Cuci Piring dan Masak di Rumah Harus Jadi Tugas Anak Perempuan? No Way!
Selasa, 04 Agustus 2020 - 17:00 WIB
loading...
A
A
A

Foto: Getty Images
Itu jangka pendeknya. Jangka panjangnya, dan yang lebih serius lagi, pemberatan tanggung jawab pekerjaan rumah tangga ke pihak perempuan ikut menyumbang sistem pembagian upah yang gak adil di berbagai industri dan pekerjaan.
Erling Barth, Sari Pekkala Kerr, dan Claudia Olivetti dari National Bureau of Economic Research, Amerika Serikat, dalam penelitian mereka yang berjudul "The Dynamics of Gender Earnings Differentials: Evidence From Establishment Data" (2019) mengungkapkan bahwa pembagian pekerjaan rumah tangga yang ditetapkan secara gak adil (membebani perempuan semata) merupakan penyumbang besar terhadap lahirnya kesenjangan upah antara pekerja laki-laki dan pekerja perempuan.
Salah satunya disebabkan karena perempuan selalu menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga ketimbang laki-laki. Apalagi pas udah menikah dan punya anak. Hal tersebut pada akhirnya juga akan membatasi pilihan karier perempuan.
Hal lain yang juga berperan adalah stigma dan miskonsepsi tentang maskulinitas di masyarakat. Laki-laki disebut maskulin kalau dia bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketangkasan maupun gerak fisik yang banyak, seperti kerja kasar, atau reparasi.

Foto: Freepik
Sebaliknya, laki-laki gak dianggap maskulin kalau dia melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan perempuan, seperti memasak, membersihkan rumah, bahkan merawat anak.
Padahal “maskulin” atau “gak maskulin” bukan sebatas ditentukan oleh kuat atau gak-nya fisik seseorang untuk mengerjakan pekerjaan kasar. Tapi juga gimana dia bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi sesamanya, terlebih keluarganya sendiri.
Kalau berguna itu berarti mengerjakan pekerjaan rumah tangga, maka lakukanlah itu. Nilai-nilai maskulinitas yang toxic seperti ini menjebak banyak orang dalam narasi-narasi yang gak masuk akal.
Sebagai anak muda, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menghapuskan kebiasaan menuruti ketidaksetaraan gender ini.
Lihat Juga :