alexametrics

Fenomena Kue Artis

loading...
Fenomena Kue Artis
Fenomena Kue Artis. (Koran SINDO).
A+ A-
JAKARTA - Kala sedang santai di rumah atau sedang hectic bekerja di kantor, tidak lengkap rasanya bila tidak ada kudapan untuk disantap. Santapannya pun bervariasi, mulai dari kue, gorengan, manisan, atau yang lainnya. Saat ini masyarakat sedang dihebohkan dengan kehadiran kue artis. Seperti apa kue artis yang sedang populer ini?

Bisnis kue artis ini bermula dari store yang dimiliki Teuku Wisnu. Berbasis oleh-oleh khas daerah, suami dari Shireen Sungkar tersebut membuka dan meresmikan store pertamanya di Malang pada 20 Desember 2014. Dengan merogoh kocek seharga Rp45.000, pembeli sudah bisa membawa pulang Strudel Malang isi buah-buahan. Buah yang diolah adalah varian dari berry, nanas, hingga campuran. Dalam perjalanannya, buah yang digunakan dimodifikasi menjadi rasa ciri khas store,yakni rasa buah apel yang merupakan buah yang berasal dari Malang sendiri. Store Teuku Wisnu ini mendapat respons yang baik dan hits di masyarakat.

Setelah itu, store kue artis yang lainnya mulai bermunculan, seperti Jogja Scrummy milik Dude Herlino dan Medan Napoleon milik Irwansyah. Jogja Scrummy menjual puff pastry dengan komposisi rasa yang bervariasi, mulai dari keju, cokelat, talas, hingga srikaya. Tak jauh berbeda, Medan Napoleon juga menjual puff pastry dan kue napoleon. Store milik Irwansyah ini sering disebut sebagai inspirasi para artis dalam membuka usaha kuliner manis berbasis kue. Suami dari Zaskia Sungkar ini lebih menggunakan rasa yang internasional, seperti red velvet, great chocolate, green tea, dan caramel.

Pada tahun 2017 bisnis kue artis ini semakin berkembang pesat. Muncul nama-nama seperti Surabaya Snowcakemilik Zaskia Sungkar, Bogor Raincake milik Shireen Sungkar, Bandung Makutamilik Laudya Cynthia Bella, Bosang Makassarmilik Ricky Harun, dan masih banyak lagi yang lainnya. Bisnis kue yang semakin banyak digeluti para artis ini menunjukkan bahwa sebagian besar artis menyadari akan eksistensi mereka di dunia hiburan yang mungkin tidak akan bertahan lama.

Meski berbeda rasa, bentuk, dan harga, tampaknya sejumlah store kue artis ini menggunakan strategi penjualan yang sama. Masing-masing artis hanya fokus menjual kue di satu kota dengan satu ciri khas per store. Tak ketinggalan, mereka juga marak mempromosikan dagangan mereka di media sosial yang ada, seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan lain-lainnya. “Mama aku pernah beli. Aku rasa mama beli karena artisnya. Soalnya mama sering banget cerita soal kue artis yang dipromosikan di Instagram. Rasanya enak juga, jadi lumayan sering beli,” kata Dimas Dear, Mahasiswa Psikologi Universitas Pembangunan Jaya.

Meski menggunakan jargon “oleh-oleh khas daerah”, nyatanya kue artis ini bukanlah kue tradisional Indonesia. Kue artis ini merupakan perpaduan kue lokal dan internasional dengan varian rasa yang bisa dibilang mainstream. Bentuk dan model kue yang diciptakan pun bernuansa internasional dan modern.

Kemasyhuran sebagai publik figur membantu menyedot banyak perhatian publik terhadap store milik para artis ini. Nama store yang kekinian, tampilan kue yang menggugah, membuat masyarakat semakin penasaran dengan kehadiran kue artis ini. “Aku beli karena store-nya persis di depan rumah kos. Teman-teman di kampus juga selalu membicarakan itu. Booming banget pokoknya. Untuk rasanya bolehlah,” ucap Rachel Savania, mahasiswi vokasi Institut Pertanian Bogor.

Fenomena kue artis ini tak luput dari pro dan kontra. Ada yang khawatir bahwa kuliner baru ini dapat menggeser kuliner khas daerah yang sesungguhnya. Namun, ada juga yang mewajarkan dan menganggap hal ini merupakan hak sang artis untuk membangun usaha kulinernya. Well, apa pun yang terjadi, semoga kuliner Indonesia semakin maju! (Andre Oliver - GEN SINDO Universitas Indonesia)

Fenomena Kue Artis

Jaga Kepercayaan Konsumen
Fenomena kue artis membuat pangsa pasar kue dan bakery semakin banyak. Hal ini terlihat dari banyaknya artis yang memilih untuk serentak membuka bisnis kue di kota-kota besar, seperti Bandung, Medan, Depok, Bogor, Malang, dan kota-kota lainnya. Bahkan, masyarakat sampai rela antre untuk mencicipi kue artis-artis ini, khususnya pada akhir pekan dan libur nasional. Fenomena ini pun membuat kue artis disebut-sebut sebagai oleh-oleh kekinian khas daerah kota-kota tersebut. Lalu, bagaimana tanggapan bisnis kue daerah mengenai hal ini?

Meski beberapa waktu terakhir banyak bermunculan bisnis kue artis, Lapis Bogor Sangkuriang yang berdiri sejak tahun 2011 tetap mampu mempertahankan eksistensinya sebagai oleh-oleh khas Bogor. Lapis Bogor Sangkuriang tetap digemari oleh pengunjung dari luar kota maupun warga Bogor sendiri. Dengan tetap menjaga kualitas rasa dan pelayanan bagi konsumen, Lapis Bogor Sangkuriang merasa tidak takut dengan adanya fenomena kue artis ini. Hal tersebut juga tidak memengaruhi pendapatan bisnis kue dengan produk andalan lapis talasnya ini.

Selain menjaga kualitas rasa dan pelayanan, Lapis Bogor Sangkuriang juga merasa perlu adanya inovasi untuk tetap menjaga eksistensi bisnis mereka agar konsumen tidak bosan. Hal ini terlihat dari semakin beragamnya varian rasa, jenis kue, dan supplier jajanan yang masuk ke toko. Tak hanya itu, Lapis Bogor Sangkuriang kini juga mengeluarkan produk-produk baru, seperti Crispy Talas dan jajanan ringan khas Bogornya lainnya. “Semakin hari justru semakin ramai. Costumer yang ke sini pun bilang lebih enak Sangkuriang,” kata Rimas Supriyawanti, leader Lapis Bogor Sangkuriang cabang Jalan Sholeh Iskandar, Bogor.

Sama halnya dengan Lapis Bogor Sangkuriang, bisnis kue Amanda juga tetap eksis dan terus menjaga kepercayaan konsumennya. Amanda, bisnis kue asal Bandung dengan produk andalan brownies-nya ini, merasa bahwa fenomena kue artis tidak memengaruhi pendapatan maupun eksistensi dari Amanda sendiri. Untuk tetap menjaga eksistensinya, Amanda terus berinovasi dengan memunculkan produk dan rasa baru secara berkala, yakni setahun sekali. Contohnya saat ini, Amanda mengeluarkan rasa baru, yakni Brownies dengan rasa green tea dan strawberry.

Kedua bisnis kue khas daerah tersebut juga sependapat untuk menganggap bahwa kue artis tidak menjadi saingan mereka dalam berbisnis kue. “Kami tidak menganggapnya sebagai saingan. Sebelum marak fenomena ini, yang jual kue juga sudah banyak,” tutur Anisa Septiana selaku Pramuniaga Amanda cabang Jalan Sudirman, Bogor.
halaman ke-1 dari 3
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak