alexametrics

Desa Wisata, Merangsang Orang Kota Pelesir ke Desa

loading...
Desa Wisata, Merangsang Orang Kota Pelesir ke Desa
Warga Desa Belimbingsari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali mengenakan pakaian adat saat akan beribadah di gereja. FOTO/IST
A+ A-
BALI yang eksotis memang sudah mendunia. Tak hanya hamparan pantai nan indah dengan sensasi matahari senja, budaya tradisional yang unik, hingga keramahan penduduknya menjadi pesona yang kerap disandingkan dengan Pulau Dewata. Lebih dari itu, sesungguhnya banyak keelokan di pulau ini. Salah satunya ada di Desa Blimbingsari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.

Desa ini populer dengan wisata rohani. Bentuk bangunan dan tradisi budaya melekat pada masyarakat setempat. Di kawasan seluas 450 hektare tersebut, berdiri dua gereja megah dengan gaya arsitektur yang sangat unik. Gereja Imanuel di Banjar Blimbingsari dan Gereja Pniel di Banjar Ambyarsari. Berbeda dengan bangunan gereja pada umumnya yang bergaya arsitektur Eropa nan megah, bentuk kedua gereja ini justru menyerupai pura. Tak ayal, pada era 1970-an penduduk setempat mulai menyebutnya sebagai "Pura Gereja".



Sekretaris Komite Desa Blimbingsari Wayan Murtiyasa mengungkapkan, selain dikenal sebagai gereja tertua, kedua bangunan tersebut juga menjadi bangunan terunik di Bali. Tak hanya bentuknya saja, keunikannya juga terletak pada ornamen ukir-ukiran bercirikan khas Bali di setiap sudut gedung.

Jika pada umumnya gereja menggunakan lonceng dalam memanggil para umat untuk melaksanakan ibadah, berbeda dengan di Blimbingsari. Gereja menggunakan kulkul yang terbuat dari kayu atau umumnya dikenal kentongan. "Mayoritas (penduduk) memang Kristen Protestan. Tapi, karena ini ada di Bali, jadi bangunannya masih berciri khas tradisional Bali," ujar Wayan kepada SINDO Weekly, Kamis (30/11/2017) pekan lalu.

Keunikannya tak berhenti di situ. Wayan menceritakan, pada saat mengadakan kebaktian di gereja, jemaat datang dengan mengenakan pakaian adat Bali, seperti kamben, udeng, kebaya, dan perlengkapan lainnya. Termasuk juga pendeta yang akan membawakan firman atau memimpin acara kebaktian, wajib mengenakan pakaian tradisional dan menggunakan bahasa Bali saat berkhotbah. Nah, dipakainya gamelan Bali sebagai alat untuk mengiringi Liturgi atau puji-pujian makin melengkapi keunikan tersebut. "Ini memang sudah jadi tradisi Minggu pertama setiap bulan dan hari raya," ujarnya.

Bagaimana Blimbingsari memulai statusnya sebagai desa wisata? Dan bagaimana cerita desa wisata lainnya di Indonesia. Simak laporan selengkapnya di Majalah SINDO Weekly Edisi 40/VI/2017 yang terbit Senin (4/12/2017).
(amm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak