CERMIN: Amor Fati, Takdir, dan Sebuah Kisah Memaafkan Diri Sendiri
Jum'at, 01 September 2023 - 13:36 WIB
loading...
A
A
A
Allison kehilangan pekerjaan seketika, teman-teman menghindarinya dan membuat ia terjatuh ke dalam lubang yang dalam. Sebuah lubang yang mengenalkannya dengan obat pereda nyeri dan narkoba yang kelak dicandunya. Sebuah lubang yang mungkin dirasakannya aman untuk sekadar menyembunyikan luka hati dan perasaan bersalahnya yang tak kunjung pergi.
Saya tak pernah menjadi Allison dalam kehidupan nyata tapi mengalami kejadian yang mirip. Ibu saya meninggal seketika usai mobil yang ditumpanginya ditabrak seorang pengemudi terburu-buru. Ia meninggal bersama supir yang mengendarai mobil tersebut. Setelah ibu saya meninggal, adik laki-laki saya yang masih berusia 13 tahun jatuh ke dalam lubang yang dalam.
![CERMIN: Amor Fati, Takdir, dan Sebuah Kisah Memaafkan Diri Sendiri]()
Foto: Prime Video
Ia menenggelamkan dirinya ke dalam narkoba selama bertahun-tahun tanpa pernah meluapkan perasaan kehilangan sosok ibu di saat ia membutuhkannya sebagai remaja. Kelak adik saya meninggal saat berusia usia 27 tahun karena AIDS.
Mungkin saya menjadi salah satu orang yang bisa memahami dengan mudah yang dialami Allison. Bagi orang yang tak punya pengalaman serupa, bisa jadi akan melihat yang dilakukan Allison sebagai “upaya untuk mengasihani diri sendiri”. Sebuah bentuk kemanjaan untuk berlama-lama larut dalam duka dan tak ingin keluar darinya. Sebuah sikap yang tak ingin mencoba berhadapan dengan takdir dan kelak menerimanya.
Tapi sesungguhnya apa itu takdir? Bagi J.K. Rowling, takdir adalah nama yang sering diberikan dalam retrospeksi pilihan yang memiliki konsekuensi dramatis. Retrospeksi, pilihan, dramatis. Tiga kata yang sulit dibayangkan bertaut dalam satu kalimat.
Betulkah takdir akan menjadi jalan kita untuk menjalani retrospeksi diri? Bisakah kita punya pilihan-pilihan lain untuk menjalani hidup kita selain sekadar mengikuti takdir kita? Bisakah kita menjalani takdir yang mungkin sudah digariskan untuk kita tanpa harus menjadi dramatis?
![CERMIN: Amor Fati, Takdir, dan Sebuah Kisah Memaafkan Diri Sendiri]()
Foto: Prime Video
Saya tak pernah menjadi Allison dalam kehidupan nyata tapi mengalami kejadian yang mirip. Ibu saya meninggal seketika usai mobil yang ditumpanginya ditabrak seorang pengemudi terburu-buru. Ia meninggal bersama supir yang mengendarai mobil tersebut. Setelah ibu saya meninggal, adik laki-laki saya yang masih berusia 13 tahun jatuh ke dalam lubang yang dalam.

Foto: Prime Video
Ia menenggelamkan dirinya ke dalam narkoba selama bertahun-tahun tanpa pernah meluapkan perasaan kehilangan sosok ibu di saat ia membutuhkannya sebagai remaja. Kelak adik saya meninggal saat berusia usia 27 tahun karena AIDS.
Mungkin saya menjadi salah satu orang yang bisa memahami dengan mudah yang dialami Allison. Bagi orang yang tak punya pengalaman serupa, bisa jadi akan melihat yang dilakukan Allison sebagai “upaya untuk mengasihani diri sendiri”. Sebuah bentuk kemanjaan untuk berlama-lama larut dalam duka dan tak ingin keluar darinya. Sebuah sikap yang tak ingin mencoba berhadapan dengan takdir dan kelak menerimanya.
Tapi sesungguhnya apa itu takdir? Bagi J.K. Rowling, takdir adalah nama yang sering diberikan dalam retrospeksi pilihan yang memiliki konsekuensi dramatis. Retrospeksi, pilihan, dramatis. Tiga kata yang sulit dibayangkan bertaut dalam satu kalimat.
Betulkah takdir akan menjadi jalan kita untuk menjalani retrospeksi diri? Bisakah kita punya pilihan-pilihan lain untuk menjalani hidup kita selain sekadar mengikuti takdir kita? Bisakah kita menjalani takdir yang mungkin sudah digariskan untuk kita tanpa harus menjadi dramatis?

Foto: Prime Video
Lihat Juga :