Gadis Cantik Ini Ingin Perjuangkan Nasib Kaum Disabilitas lewat Ajang Miss Indonesia 2024
Minggu, 25 Februari 2024 - 23:59 WIB
loading...
Peserta ini berharap Miss Indonesia bisa menjadi wadah bagi dia untuk terus menyuarakan kesetaraan untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Foto/MPI/Ihya Ulumuddin
A
A
A
SURABAYA - Ajang Miss Indonesia menginspirasi para peserta untuk menyebarkan virus kebaikan. Dari perjuangan hak-hak perempuan, literasi hingga keberpihakan kepada penyandang disabilitas.
Misi itu pula yang diemban oleh peserta audisi asal Kota Malang, Catherine Mag. Gadis 20 tahun itu berharap Miss Indonesia bisa menjadi wadah bagi dia untuk terus menyuarakan kesetaraan untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
Catherine menyampaikan, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia cukup banyak. Merujuk data Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI), jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,97 orang atau 8,1 persen dari total penduduk Indonesia.
Baca Juga: Audisi Miss Indonesia 2024 di Surabaya Kedatangan Peserta dari Luar Kota, Kalimantan hingga Papua
Ironisnya, belum banyak dari mereka yang mendapatkan fasilitas yang semestinya, terutama dalam bidang pendidikan.
"Umumnya mereka dimasukkan ke sekolah disabilitas. Dibikin grup sendiri. Harusnya malah digabung, seperti halnya sekolah inklusi," kata lulusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang (UM) itu.
Misi itu pula yang diemban oleh peserta audisi asal Kota Malang, Catherine Mag. Gadis 20 tahun itu berharap Miss Indonesia bisa menjadi wadah bagi dia untuk terus menyuarakan kesetaraan untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
Catherine menyampaikan, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia cukup banyak. Merujuk data Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI), jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,97 orang atau 8,1 persen dari total penduduk Indonesia.
Baca Juga: Audisi Miss Indonesia 2024 di Surabaya Kedatangan Peserta dari Luar Kota, Kalimantan hingga Papua
Ironisnya, belum banyak dari mereka yang mendapatkan fasilitas yang semestinya, terutama dalam bidang pendidikan.
"Umumnya mereka dimasukkan ke sekolah disabilitas. Dibikin grup sendiri. Harusnya malah digabung, seperti halnya sekolah inklusi," kata lulusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang (UM) itu.
Lihat Juga :