alexametrics

Pentingnya Pencegahan Penyakit Tidak Menular

loading...
Pentingnya Pencegahan Penyakit Tidak Menular
Pencegahan terhadap penyakit tidak menular menjadi hal yang penting, seperti kanker, jantung, dan diabetes. Foto/Istimewa.
A+ A-
JAKARTA - Young Health Programme (YHP) merupakan program investasi pada komunitas berskala global yang berfokus pada remaja dan pencegahan penyakit tidak menular (PTM) yang paling umum, seperti kanker, diabetes, jantung dan saluran pernapasan.

Program ini merupakan kerja sama antara PT AstraZeneca Indonesia dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), serta Yayasan Plan International Indonesia (YPII), di mana program ini dilaksanakan di tiga kota di Indonesia selama 2018-2020, yakni Jakarta, Bogor dan Mataram.

Sejalan dengan gerakan nasional yang diprakarsai oleh Kemenkes bersama dengan Kementerian Bappenas, yang dikenal sebagai Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), YHP bertujuan untuk mengurangi perilaku beresiko di antara remaja seperti merokok, konsumsi alkohol yang berbahaya, diet tidak sehat, dan kurangnya aktifitas fisik atau olahraga yang dapat menyebabkan PTM di kemudian hari.

"YHP mencerminkan komitmen kami terhadap layanan kesehatan secara berkesinambungan dan merupakan tindak lanjut atas Nota Kesepahaman dengan Kemenkes RI tahun lalu sebagai bagian dari kerangka kerja Healthy Lung. Kami percaya untuk meningkatkan kesehatan dari generasi selanjutnya, kami harus melindungi kesehatan remaja saat ini dan kami memiliki peran dalam mewujudkannya," kata Krishnanand Atreya selaku Presiden Direktur PT AstraZeneca Indonesia.



Menurut World Health Organization (WHO), PTM merupakan penyebab utama kematian di Indonesia. PTM menyebabkan 71% dari total kematian. Termasuk diantaranya penyakit jantung (37%), kanker (13%), penyakit pernapasan kronik (5%), diabetes (6%) dan penyakit tidak menular lainnya (10%). Berdasarkan data terakhir, Jakarta, Bogor dan Mataram menunjukkan tingginya persentase remaja di atas usia 10 tahun yang merokok sehari-hari yakni 23,2% di Jakarta, 27,1% di Jawa Barat, dan 26,8% di  Nusa Tenggara Barat.

“Oleh karena itu, penyakit tidak menular atau PTM, merupakan salah satu tantangan besar dalam pembangunan kesehatan sekarang dan di masa mendatang. Melihat kondisi tersebut diatas, peningkatan kesakitan dan kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia yang semakin meningkat, maka upaya yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan adalah melakukan upaya promotif, preventif, serta tidak meninggalkan upaya kuratif dan rehabilitatif," kata dr. Theresia Sandra Diah Ratih, MHA, Kepala Sub Direktorat Penyakit Paru Kronik dan Gangguan Imunologi, Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan.

"Selain peran pemerintah sebagai regulator tentu harus didukung oleh organisasi masyarakat, organisasi profesi, pihak swasta, institusi pendidikan dan organisasi peduli PTM untuk bersama-sama dalam upaya menurunkan kesakitan dan kematian akibat PTM, saling bahu membahu dalam mensukseskan GERMAS, untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, mendorong masyarakat mengubah perilaku yang tidak sehat serta membudayakan gaya hidup sehat," tambahnya.
 
Sejalan dengan tujuan pemerintah (Kemenkes) tersebut, YHP akan mewujudkan komitmennya terhadap kesehatan remaja melalui kebijakan dan penyediaan layanan. Program ini akan memberikan pelatihan dalam hal kepemimpinan dan advokasi bagi remaja guna menjamin upaya tersebut mencerminkan serta mewakili aspirasi mereka.

“Fokus utama program ini adalah pencegahan dan pengurangan akan penggunaan tembakau. Selain itu, kami juga akan berfokus pada penanganan akan konsumsi alkohol, kurangnya aktivitas fisik, diet tidak sehat, dan kesetaraan gender serta hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR). YHP bertujuan untuk menggalakkan hidup sehat bagi para remaja dengan memberikan mereka akses terhadap pengetahuan dan informasi untuk mendorong mereka mengambil pilihan yang sehat dan mengurangi resiko mereka terkena PTM pada masa dewasa,” ungkap Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia (YPII).

Sementara dipilihnya Jakarta Selatan, Kabupaten Bogor dan Mataram untuk mengimplementasikan program ini dijelaskan Fahmi Arizal selaku Project Manager YHP dari YPII karena pertimbangan akan tingginya penggunaan tembakau dan peningkatan resiko pada komunitas ini. Strategi holistik program ini mencakup pemberdayaan dan pembentukan program edukasi bagi teman sebaya di kalangan remaja.

"Para remaja cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman sebayanya. Tekanan dari teman sebaya dapat berdampak negatif dan mengarah pada perilaku yang berisiko, hal ini berlaku sebaliknya pula untuk perubahan yang positif. Melalui pelatihan ini, para remaja diharapkan menjadi agen perubahan. Strategi kedua adalah program pelatihan untuk masyarakat lokal seperti orang tua dan guru yang berperan penting dalam proses perkembangan remaja. Kami akan memberikan pelatihan bagi penyedia layanan kesehatan untuk memperkuat kualitas dan akses penyedia layanan kesehatan dengan membangkitkan semangat mereka dengan pengetahuan dan keterampilan tentang perilaku berisiko sehingga nantinya mereka dapat berbagi dengan para remaja," jelas Fahmi.

Dalam tiga tahun ke depan, YHP akan melibatkan 900 orang tua di 18 pusat PRR (Posyandu Ramah Remaja), 360 guru dan 750 pendidik sebaya dari 24 sekolah, yang mencakup 12 sekolah menengah pertama dan 12 sekolah menengah atas di Jakarta, Bogor, dan Mataram. Selain itu, YHP juga akan mendukung 195 tenaga kesehatan dari 18 Puskesmas yang tersebar di tiga kota tersebut.
(tdy)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak