CERMIN: Benturan Teori Kelas Karl Marx dan Mitologi Romawi/Yunani
Sabtu, 18 November 2023 - 08:24 WIB
loading...
Film The Hunger Games: The Ballad of Songbirds and Snakes menjadi prekuel dari empat seri sebelumnya. Foto/Lionsgate
A
A
A
JAKARTA - Tahun 1848. The Communist Manifesto dipublikasikan pertama kali sebagai pamflet politik oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, dan kelak memperkenalkan teori kelas yang populer.
Dalam teori kelas Karl Marx, ia mengemukakan bahwa kelas-kelas sosial dapat terbentuk karena adanya faktor-faktor ekonomi seperti hubungan antara kepemilikan alat produksi dan nonkepemilikan alat produksi. Dalam buku The Communist Manifesto(sebelumnya lebih dikenal sebagai Manifesto of the Communist Party), Karl mengidentifikasikan kesenjangan dua kelas yaitu kelas proletariat (rakyat biasa) dan kelas borjuis (kalangan atas) dalam masyarakat kapitalisme.
Sejak pertama kali terbit sebagai novel pada 14 September 2008, The Hunger Games mencuri perhatian karena memperlihatkan apa yang terjadi pada sebuah masa distopia pasca-apokalips. Suzanne Collins dengan sangat menarik menggambarkan bagaimana kesenjangan luar biasa besar terjadi antara dua kelas tersebut di Capitol, ibu kota negara Panem. Kesenjangan yang terjadi dengan begitu disengaja, begitu berlarut-larut yang kelak tak pelak akan memunculkan benih-benih pemberontakan.
Baca Juga: CERMIN: 'Past Lives', Karma, dan Takdir di Antara 8000 Lapisan Inyeon
Kondisi di atas sesungguhnya sudah disadari sejak lama. Karl pun sudah menulis dalam bukunya yang termasyhur itu bahwa dengan berbagai cara, kelas yang lebih tinggi akan selalu menindas kelas yang lebih rendah dan itu adalah sejarah lazim yang dialami manusia. Dan tentu saja menjadi bahan baku yang menarik bagi The Hunger Games yang kelak menjadi franchise luar biasa mewujud menjadi empat judul film super-laris yang dirilis terentang sepanjang tahun 2012-2015.
Setelah 11 tahun berlalu sejak perilisan perdana film The Hunger Games, apa yang akan tersisa dengan judul baru The Hunger Games: The Ballad of Songbirds and Snakes?
![CERMIN: Benturan Teori Kelas Karl Marx dan Mitologi Romawi/Yunani]()
Foto: Lionsgate
Jika empat judul film sebelumnya terasa sangat kuat membenturkan sistem kelas, maka judul terbaru justru terasa sangat kuat pengaruh mitologi Romawi/Yunani. Dalam sebuah wawancara, Suzanne memang secara terang-terangan bilang bahwa ia dipengaruhi oleh mitologi Romawi/Yunani.
Dalam teori kelas Karl Marx, ia mengemukakan bahwa kelas-kelas sosial dapat terbentuk karena adanya faktor-faktor ekonomi seperti hubungan antara kepemilikan alat produksi dan nonkepemilikan alat produksi. Dalam buku The Communist Manifesto(sebelumnya lebih dikenal sebagai Manifesto of the Communist Party), Karl mengidentifikasikan kesenjangan dua kelas yaitu kelas proletariat (rakyat biasa) dan kelas borjuis (kalangan atas) dalam masyarakat kapitalisme.
Sejak pertama kali terbit sebagai novel pada 14 September 2008, The Hunger Games mencuri perhatian karena memperlihatkan apa yang terjadi pada sebuah masa distopia pasca-apokalips. Suzanne Collins dengan sangat menarik menggambarkan bagaimana kesenjangan luar biasa besar terjadi antara dua kelas tersebut di Capitol, ibu kota negara Panem. Kesenjangan yang terjadi dengan begitu disengaja, begitu berlarut-larut yang kelak tak pelak akan memunculkan benih-benih pemberontakan.
Baca Juga: CERMIN: 'Past Lives', Karma, dan Takdir di Antara 8000 Lapisan Inyeon
Kondisi di atas sesungguhnya sudah disadari sejak lama. Karl pun sudah menulis dalam bukunya yang termasyhur itu bahwa dengan berbagai cara, kelas yang lebih tinggi akan selalu menindas kelas yang lebih rendah dan itu adalah sejarah lazim yang dialami manusia. Dan tentu saja menjadi bahan baku yang menarik bagi The Hunger Games yang kelak menjadi franchise luar biasa mewujud menjadi empat judul film super-laris yang dirilis terentang sepanjang tahun 2012-2015.
Setelah 11 tahun berlalu sejak perilisan perdana film The Hunger Games, apa yang akan tersisa dengan judul baru The Hunger Games: The Ballad of Songbirds and Snakes?

Foto: Lionsgate
Jika empat judul film sebelumnya terasa sangat kuat membenturkan sistem kelas, maka judul terbaru justru terasa sangat kuat pengaruh mitologi Romawi/Yunani. Dalam sebuah wawancara, Suzanne memang secara terang-terangan bilang bahwa ia dipengaruhi oleh mitologi Romawi/Yunani.
Lihat Juga :