Indonesia Periode Januari-Juli 2023]()
Waktu Maghrib. Foto: Rapi Films
Jadinya memang menonton Ketika Berhenti di Siniterasa seperti menyelesaikan puzzle yang beberapa potongannya berserakan entah ke mana. Potongan paling penting yang justru memperlihatkan apa yang menjadi pusat dari gambar di puzzle seperti sengaja dihilangkan begitu saja.
Sementara dua film impor yang masih diputar di bioskop saat ini masing-masing Barbiedan Oppenheimerjuga telah melampaui pencapaian satu juta penonton. Barbieyang disutradarai oleh Greta Gerwig telah beroleh 1.619.365 penonton, sementara Oppenheimerdari Christopher Nolan telah mencetak jumlah penonton sebanyak 1.168.277 orang.

Oppenheimer. Foto: Universal Pictures
Tak pernah sedikit pun terbayangkan oleh saya bahwa Barbie, sosok boneka paling terkenal sedunia yang juga diserang karena mencitrakan perempuan dengan standar kecantikan yang sulit digapai, akan menjadi pintu bagi Greta untuk memberi semacam kuliah filsafat dan sosiokultural yang asyik selama hampir dua jam. Tapi Greta, juga pasangannya, sesama sutradara sekaligus penulis, Noah Baumbach, bisa melakukannya seakan-akan ini adalah hal termudah di dunia.
Awalnya kita akan bertemu Barbie (diperankan dengan mulus oleh Margot Robbie) dengan penampilan serba sempurna dan hidup di dunianya yang sempurna. Segalanya berjalan semestinya, meski berupa repetisi demi repetisi yang terjadi setiap hari. Kita juga bertemu dengan Ken (dengan penampilan dari Ryan Gosling yang layak mendapat nomine Oscar) yang sejatinya memang diciptakan sekadar untuk menemani Barbie. Dunia Barbie adalah dunia para perempuan dan laki-laki sekadar pelengkap. Sampai di sini kita mulai paham Greta akan membawa kita ke mana.
Sementara Oppenheimermembuat saya terkesima karena melihat Christopher mengambil pendekatan yang tak pernah terbayangkan. Ia menjadikan kisah bagaimana Robert yang sebelumnya dianggap berjasa oleh negaranya lantas integritasnya hendak dihancurkan oleh kalangan tertentu hanya karena dendam pribadi.
Kita pun melihat Robert sama saja seperti kita, yang tak pernah imun dengan prasangka, selalu bergulat dengan emosi-emosi internalnya yang kompleks dan tak tercerabut dari statusnya sebagai seorang suami dan ayah. Selama tiga jam dipaku ke kursi bioskop, saya menyadari satu hal yang tak pernah sejelas ini sebelumnya di kepala saya: begini seharusnya kita membuat film biopik.

Waktu Maghrib. Foto: Rapi Films
Lihat Juga :