Review Film Wish: Terlalu Simpel dan Klise untuk Animasi Disney
Rabu, 22 November 2023 - 18:18 WIB
loading...
A
A
A
Namun, itu semua hanyalah topeng. Sang raja tak sebijak perkiraan orang. Asha yang tahu berusaha memberontak dengan bantuan bintang ajaib. Tapi, dia malah difitnah dan diburu seperti seorang buronan. Dia dan keluarganya dipaksa lari.
Wish punya pesan moral yang kuat terkait kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain. Keinginan seharusnya menjadi sebuah motivasi untuk terus maju, bukan sesuatu untuk diberikan orang lain dan terlupakan. Orang juga tidak bisa mengandalkan orang lain untuk mewujudkan keinginan tersebut.
![Review Film Wish: Terlalu Simpel dan Klise untuk Animasi Disney]()
Foto: Entertainment Weekly
Pesan ini memang kuat. Namun, Wish terlalu sederhana untuk mengungkapkan pesan tersebut lewat ceritanya. Film ini punya banyak karakter, tapi terasa seolah-olah menyia-nyiakan karakter selain Asha. Teman-teman Asha tak tereksplorasi dengan baik deskripsinya dan bahkan ada yang seharusnya sangat membantu, tapi, tidak dimanfaatkan dengan baik.
Magnifico sebagai antagonis utama film ini lebih terasa seperti Doctor Strange sedang menggunakan Batu Waktu dari Mata Agamoto. Skema warnanya mirip. Meskipun, Chris Pine tampil baik sebagai Magnifico yang punya dua kepribadian di film ini.
Asha sebagai tokoh utama tampil mirip seperti sebagian besar protagonis cewek di film animasi Disney. Dia baik hati, peduli sesama, bersemangat tinggi, sayang keluarga, dan punya motivasi mulia. Dia juga cerdas sehingga mampu membuat Magnifico tertarik untuk menjadikannya murid. Singkatnya, dia terasa klise sebagai protagonis.
![Review Film Wish: Terlalu Simpel dan Klise untuk Animasi Disney]()
Foto: Disney Australia
Kambing peliharaan Asha, Valentino, mencuri perhatian di film ini. Dia kocak, cerewet, dan menjadi sumber humor di film ini. Tanpa Valentino, Wish bakalan terasa hambar. Selain Valentino, Gabi yang selalu pesimistis dan galak juga bakal menarik perhatian dengan sikapnya yang berbeda dari teman-teman lainnya.
Wish punya pesan moral yang kuat terkait kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain. Keinginan seharusnya menjadi sebuah motivasi untuk terus maju, bukan sesuatu untuk diberikan orang lain dan terlupakan. Orang juga tidak bisa mengandalkan orang lain untuk mewujudkan keinginan tersebut.

Foto: Entertainment Weekly
Pesan ini memang kuat. Namun, Wish terlalu sederhana untuk mengungkapkan pesan tersebut lewat ceritanya. Film ini punya banyak karakter, tapi terasa seolah-olah menyia-nyiakan karakter selain Asha. Teman-teman Asha tak tereksplorasi dengan baik deskripsinya dan bahkan ada yang seharusnya sangat membantu, tapi, tidak dimanfaatkan dengan baik.
Magnifico sebagai antagonis utama film ini lebih terasa seperti Doctor Strange sedang menggunakan Batu Waktu dari Mata Agamoto. Skema warnanya mirip. Meskipun, Chris Pine tampil baik sebagai Magnifico yang punya dua kepribadian di film ini.
Asha sebagai tokoh utama tampil mirip seperti sebagian besar protagonis cewek di film animasi Disney. Dia baik hati, peduli sesama, bersemangat tinggi, sayang keluarga, dan punya motivasi mulia. Dia juga cerdas sehingga mampu membuat Magnifico tertarik untuk menjadikannya murid. Singkatnya, dia terasa klise sebagai protagonis.

Foto: Disney Australia
Kambing peliharaan Asha, Valentino, mencuri perhatian di film ini. Dia kocak, cerewet, dan menjadi sumber humor di film ini. Tanpa Valentino, Wish bakalan terasa hambar. Selain Valentino, Gabi yang selalu pesimistis dan galak juga bakal menarik perhatian dengan sikapnya yang berbeda dari teman-teman lainnya.
Lihat Juga :