CERMIN: Clara Royer, 21 Tahun, Dibakar Hidup-hidup
Sabtu, 25 November 2023 - 08:50 WIB
loading...
A
A
A
Kisah Clara dalam film The Night of the 12th yang diputar secara daring sebagai bagian dari Festival Sinema Prancis 2023 di Klik Film adalah sebuah kisah fiksi. Ia terinspirasi dari kisah nyata yang ditulis novelis Pauline Guena dalam sebuah buku yang sama menggetarkannya dengan tulisan Hikayat Kebo berjudul 18.3: A Year at the Station.
Dalam laman Books From France, buku ini ditulis sebagai “sebuah kisah yang luar biasa: untuk pertama kalinya, sebuah kantor polisi membuka pintunya bagi seorang novelis, yang menghabiskan satu tahun bersama pasukannya".
Selama setahun, novelis Pauline Guéna magang di kantor polisi dekat Paris dalam regu kejahatan, narkoba, dan anti-kejahatan terorganisir. "Siang dan malam, dari kantor yang kotor hingga tempat kejadian perkara; dari penangkapan hingga interogasi; dari petugas koroner hingga ibu yang menangis, dia melihat dan mencatat semuanya. Hasilnya adalah sebuah kisah sastra yang luar biasa, karena kegeniusan kreatif para penulis dengan mudah menyaingi para penjahat”.
![CERMIN: Clara Royer, 21 Tahun, Dibakar Hidup-hidup]()
Foto: Haut et Court
Dominic Moll merentang kisah Clara dalam sebuah penyelidikan yang meresahkan, membuat frustasi dan mengubah cara pandang kita tentang kemanusiaan. Yohan, polisi yang memimpin penyelidikan atas kasus Clara, awalnya seperti kita semua, ingin sesegera mungkin mengupas tuntas kasus kejahatan ini.
Bersama timnya, ia menyisir tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan sejumlah bukti, mewawancarai banyak orang. Tak hanya orang tua Clara yang remuk dengan peristiwa mengerikan itu, tapi juga para pria yang dianggap menjadi kawanan “pria yang salah yang dijatuhi cinta oleh Clara”.
Dalam tim tersebut ada Marceau, polisi yang lebih senior, yang hidupnya sedang kacau balau dan menemukan dirinya terjerumus lebih dalam karena kasus Clara yang mengerikan itu.
Jika dalam kisah-kisah Agatha Christie atau Sherlock Holmes, petunjuk-petunjuk perlahan bisa menunjuk ke seseorang atau beberapa tersangka, sayangnya dalam kehidupan nyata tak selalu terjadi hal sedemikian. Hingga tiga tahun berlalu setelah Clara tewas, belum ada sedikit pun petunjuk yang bisa memberikesimpulan siapa yang bisa dijadikan tersangka. Marceau memutuskan keluar dari dinas kepolisian untuk mengejar mimpinya dan Yohan merasa kasus pembunuhan itu memakannya hidup-hidup.
Tapi orang waras mana yang bisa menerima seseorang bisa membenci orang lain dengan begitu kejamnya hingga merasa perlu membakarnya hidup-hidup? Kebo di Indonesia, Clara di Prancis, dan entah siapa lagi di negara lain yang juga harus merasakan hidupnya terenggut dengan cara paling kejam tak terbayangkan. Hukum dibuat di suatu negara agar seseorang tak menjadi hakim buat orang lain.
Dalam laman Books From France, buku ini ditulis sebagai “sebuah kisah yang luar biasa: untuk pertama kalinya, sebuah kantor polisi membuka pintunya bagi seorang novelis, yang menghabiskan satu tahun bersama pasukannya".
Selama setahun, novelis Pauline Guéna magang di kantor polisi dekat Paris dalam regu kejahatan, narkoba, dan anti-kejahatan terorganisir. "Siang dan malam, dari kantor yang kotor hingga tempat kejadian perkara; dari penangkapan hingga interogasi; dari petugas koroner hingga ibu yang menangis, dia melihat dan mencatat semuanya. Hasilnya adalah sebuah kisah sastra yang luar biasa, karena kegeniusan kreatif para penulis dengan mudah menyaingi para penjahat”.

Foto: Haut et Court
Dominic Moll merentang kisah Clara dalam sebuah penyelidikan yang meresahkan, membuat frustasi dan mengubah cara pandang kita tentang kemanusiaan. Yohan, polisi yang memimpin penyelidikan atas kasus Clara, awalnya seperti kita semua, ingin sesegera mungkin mengupas tuntas kasus kejahatan ini.
Bersama timnya, ia menyisir tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan sejumlah bukti, mewawancarai banyak orang. Tak hanya orang tua Clara yang remuk dengan peristiwa mengerikan itu, tapi juga para pria yang dianggap menjadi kawanan “pria yang salah yang dijatuhi cinta oleh Clara”.
Dalam tim tersebut ada Marceau, polisi yang lebih senior, yang hidupnya sedang kacau balau dan menemukan dirinya terjerumus lebih dalam karena kasus Clara yang mengerikan itu.
Jika dalam kisah-kisah Agatha Christie atau Sherlock Holmes, petunjuk-petunjuk perlahan bisa menunjuk ke seseorang atau beberapa tersangka, sayangnya dalam kehidupan nyata tak selalu terjadi hal sedemikian. Hingga tiga tahun berlalu setelah Clara tewas, belum ada sedikit pun petunjuk yang bisa memberikesimpulan siapa yang bisa dijadikan tersangka. Marceau memutuskan keluar dari dinas kepolisian untuk mengejar mimpinya dan Yohan merasa kasus pembunuhan itu memakannya hidup-hidup.
Tapi orang waras mana yang bisa menerima seseorang bisa membenci orang lain dengan begitu kejamnya hingga merasa perlu membakarnya hidup-hidup? Kebo di Indonesia, Clara di Prancis, dan entah siapa lagi di negara lain yang juga harus merasakan hidupnya terenggut dengan cara paling kejam tak terbayangkan. Hukum dibuat di suatu negara agar seseorang tak menjadi hakim buat orang lain.
Lihat Juga :