alexametrics

Review Film Death Wish

loading...
Review Film Death Wish
Death Wish tentang balas dendam, tentang bagaimana orang baik pun bisa jadi jahat ketika orang menganggu hidupnya dan bahkan mengambil yang dia sayangi. (Houston Press)
A+ A-
JAKARTA - Jika Anda menyukai film yang penuh ketegangan kekerasan dan berdarah-darah hingga mengarah ke sadis, Death Wish adalah tontonan yang cocok untuk Anda. Meski begitu, drama yang disajikan pun tak boleh luput dari mata Anda.

Death Wish yang disutradara Eli Roth ini adalah remake atau reboot dari film berjudul sama yang dirilis pada 1974 yang diangkat dari sebuah novel. Dibintangi Bruce Willis, film ini menyuguhkan tontonan yang tak layak ditonton anak-anak di bawah umur. LSF menyatakan film ini khusus untuk dewasa atau 21 tahun ke atas karena adegan kekerasan yang memenuhi film ini.

Death Wish berkisah tentang dokter bedah Paul Kersey (Bruce Willis) yang hidup bahagia bersama istrinya, Lucy Rose (Elisabeth Sue), dan putrinya, Jordan (Camila Morrone) di Chicago. Lucy dikisahkan sedang berusaha mengejar titel doktor dan Jordan baru saja diterima di universitas di New York. Paul punya seorang adik, Frank (Vincent D’Onofrio), yang pengangguran dan tak jarang meminjam uang kepadanya. Meski begitu, Frank sangat sayang kepada keponakannya, Jordan.

Kebahagiaan itu terkoyak ketika tiga orang perampok bersenjata menyambangi rumah Paul. Tingkat kejahatan yang tinggi di Chicago memaksa Paul untuk sering berada di rumah sakit untuk menangani pasien gawat darurat yang sebagian besar adalah korban penembakan. Tak disangka, keluarganya menjadi korban kejahatan yang sulit ditangani aparat berwajib itu. Lucy Rose meregang nyawa akibat tembakan di dadanya dalam peristiwa perampokan tersebut, sedangkan Jordan mengalami koma setelah mengalami luka di bagian kepalanya.



Kondisi itu membuat Paul depresi dan harus berkonsultasi dengan psikiater. Dia pun sering kali bertanya kepada dua detektif yang menangani kasusnya, yaitu Detective Rains (Dean Norris) dan Detective Jackson (Kimberly Elise). Tapi, jawabannya terus membuatnya kecewa. Polisi masih belum bisa mengungkap identitas kawanan perampok yang menyambangi rumahnya.

Sampai suatu hari, dia dipukuli dua orang berandalan saat berusaha menghentikan sebuah aksi kejahatan. Sejak saat itu, dia jadi ingin mengungkap kejadian yang menimpa keluarganya. Paul pun berusaha membeli senjata, tapi karena birokrasi yang berbelit, dia pun mengurungkan niatnya. Hingga ketika dia mendapatkan pasien darurat, dari tubuh pasien itu, jatuhlah sepucuk pistol. Paul diam-diam mengambil pistol itu. Dia kemudian berlatih menembak di sebuah gudang yang dia sewa.

Suatu malam, dengan mengenakan jaket bertudung, dia pergi ke wilayah dimana sering terjadi tindak kejahatan. Saat itu, segerombolan orang berusaha membegal sebuah mobil. Paul segera menghentikan usaha itu dan berhasil. Tanpa ampun, dia membunuh dua anggota gerombolan perampok itu dan menyelamatkan korban.

Sejak saat itu, sosoknya pun jadi terkenal di Chicago. Apalagi dia kemudian beraksi dengan membunuh seorang gembong narkoba yang memakai anak-anak sebagai alat transaksi haramnya.

Paul semakin ingin mengungkap sendiri siapa kawanan perampok yang telah membunuh istri dan melukai anaknya setelah mendapatkan pasien yang sangat dia kenali. Gejolak balas dendam di dadanya pun bergemuruh saat melihat pasien itu.

Film Death Wish adalah tentang balas dendam. Film ini mengungkap bahwa orang baik pun bisa jadi jahat ketika orang-orang tak bertanggung jawab menganggu hidupnya dan bahkan mengambil apa yang begitu dia sayangi.

Selama 107 menit, film ini menyuguhkan aksi tembak-tembakan dan penyiksaan yang bisa membuat orang yang gampang mual tidak mau menontonnya. Adegan kekerasan tanpa basa basi pun terjadi di sepanjang film ini berlangsung. Bagi Anda yang tidak suka melihat darah atau penyiksaan, ada baiknya jangan menonton film ini.

Yang membuat miris, film ini hanya tayang beberapa saat setelah penembakan di sekolah Florida yang menewaskan 17 orang. Film ini menyuguhkan kisah betapa mudahnya Paul mendapatkan senjata di saat orang-orang di Amerika Serikat tengah getol menyuarakan pengendalian senjata pascaperistiwa berdarah tersebut.
halaman ke-1 dari 2

BERITA TERKAIT

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak