Penggunaan AI dalam Pemilu, yang Menggembirakan dan Menakutkan
Sabtu, 03 Februari 2024 - 10:26 WIB
loading...
A
A
A
Misalnya saja, network scientist Universitas Oxfod Vyacheslav Polonski, mengutip dari Centre for Public Impact,mengungkap beberapa di antaranya. Pertama adalah adanya serangan bot politik yang menyamar sebagai akun manusia.
Bot politik ini diprogram untuk memanipulasi opini publik dengan cara menyebarluaskan propaganda dan berita palsu di media sosial. Bot tersebut bertanggung jawab menyebarkan informasi yang salah dan berkontribusi terhadap isu-isu politik di beberapa platform media sosial seperti Facebook dan X.
![Penggunaan AI dalam Pemilu, yang Menggembirakan dan Menakutkan]()
Foto: Shutterstock
Cara kerja bot ini yaitu dengan secara aktif menyusup ke media sosial untuk menyebarkan konten otomatis secara masif, lalu dengan banyaknya konten yang masuk di media sosial seperti Facebook atau X, diyakini mereka mampu meredam perbedaan pendapat di media sosial.yang akhirnya membuat netizen berpikir ulang dan menyelaraskan opininya sesuai dengan 'opini publik'.
Yang kedua, adanya penggunaan AI untuk memanipulasi seseorang.Ini terjadi misalnya,selama pemilihan presiden AS terdapat iklan yang sengaja menargetkan individu yang dapat dibujuk atau dipengaruhi berdasarkan kondisi psikologis mereka.
Permasalahan dalam strategi tersebut adalah pada sifat kampanye yang terselubung dan pesan politik yang tidak tulus. Misalnya pemilih lawan akan mendapatkan pesan khusus sesuai prediksi akan kerentanan mereka terhadap pendapat.
Strategi ini akan cocok untuk presiden yang memiliki janji kampanye yang fleksibel. Kuncinya hanyalah menemukan pemicu emosional bagi setiap orang untuk mengambil suatu tindakan.
Dampak buruk AI yang perlu juga dicermati adalah perang informasi propaganda berskala besar yang tidak akan bagus untuk kedaulatan suatu negara. Jika metode ini terus digunakan secara tidak benar untuk propaganda, memanipulasi pemilih dan penggunaan secara tidak benar lainya akan menimbulkan perpecahan dan mengancam kedaulatan suatu negara.
![Penggunaan AI dalam Pemilu, yang Menggembirakan dan Menakutkan]()
Foto:Tiktok @partainasdem
Propaganda ini misalnya adalah penggunaan bot untuk penyebaran #MacronLeaks ke media sosial beberapa hari sebelum pemilihan Presiden Prancis. Mereka menyebarkan laporan palsu pada platform Facebook dan X untuk membangun narasi dan persepsi pengguna media sosial bahwa Emmanuel Macron adalah seorang penipu dan munafik. Hal tersebut merupakan strategi untuk mendorong topik yang sedang tren dan mendominasi di media sosial.
Penggunaan AI yang disalahgunakan juga terjadi dalam referendum Brexit dan pemilihan Presiden AS pada 2016. Terdapat bukti teknologi AI disalahgunakan secara sistematis untuk memanipulasi masyarakat. Beberapa orang juga mengklaim bahwa teknologi AI merupakan penentu dalam hasil referendum dan pemilihan umum.
Di Indonesia, terdapat juga beberapa kasus penggunaan AI untuk menjatuhkan elektabilitas tokoh-tokoh penting, yang ada di masyarakat lewat media sosial.Misalnya baru baru ini terdapat video pidato Presiden Joko Widodo yang sedang berpidato, tapi suaranya diubah menjadi menggunakan bahasa China.
Bot politik ini diprogram untuk memanipulasi opini publik dengan cara menyebarluaskan propaganda dan berita palsu di media sosial. Bot tersebut bertanggung jawab menyebarkan informasi yang salah dan berkontribusi terhadap isu-isu politik di beberapa platform media sosial seperti Facebook dan X.

Foto: Shutterstock
Cara kerja bot ini yaitu dengan secara aktif menyusup ke media sosial untuk menyebarkan konten otomatis secara masif, lalu dengan banyaknya konten yang masuk di media sosial seperti Facebook atau X, diyakini mereka mampu meredam perbedaan pendapat di media sosial.yang akhirnya membuat netizen berpikir ulang dan menyelaraskan opininya sesuai dengan 'opini publik'.
Yang kedua, adanya penggunaan AI untuk memanipulasi seseorang.Ini terjadi misalnya,selama pemilihan presiden AS terdapat iklan yang sengaja menargetkan individu yang dapat dibujuk atau dipengaruhi berdasarkan kondisi psikologis mereka.
Permasalahan dalam strategi tersebut adalah pada sifat kampanye yang terselubung dan pesan politik yang tidak tulus. Misalnya pemilih lawan akan mendapatkan pesan khusus sesuai prediksi akan kerentanan mereka terhadap pendapat.
Strategi ini akan cocok untuk presiden yang memiliki janji kampanye yang fleksibel. Kuncinya hanyalah menemukan pemicu emosional bagi setiap orang untuk mengambil suatu tindakan.
Dampak buruk AI yang perlu juga dicermati adalah perang informasi propaganda berskala besar yang tidak akan bagus untuk kedaulatan suatu negara. Jika metode ini terus digunakan secara tidak benar untuk propaganda, memanipulasi pemilih dan penggunaan secara tidak benar lainya akan menimbulkan perpecahan dan mengancam kedaulatan suatu negara.

Foto:Tiktok @partainasdem
Propaganda ini misalnya adalah penggunaan bot untuk penyebaran #MacronLeaks ke media sosial beberapa hari sebelum pemilihan Presiden Prancis. Mereka menyebarkan laporan palsu pada platform Facebook dan X untuk membangun narasi dan persepsi pengguna media sosial bahwa Emmanuel Macron adalah seorang penipu dan munafik. Hal tersebut merupakan strategi untuk mendorong topik yang sedang tren dan mendominasi di media sosial.
Penggunaan AI yang disalahgunakan juga terjadi dalam referendum Brexit dan pemilihan Presiden AS pada 2016. Terdapat bukti teknologi AI disalahgunakan secara sistematis untuk memanipulasi masyarakat. Beberapa orang juga mengklaim bahwa teknologi AI merupakan penentu dalam hasil referendum dan pemilihan umum.
Di Indonesia, terdapat juga beberapa kasus penggunaan AI untuk menjatuhkan elektabilitas tokoh-tokoh penting, yang ada di masyarakat lewat media sosial.Misalnya baru baru ini terdapat video pidato Presiden Joko Widodo yang sedang berpidato, tapi suaranya diubah menjadi menggunakan bahasa China.
Lihat Juga :