CERMIN: Pada Suatu Hari di Jember Tahun 1983
Sabtu, 02 Desember 2023 - 07:05 WIB
loading...
A
A
A
Kejahatannya pun 'hanya' mencuri beberapa ternak dari kandang milik warga. Tapi aksinya mungkin dianggap meresahkan masyarakat sehingga pihak berkuasa merasa perlu menurunkan 'tangan besi'.
Pariyo mungkin merasa beruntung karena masih hidup hingga hari ini dan menceritakan kembali kisahnya dalam masa-masa gelap. Paling tidak kita pun sedikit mendapat gambaran tambahan dari yang sesungguhnya terjadi di tengah teror penembakan misterius itu.
Karakter lainnya dalam Nisan Tak Terukir, Santuso Waluyo, memiliki seorang kakak laki-laki yang menjadi korban dari aksi penembakan misterius itu. Sebagaimana Pariyo, kakaknya pun hanyalah penjahat kambuhan dengan aksi kejahatan yang tak sampai melukai siapa pun. Tapi kejahatan yang tak seberapa itu harus dibayar dengan harga mahal: nyawanya sendiri.
Dengan isu yang sedemikian dahsyat, sesungguhnya Nisan Tak Terukir berpeluang untuk memberi sense pada penonton hari ini tentang yang terjadi sekitar 40 tahun lalu. Sayangnya memang pendekatan yang digunakan sebagian besar hanya berupa wawancara, itu pun terlihat tak ada persiapan yang cukup baik dilakukan sebelum pengambilan gambar (termasuk pre-interview).
![CERMIN: Pada Suatu Hari di Jember Tahun 1983]()
Foto: KlikFilm
Hasilnya memang durasi 61 menit terasa terlalu panjang. Ini sebenarnya bisa secara kreatif diakali dengan melakukan re-enactment (reka ulang) atau mencampurbaurkan adegan dengan animasi sederhana misalnya.
Meski begitu, Nisan Tak Terukir adalah sebuah catatan penting bagi sejumlah kasus Hak Asasi Manusia (HAM) di negeri ini yang masih belum terkuak sepenuhnya. Pemerintahan Soeharto akhirnya mengakui berada di balik operasi yang menewaskan lebih dari 1000 orang itu dalam tempo tiga tahun. Komnas HAM lantas memutuskan untuk melakukan investigasi atas sejumlah kasus dengan mewawancarai para penyintas seperti Pariyo dan keluarga korban yang masih hidup selama tahun 2008-2012.
Perlu waktu puluhan tahun hingga akhirnya pada Desember 2022, Presiden Joko Widodo mengakui dan menyesalkan 12 kasus pelanggaran HAM pada masa lalu itu, termasuk kasus pembunuhan misterius yang terjadi selama tahun 1982-1985.
Pariyo mungkin merasa beruntung karena masih hidup hingga hari ini dan menceritakan kembali kisahnya dalam masa-masa gelap. Paling tidak kita pun sedikit mendapat gambaran tambahan dari yang sesungguhnya terjadi di tengah teror penembakan misterius itu.
Karakter lainnya dalam Nisan Tak Terukir, Santuso Waluyo, memiliki seorang kakak laki-laki yang menjadi korban dari aksi penembakan misterius itu. Sebagaimana Pariyo, kakaknya pun hanyalah penjahat kambuhan dengan aksi kejahatan yang tak sampai melukai siapa pun. Tapi kejahatan yang tak seberapa itu harus dibayar dengan harga mahal: nyawanya sendiri.
Dengan isu yang sedemikian dahsyat, sesungguhnya Nisan Tak Terukir berpeluang untuk memberi sense pada penonton hari ini tentang yang terjadi sekitar 40 tahun lalu. Sayangnya memang pendekatan yang digunakan sebagian besar hanya berupa wawancara, itu pun terlihat tak ada persiapan yang cukup baik dilakukan sebelum pengambilan gambar (termasuk pre-interview).

Foto: KlikFilm
Hasilnya memang durasi 61 menit terasa terlalu panjang. Ini sebenarnya bisa secara kreatif diakali dengan melakukan re-enactment (reka ulang) atau mencampurbaurkan adegan dengan animasi sederhana misalnya.
Meski begitu, Nisan Tak Terukir adalah sebuah catatan penting bagi sejumlah kasus Hak Asasi Manusia (HAM) di negeri ini yang masih belum terkuak sepenuhnya. Pemerintahan Soeharto akhirnya mengakui berada di balik operasi yang menewaskan lebih dari 1000 orang itu dalam tempo tiga tahun. Komnas HAM lantas memutuskan untuk melakukan investigasi atas sejumlah kasus dengan mewawancarai para penyintas seperti Pariyo dan keluarga korban yang masih hidup selama tahun 2008-2012.
Perlu waktu puluhan tahun hingga akhirnya pada Desember 2022, Presiden Joko Widodo mengakui dan menyesalkan 12 kasus pelanggaran HAM pada masa lalu itu, termasuk kasus pembunuhan misterius yang terjadi selama tahun 1982-1985.
Lihat Juga :