Ini 2 Konglomerat yang Kasih Amplop Rp1 Miliar ke Hotman Paris di Pesta Nikah Fritz Hutapea
Rabu, 20 September 2023 - 23:23 WIB
loading...
A
A
A
Jauh sebelum mencapai kesuksesan, pria yang memiliki nama asli Phang Djoem Phen itu pernah merasakan pahitnya kehidupan. Prajogo dilahirkan di Sungai Betung, Kalimantan Barat, pada 1944. Orang tuanya bekerja sebagai pedagang karet, pendidikannya pun hanya sampai tingkat sekolah menengah.
Baca Juga: Pesan Hotman Paris untuk Fritz Hutapea yang Menikah Hari Ini: Kembali ke Istri Meski Habis Nakal
Namun, Prajogo memiliki tekad untuk mengubah nasib hidupnya. Pada 1960, dia memutuskan merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Menurutnya, jika merantau ke Jakarta maka dia akan mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
Pada 1969 Prajogo bertemu dengan pengusaha kayu asal Malaysia, Bong Sun (Burhan Uray). Di pertemuan itulah Prajogo diajak bergabung ke perusahaan milik Bong, yaitu PT Djajanti Group.
Singkat cerita, pada 1976 dirinya ditunjuk sebagai general manager (GM) pabrik Plywood Nusantara Gresik, Jawa Timur. Hal ini didapatkan berkat kerja keras Prajogo selama bekerja kurang lebih tujuh tahun.
Meskipun telah menjabat sebagai general manager, Prajogo tak cepat berpuas diri. Dia justru memutuskan keluar dari tempat kerjanya dan mendirikan perusahaan sendiri bernama CV Pacific Lumber Coy. Kemudian nama perusahaannya diubah menjadi PT Barito Pacific Timber.
Nasib baik kembali berpihak kepada Prajogo. Pada 1993 perusahaan itu mulai dikenal oleh masyarakat luas, bahkan bisnisnya pernah bekerja sama dengan anak-anak Presiden Soeharto kala itu.
Kemudian pada 2007, perusahaan tersebut berganti nama menjadi Barito Pacific. Di tahun yang sama Prajogo juga mengakuisisi 70% perusahaan petrokimia, Chandra Asri, yang membuat kekayaannya semakin melimpah.
Setelah akuisisi itu, Prajogo memutuskan untuk mendirikan perusahaan produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia yang diberi nama PT Chandra Asri Petrochemical. Perusahaan ini merupakan gabungan dari Tri Polyta Indonesia.
Baca Juga: Pesan Hotman Paris untuk Fritz Hutapea yang Menikah Hari Ini: Kembali ke Istri Meski Habis Nakal
Namun, Prajogo memiliki tekad untuk mengubah nasib hidupnya. Pada 1960, dia memutuskan merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Menurutnya, jika merantau ke Jakarta maka dia akan mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
Pada 1969 Prajogo bertemu dengan pengusaha kayu asal Malaysia, Bong Sun (Burhan Uray). Di pertemuan itulah Prajogo diajak bergabung ke perusahaan milik Bong, yaitu PT Djajanti Group.
Singkat cerita, pada 1976 dirinya ditunjuk sebagai general manager (GM) pabrik Plywood Nusantara Gresik, Jawa Timur. Hal ini didapatkan berkat kerja keras Prajogo selama bekerja kurang lebih tujuh tahun.
Meskipun telah menjabat sebagai general manager, Prajogo tak cepat berpuas diri. Dia justru memutuskan keluar dari tempat kerjanya dan mendirikan perusahaan sendiri bernama CV Pacific Lumber Coy. Kemudian nama perusahaannya diubah menjadi PT Barito Pacific Timber.
Nasib baik kembali berpihak kepada Prajogo. Pada 1993 perusahaan itu mulai dikenal oleh masyarakat luas, bahkan bisnisnya pernah bekerja sama dengan anak-anak Presiden Soeharto kala itu.
Kemudian pada 2007, perusahaan tersebut berganti nama menjadi Barito Pacific. Di tahun yang sama Prajogo juga mengakuisisi 70% perusahaan petrokimia, Chandra Asri, yang membuat kekayaannya semakin melimpah.
Setelah akuisisi itu, Prajogo memutuskan untuk mendirikan perusahaan produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia yang diberi nama PT Chandra Asri Petrochemical. Perusahaan ini merupakan gabungan dari Tri Polyta Indonesia.
Lihat Juga :