alexametrics

Resensi Buku Negara Teater

Demokrasi dalam Bayang-Bayang Monarki Parpol

loading...
Demokrasi dalam Bayang-Bayang Monarki Parpol
Buku berjudul Negara Teater karya Clifford Geerzt. FOTO/IST
A+ A-
SAAT ini, partai politik (Parpol) seperti ada dan tiada, timbul-tenggelam, datang dan pergi. Parpol ada dan hadir, sering kali hanya pada saat menjelang hajatan demokrasi, seperti pemilihan presiden, pemilihan anggota legislatif, atau pemilihan kepala daerah.

Parpol juga hadir dalam gegap gempita kampanye politik periodik, pada momen-momen itu. Selebihnya, seperti lenyap ditelan bumi. Atau, muncul ketika ada anggotanya yang terjerat kasus korupsi. Di parlemen, parpol muncul ketika anggotanya melanggar etika atau terlibat keributan saat membahas suatu rancangan undang-undang.

Sejatinya, parpol hadir dalam segala situasi keadaan di negeri ini, bahkan berfungsi sarana pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas, penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat, sarana partisipasi politik warga negara Indonesia, dan sebagainya tidak berjalan seperti selayaknya.

Kini, partai politik selayaknya sebuah sistem monarki dalam naungan demokrasi. Situasi dalam negeri yang dulu sangat bergantung kepada kekuasaan seorang raja, kini bergantung pada kekuatan dan kekuasaan seorang ketua partai politik. Seorang ketua partai politik bisa menciptakan suasana yang kondusif dan tak kondusif. Bergantung pada kepentingan mereka masing-masing.



Beberapa partai secara terang-terangan mendirikan kerajaan dalam partai politik. Kita bisa melihat bagaimana orang-orang terdekat merapat dan menjadi pengurus partai, sepertinya tidak ada pemimpin di luar pemimpin partai politik. Ironisnya, mereka menciptakan kerajaan dalam naungan sistem demokrasi; sistem yang berdaulat adalah rakyat, bukan segelintir trah tertentu saja.

Kita bukan hanya telah meninggalkan sistem monarki dan menjalankan proses demokrasi, tetapi kita juga telah menciptakan paradigma dan filosofi baru yang bernama republik-monarki. Di mana setiap orang atau kader partai politik boleh berbicara apa saja dan bebas melakukan apa saja, tetapi kalau sang ketua partai politik sudah berkata untuk diam, maka dia akan diam.

Seperti kata Geertz, raja merupakan aktor politik yang mendasarkan kekuasaan yang dia miliki melalui serangkaian upacara dan pertunjukan teatrikal. Kultus atas dirinyalah yang menaikkannya menjadi raja karena melalui drama dan teater lah gambaran kedewataan atas raja tersebut dimunculkan.

Partai politik yang menerapkan monarki, mereka melakukan ritual pencitraan semata, dan sebenarnya pemimpin yang dipilih hanya sebuah boneka demi merebut sebuah kekuasaan. Kader yang masuk partai politik tidak pernah berkotor-kotor dengan rakyat sebelumnya.

Dia masuk parpol bukan melalui suatu seleksi ketat atau prosedur standar. Dia masuk karena punya pundi-pundi finansial yang besar (pengusaha) dan popularitas (misalnya berlatar artis). Tujuannya jelas, menyokong finansial parpol dan menarik massa melalui artis yang sudah populer, jadi tidak perlu repot-repot kerja.

Rakyat saat ini juga cenderung memilih orang parpol yang sudah familier, sering wira-wiri di layar televisi sebagai bintang film, iklan, atau yang lainnya. Sang artis yang sudah populer pun tidak perlu pusing masuk parpol, tidak perlu susah belajar politik, berparlemen, atau manajemen kekuasaan.

Cukuplah popularitasnya sebagai modal utama. Lebih jauh, aksi teatrikal barangkali tidaklah membawa manfaat yang maksimal manakala raja tersebut tidak mampu mengambil loyalitas politis dari orang-orang di bawahnya. Upacara-upacara yang dilaksanakan oleh raja dengan mengerahkan setiap kemampuan yang dimilikinya boleh jadi merupakan satu mekanisme utama untuk menyerap loyalitas dari para bendoro di bawahnya.

Apa yang digambarkan oleh Geertz mengenai negara teater, dengan berbagai intrik, aliansi, pembunuhan, saling tukar perempuan, rayuan, bahkan upacara itu sendiri adalah suatu gambaran mengenai kehidupan di Bali, dan agaknya masih sangat terasa dalam konteks dunia modern.
halaman ke-1 dari 2

BERITA TERKAIT

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak