alexametrics

Napas Ludruk, Oksigen bagi Rakyat Jelata

loading...
Napas Ludruk, Oksigen bagi Rakyat Jelata
Napas Ludruk, Oksigen bagi Rakyat Jelata. (Koran SINDO).
A+ A-
JAKARTA - Piring biyen tipis-tipis, piring saiki saka porselen. Maling biyen nggawa linggis, maling saiki nggawa pulpen (Piring dahulu tipistipis, piring sekarang dari porselen.

Pencuri dahulu pakai linggis, pencuri sekarang pakai pena). Kidungan jula-juli guyon parikeno dagelan ludruk yang dibawakan Irama Budaya masih membekas di ingatan.

Mereka menjadikan ruang hiburan sebagai peringatan dan kecaman pada kondisi negeri ini yang semakin banyak koruptor dalam guyonan rakyat jelata.

Ya, seni “pemberontakan” ludruk tak lekang dalam pertarungan peradaban. Para lakonnya selalu beradaptasi, menyajikan siasat. Sama seperti pada era revolusi, ludruk menjadi sarana komunikasi antara pejuang bawah tanah dan rakyat yang menyak sikannya. Ludruk tak pernah menjadi penjilat.

Kesenian itu kini hadir dalam dinamika masyarakat yang bosan dengan perilaku menyimpang. Melalui panggung rakyat, ludruk ingin menyampaikan kegelisahan dan kebosanan rakyat kepada penguasa. Ludruk pun kembali tam pil seperti apa adanya di jalur rakyat jelata. Kehadiran seni tradisional ludruk bukan sekadar hiburan.

Di atas panggung, nasib rakyat jelata ditertawakan. Namun, mereka mengenal perlawanan dan kecintaan pada Tanah Air. Seperti kecintaan pada bangsa, kemapanan dipendarkan dan kehidupan masyarakat kecil dibumikan.

Gerakan masif dari seni modern pun tak mampu “membunuh” ludruk dengan mudah. Teknologi dengan rangkaian hiburan dan aksi pertunjukan sempat menge pung ludruk dan memojokkannya di ruang gelap kehidupan.

Sekali lagi, ludruk tetap hidup. Melalui pentas kecil-kecil di pinggiran kota, oksigen bagi rakyat jelata itu terus dialirkan. Kidungan yang khas dipertunjukan ludruk seperti menghiasi langit-langit Surabaya. Tak lelah memberikan teror sepanjang malam. Merebut mimpi-mimpi di tiap rumah, menjadikannya pertanda untuk terus waspada.

Seperti yang terlihat sore itu, seorang pria nampak keluar dari gedung pertunjukan ludruk di Jalan Kusuma Bangsa, dengan perut keroncongan. Sejak pertunjukan dimulai sam pai selesai, perutnya terus dikocok dengan kidungan jula-juli yang membuatnya terus terbahak. Malam yang bersahaja di utara Surabaya setelah hujan, sejenak berubah menjadi meriah.

Nuíman Zamroni, 46, nama pria itu, hanya membayar Rp5.000 untuk bisa menyaksikan pertunjukan ludruk. Harga yang murah di kantong nya untuk mendapatkan hiburan yang bermutu dan menyenangkan tentunya. “Masih banyak kok yang mau melihat ludruk, meskipun jumlahnya kalah dengan orang yang datang kemal-mal di Surabaya,” katanya.

Ludruk Irama Budaya salah satu yang masih bertahan di tengah gempuran. Mereka setidaknya memiliki 50 seniman ludruk yang tetap setia di jalur kebudayaan tradisional. Serangan kebudayaan baru yang menggerus ludruk membuat mereka terjepit.

Keterpurukan itu membuat mereka masih bertahan, setia di jalur kebu da ya an yang membesarkan nama Surabaya. Untuk bisa bertahan hidup, mereka masih berkutat dalam pencarian nafkah di luar jalur ludruk. Ada yang menjual koran, berdagang asongan di stasiun, juru parkir di Pasar Wonokromo, sampai tukang batu di pinggiran Surabaya.

Ketua Ludruk Irama Budaya Deden Irawan menegaskan komitmen para seniman ludruk yang masih tetap bertahan. Mata laki-laki ini terus memberikan tatapan kosong pada orang yang melintas didepan gedung pertunjukan ludruk yang ada di Taman Remaja Surabaya. Sejak pagi, dia belum merasakan sesuap nasi lewat di lambungnya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak